Menilai Banyak Kejanggalan, Kuasa Hukum Akan Tuntut Balik Saksi

0

Pati, 5News.co.id – Kuasa hukum terdakwa menyatakan akan menuntut balik saksi yang menurutnya plin plan dan berbelit-belit dalam memberikan keterangan di hadapan hakim. Demikian pernyataan Dio Hermansyah SH, Kuasa Hukum Terdakwa Kunaryati, warga Desa Sekarjalak, Kec. Margoyoso-Pati saat dihubungi wartawan Rabu, (18/7) lalu.

“Pertama, saya melihat keterangan saksi berbelit-belit , tidak ada kesamaan antara satu dengan lainnya, dan tidak sesuai dgn BAP. Untuk diketahui saja, bahwa memberi keterangan palsu diancam dengan hukuman 7 thn penjara,” tegasnya.

Dio juga menyatakan, selaku kuasa hukum terdakwa, dalam waktu dekat pihaknya akan segara melaporkan tindakan perusakan pohon tanpa seizin pemiliknya yang dilakukan oleh pelapor Puji susanti (30 tahun) sesuai pengakuan nya sendiri didalam BAP.

“Kami sedang menyiapkan bukti-bukti terkait hal ini, karena tindakan pidana ini juga diancam dengan hukuman 2 tahun 8 bulan penjara,” katanya menerangkan.

Dio juga mengatakan bahwa melihat keterangan saksi yang tidak sesuai dengan BAP, bahkan saksi pelapor menyatakan tidak tahu tentang perusakan pohon yang menjadi pangkal timbulnya permasalahan yang dilaporkan, pihaknya mengindikasikan bahwa kasus ini berbau “setting” ditambah dengan keterangan yang selalu berubah ubah.

Dio mengungkapkan, dalam persidangan saksi pelapor Puji Susanti mengatakan bahwa dirinya melihat terdakwa memukul korban berkali-kali, namun dalam sidang, saksi korban Puji Listia Rini justru menyatakan bahwa terdakwa hanya menamparnya 2 kali , pertama tidak kena karena langsung menghindar dan kedua mengenai pipi kiri.
Menurutnya hal semacam ini menunjukan kejanggalan dari sebuah kasus.

Dio berharap majelis hakim jeli melihat kejanggalan dalam sidang pada hari Selasa (17/7) lalu dan menilai ketidak sesuaian keterangan para saksi.

Hal lain yang menurutnya janggal adalah dalam keterangan saksi pelapor Puji Susanti yang menyatakan bahwa korban sudah lama tidak bekerja dan menganggur dirumah, sementara dalam BAP tertulis bahwa akibat pemukulan, Puji Listia Rini saksi korban menyatakan bahwa dirinya tidak dapat bekerja sebagai penjahit selama satu minggu.

“Belum lagi hasil visum yang kami nilai masih simpang siur. Salah satunya ada sumber yang menyatakan bahwa visum dilakukan sendiri oleh pihak pelapor dan tidak didampingi oleh pihak kepolisian,” imbuhnya.

Dio menambahkan bahwa saat ini pihaknya sedang berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti dan akan mengungkapnya dalam persidangan untuk membebaskan kliennya dari seluruh dakwaan.

Sementara itu, putri sulung terdakwa Sukma Murti Eka Cipta S. menyatakan hal senada, menurutnya diantara ‘kejanggalan’ yang muncul dalam proses hukum atas ibunya itu adalah munculnya seorang saksi tambahan 1 orang dalam persidangan Selasa lalu, yang sebelumnya tidak ada dan dalam keterangan salah satu penyidik kepolisian bahwa hanya ada 3 orang saksi.

“Saksi berusia 12 tahun, yang notabene masih dibawah umur dihadirkan tanpa pendampingan unit PPA ataupun Dinas Sosial, hanya di dampingi ibunya yang juga menantu dari Sdr bambang (salah satu saksi), namun dalam BAP, saksi berinisial S ini tidak ada. Saya hanya kasihan jaminan psikologis anak ini, kalau tertekan karena pucat wajahnya seusai memberi keterangan” ujarnya.

Belum lagi saksi anak yang disebut sebagai saksi fakta dari pelapor pada saat persidangan memberikan keterangan bahwa terdakwa menarik dan menjambak rambut korban. Sementara saksi korban menyatakan bahwa terdakwa hanya menarik kerah baju hingga dirinya terlempar keluar dari jendela dengan ketinggian kurang lebih satu setengah meter.

“Jelas ini sangat berbeda dan tidak sinkron dalam memberikan keterangan antara keduanya,” tambah Sukma.

Sukma menyatakan bahwa dalam sidang itu, semua orang yang hadir terutama majelis hakim sudah pasti dapat menilai bahwa keterangan yang disampaikan saksi-saksi, baik saksi korban, saksi pelapor dan yang lain tidak sinkron, blunder antara saksi yang satu dengan saksi yang lainnya.

“Intinya saya nilai cenderung berbelit-belit dan tidak sesuai dengan berkas acara pemeriksaan (BAP),” kata Sukma menandaskan.

Sebelumnya diberitakan bahwa Kunaryati, (47) yang akrab dengan panggilan Uun, warga RT 03 RW 01 Desa Sekarjalak Kecamatan Margoyoso Pati, dilaporkan oleh tetangganya Puji Susanti atas tuduhan penganiayaan yang dilakukan Kunaryati kepada adiknya Puji Listia Rini.(hsn)

Komentar