Intinya Adalah Saling Menggembirakan

0
Gambar ilustrasi. (Foto: Istimewa)

5NEWS.CO.ID,- Sesungguhnya hal inilah memang yang seharusnya terjadi antara sesama umat dengan tanpa memandang sekat-sekat apapun. Perbanyak silaturrahmi antar sesama dengan cara apapun akan mendatangkan banyak sekali manfaat. Tentu saja sebuah silaturrahmi di dalamnya berisikan hal-hal yang menggembirakan.

Apapun yang kita inginkan dari silaturrahmi yang demikian ini, maka akan didapatlah hal itu. Apalagi jika yang kita inginkan hanyalah untuk mendapatkan limpahan rizki dari Sang Pencipta sebagaimana janji-Nya bahwa silaturrahmi akan meluaskan rizki bagi para pelakunya. Ingatlah, Dia jauh lebih kaya dari apa yang kita bayangkan.

“……… Dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”[1]

Dan Dia Maha Menepati Janji, maka apa yang telah Dia janjikan bagi para pemelihara tali silaturrahmi sudah tentu akan terwujud.

“……… dan janji Tuhanku itu adalah benar”.[2]

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan:

“Maka Bersabarlah kamu, Karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”[3]

Dan masih banyak lagi firman-firman-Nya yang sejalan dengan ayat tersebut di atas. Intinya adalah, bahwa tidak diperlukan lagi keraguan dalam diri kita akan apa-apa yang telah dijanjikan Sang Pemilik Kehidupan.

Tatkala di saat tertentu seseorang menanyakan: Manakah janji-Nya itu? Dan pertanyaan ini muncul disebabkan merasa telah melakukan apa yang dikehendaki Allah dengan harapan mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya itu, namun pada kenyataannya dia telah menunggu-nunggu janji-Nya yang ternyata tidak pula kunjung datang. Barangkali diantara kita pun pernah pula mengalami keadaan yang seperti ini.

Dalam hal ini, pertama-tama kita harus ingat bahwa Sang Pencipta telah membekali kita dengan akal yang fungsinya begitu dahsyat bagi yang mempergunakannya. Maka sudah seharusnya kita jeli dengan akal kita untuk membaca keadaan apapun di sekitar kita, hingga kita akan mampu melihat dengan jelas wujud rizki maupun jalan menuju tercapainya apa yang kita ingini itu, dimana hal itu sesungguhnya telah Allah tunjukkan dan telah Allah siapkan untuk kita sendiri. Inilah sesungguhnya persoalannya. Terkadang kita tidak menyadari jika apa yang ada di hadapan kita itu sesungguhnya apa yang telah Allah persiapkan sebagai rizki atau jalan menuju apa yang kita inginkan.

Kita mungkin ingat sebuah cerita tentang seseorang yang berdoa memohon pertolongan Allah namun sekaligus dia menolak pertolongan Allah. Sekedar untuk mengingat lagi, perhatikan analogi sederhana berikut:

Di sebuah kota terjadilah banjir yang cukup besar. Pada awalnya banjir itu hanya setinggi mata kaki hingga belum masuk ke rumah sebagian penduduk kota tersebut.

Di salah satu rumah seseorang duduk di atas kursi sambil berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tolonglah hambamu ini dari banjir yang mungkin akan menenggelamkan hamba.”

Ketika itu datanglah tetangganya dan berteriak kearah orang tadi, “Cepatlah kemasi barangmu dan tinggalkan rumah ini. Banjir akan semakin besar.”

Tetapi orang tadi diam saja dan terus berdoa kepada Tuhannya. Maka ditinggalkanlah orang tadi oleh tetangganya. Sampai beberapa saat kemudian banjir mulai meninggi di atas lutut. Bisa dibayangkan, tentu banjir yang terjadi di jalanan lebih tinggi lagi karena rumah orang itu termasuk lebih tinggi dari jalan.

Melihat banjir semakin tinggi ini orang itu pun berpindah duduknya ke atas meja sambil terus memanjatkan doa kepada Tuhannya.

Tidak berapa lama datanglah perahu karet kecil dengan dua orang di atasnya. Rupanya orang-orang yang ada di perahu karet melihat orang tadi dari luar, maka berteriaklah mereka ke arah orang yang sudah duduk di atas meja dan kelihatan sedang berdoa. Namun lagi-lagi orang itu tidak mengindahkan teriakan orang-orang yang ada di perahu karet dan terlihat terus memanjatkan doa, maka ditinggalkanlah orang itu.

Beberapa saat kemudian banjir pun semakin tinggi sampai hampir merendam rumah orang itu. Sehingga memaksa orang yang sedang berdoa tadi berpindah ke atap rumah. Seperti yang dia lakukan tadi, di atap rumah pun orang itu terus memanjatkan doa kepada Tuhannya agar diberinya pertolongan. Tak berapa lama datanglah helikopter penolong yang berteriak ke arahnya dengan pengeras suara agar orang itu menangkap tali yang dilemparkan ke arahnya.

Namun kembali orang itu tidak mengindahkannya sambil terus memanjatkan doa kepada Tuhannya. Berkali-kali orang yang ada di helicopter itu berteriak kea rah orang itu, namun tetap saja dia tidak bergeming. Maka ditinggalkanlah orang itu di atas atap. Sampai kemudian banjir semakin besar dan tenggelamlah orang itu hingga dia tidak bisa lagi berdoa karena nyawanya telah melayang.

Di akherat orang itupun menuntut kepada Tuhannya akan doa yang dia panjatkan. Orang itu berkata kepada Tuhannya, “Wahai Rabb semesta alam, mengapakah Engkau tidak mengabulkan doaku padahal Engkau telah berjanji bahwa Engkau pasti mengabulkan doa yang dipanjatkan kepada-Mu?”

“Wahai fulan, kamulah yang telah menolak pertolongku. Kamulah yang telah menolak jawaban doa yang kamu panjatkan kepada-Ku. Telah Aku datangkan tetanggamu, perahu karet, dan helikopter untuk menyelamatkanmu, tetapi kamu justru menolak semua itu.”

Renungkanlah cerita tersebut di atas. Seringkali justru kita sendiri yang tidak mau menyadari bahwa Allah telah berikan kepada kita sebuah jalan atas persoalan yang kita hadapi. Justru dalam keadaan itu tanpa sadar apa yang kita lakukan adalah menolak langsung pertolongan yang Allah berikan. Ironisnya, apa yang kita lakukan kemudian menuntut kepada Allah akan janji-janji-Nya disebabkan kita merasa apa yang telah kita lakukan tidak membuat kita memperoleh apa yang kita harapkan.

Sama sekali bukanlah seharusnya demikian sebagai seorang yang besar pengharapannya kepada pertolongan Allah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa membebaskan keadaan diri dari hal-hal negatif adalah salah satu cara memunculkan kreatifitas berpikir pada setiap orang. Dan jalan ke arah itu dapat diperoleh dengan cara melakukan silaturrahmi, dimana ada keadaan saling menggembirakan di dalamnya. Maka inilah yang seharusnya kita lakukan. Inilah jalan kita agar lebih bisa menikmati hidup dan kemudian menjadikan hidup lebih bermanfaat baik bagi diri maupun orang lain.

Sejalan dengan hal ini, mungkin sebagian kita juga ingat sebuah ungkapan indah dari Imam Ali bin Abi Thalib, yang intinya adalah bahwa ketika kita meminta segala sesuatu dari Allah untuk bisa menikmati kehidupan ini, sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kita kehidupan ini agar kita bisa menikmati segala sesuatu. Jadi, fokuslah kita pada kehidupan ini hingga kita bisa memanfaatkannya untuk menikmati segala sesuatu, bukan kita terbelenggu kepada segala sesuatu yang ingin kita nikmati sampai kita lupa bahwa kita telah memiliki faktor penting untuk menikmati segala sesuatu itu.

Dengan kata lain, dengan terlebih dahulu menikmati kehidupan yang telah Allah berikan kepada kita adalah cara awal bagi setiap diri kita untuk menikmati segala sesuatu yang telah Allah sediakan di dalam kehidupan ini. Itulah mengapa mensyukuri nikmat tertinggi ini menjadi hal terpenting dalam kehidupan kita. Dengan mensyukuri nikmat ini maka akan mendatangilah apa-apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita. Demikian inilah apa yang dijanjikan Allah SWT.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Di sisi lain, bahwa selalu menjadikan rasa syukur sebagai hal utama yang kita lakukan, sesungguhnya akan pula menjadi faktor utama bagi kita untuk mendapatkan apa-apa yang kita inginkan dari silaturrahmi yang kita lakukan. Kita lihat saja pada orang-orang yang selalu bersyukur, sudah tentu akan kita dapatkan ketenangan dan kegembiraan terpancar dari wajahnya. Dan kita tahu, dari keadaan inilah maka akan dia dapatkan kegembiraan-kegembiraan lain yang sudah tentu akan menjadikan kehidupannya lebih baik.

Bayangkanlah, seseorang yang dipenuhi rasa syukur hingga kegembiraan terpancar dari wajahnya kemudian dia pergi mengunjungi saudaranya, bukankah dari keadaannya tersebut akan menular kepada saudara yang dikunjunginya? Maka ikutlah saudaranya ke dalam arus kegembiraan yang kita bawa. Telah kita gembirakan saudara kita, maka secara alamiah akan semakin gembiralah diri kita, hingga tunggulah di tahapan selanjutnya dimana rizki yang banyak akan mendatangi kita, baik dari asal yang terduga maupun dari asal yang tak terduga. (Dhiya El Malik)


[1] QS. Al Baqarah ayat 267.

[2] QS. AL Kahfi ayat 98.

[3] QS. Al Mu’min ayat 55.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here