Amerika Serikat di Balik Virus Corona? Ini Analisanya

0
Peneliti di Fort Detrick (Shutterstock)

Penulis: Umar Husain

Wabah Covid-19 atau virus corona menjadi horor bagi seluruh negara di dunia baru-baru ini. Wabah ini menginfeksi lebih dari 90.000 orang dan membuat sekitar 3.000 nyawa melayang. Belakangan, rumor mulai bermunculan bahwa Covid-19 bukan virus alami, namun virus yang dikembangkan di laboratorium.

Sebuah teori menarik membingkai wabah Covid-19 di Cina dan menganalogikannya dengan ‘Perangkap Thucidides’ yang membuat Sparta berhasil mengalahkan Athena. Kemenangan itu diraih setelah Spartan meracuni sumur yang berakibat meluasnya wabah dan membuat Athena lumpuh.

Meski Cina menduduki peringkat pertama penyebaran serta jumlah korban, sejauh ini belum ada pernyataan resmi pemerintah Cina yang mengaitkan wabah Corona dengan serangan biologis. Ahli virologi berpendapat virus itu berasal dari hewan liar yang dikonsumsi manusia. Selain itu tidak ada bukti yang menunjukkan rekayasa militer dalam pandemi Covid-19.

Sebuah ‘serangan biologis’ memiliki ciri khusus, seperti motif, kemampuan, kesempatan dan mentalitas pelakunya. Wabah Wuhan mencurigakan karena terjadi tepat sebelum Tahun Baru Imlek, yang dirayakan besar-besaran di Cina, negara yang oleh Amerika Serikat (AS) dianggap sebagai ‘musuh’ dan dengan segala cara AS berupaya untuk menghentikan laju ekonominya. Berikut 7 poin yang menjadi pertimbangan:

  • Motif

Amerika Serikat memiliki motif yang sangat baik untuk menebarkan epidemi di Tiongkok. Jelas bagi semua orang apa yang sudah AS lakukan untuk menghalangi pertumbuhan ekonomi Cina.

  • Kemampuan

Amerika Serikat memiliki seluruh kemampuan untuk melakukannya. AS memiliki banyak laboratorium di mana senjata biologis dikembangkan.

  • Kesempatan

Penyebaran epidemi tepat sebelum Tahun Baru Imlek, ketika jutaan warga Cina bepergian ke seluruh negeri untuk mengunjungi keluarga mereka.

  • Peluang

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok tak terhentikan, meskipun perang dagang dengan AS. Wabah Wuhan akan mengindikasikan adanya laboratorium yang mengembangkan senjata biologi di Cina. Hal ini bukan hanya akan mengalihkan perhatian dunia dari si pelaku, namun juga akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemerintahan Tiongkok. Serangan biologis adalah cara paling sederhana, paling efektif dan paling aman untuk menggagalkan Jalan Sutra Baru China, tanpa memberinya kesempatan untuk bangkit. Sebuah strategi halus untuk mengisolasi lawan.

  • Catatan

Beberapa bulan sebelumnya di Cina ada wabah flu babi Afrika cukup parah yang membuat lebih dari 300 juta babi mati mendadak. Bagi Cina, wabah ini memberi dampak kerusakan ekonomi yang cukup besar, sebanding dengan perang. Flu babi Afrika dikenal sebagai senjata biologis yang cukup efisien, seperti yang terjadi di Kuba pada tahun 1970-an dan di Rusia pada 2010 lalu. Rusia menuding Amerika Serikat berada di balik wabah ini, namun tidak ada bukti kuat.

Pada tahun 2002 Amerika Serikat memulai perang dagang melawan Cina. Lalu pada 2003 terjadi wabah SARS. Di tahun 2018 Amerika Serikat memulai perang dagang melawan Cina, dan pada tahun 2019 terjadilah wabah di Wuhan.

  • Sifat Kejadian

Virus yang dimaksud, berpotensi, merupakan senjata biologis yang sangat baik, tidak diketahui, mudah ditularkan, tanpa gejala pada hari-hari pertama. Fakta bahwa itu tidak terlalu mematikan tidak masalah: senjata biologis lebih bermanfaat dan efektif sebagai senjata ekonomi selain sebagai senjata pemusnah massal.

  • Mentalitas Tersangka

Apakah AS memiliki mentalitas pelaku serangan biologis ? Bulan Agusutus 2019 lalu, sebuah artikel di Independent UK menyebutkan, “Meskipun Amerika Serikat secara resmi meninggalkan program senjata biologisnya pada tahun 1969, Fort Detrick telah melanjutkan penelitian ‘defensif’ terhadap patogen mematikan pada daftar “agen terpilih”, termasuk virus Ebola, organisme yang menyebabkan wabah , dan risin racun yang sangat beracun.”.

“Lembaga Penelitian Medis Penyakit Menular Angkatan Darat, yang berbasis di Fort Detrick, mengatakan misi utamanya hari ini adalah untuk “melindungi para pejuang dari ancaman biologis” tetapi para ilmuwannya juga menyelidiki wabah penyakit di antara warga sipil dan ancaman lain terhadap kesehatan masyarakat.”.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini telah terlibat dalam pengujian kemungkinan vaksin untuk Ebola, setelah beberapa epidemi virus mematikan di Afrika.” Demikian bunyi artikel diterbitkan Independent UK pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2019.

Pencuri ulung sering menyulitkan polisi karena tak meninggalkan jejak. Namun, identitas pencuri itu terungkap setelah polisi menemukan pola kejahatannya yang tergambar dengan jelas.(hsn)

Referensi:

  • Grunow, Finke (German Armed Forces Medical Academy, Department of Studies and Sciences, Institute of Microbiology, Munich, Germany), A procedure for differentiating between the intentional release of biological warfare agents and natural outbreaks of disease: its use in analyzing the tularemia outbreak in Kosovo in 1999 and 2000, Clinical Microbiology and Infection vol. 8, 8, 510-521 (2002).
  • Maj Noah, LTC Sobel, Biological Warfare Training: Infectious Disease Outbreak Differentiation Criteria, Military Medicine vol. 163, 4, 198-201 (1998).

Tinggalkan Balasan