Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Memerdekakan Diri dari Penjajahan Nafsu

Anis Sholeh Ba’asyin dan Sampak GusUran dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Peradaban Api’ yang digelar Sabtu (15/4) kemarin. (Foto: ist/5News)

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Peradaban modern adalah peradaban yang dicirikan oleh keserakahan. Demikian Anis Sholeh Ba’asyin membuka Ngaji NgAllah Suluk Maleman dengan mengutip Joseph E. Stiglizt, pemenang Nobel 2001 untuk bidang ekonomi.

“Keserakahan adalah bentuk pelampiasan nafsu. Dari sudut ini, peradaban modern bisa disebut sebagai peradaban yang memosisikan nafsu sebagai pengendali dan panglimanya. Padahal nafsu hanya satu unsur dari diri manusia. Unsur yang seharusnya dikendalikan, bukan mengendalikan,” jelas Anis pada forum yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Sabtu (15/4) malam.

Ketika nafsu yang secara simbolik digambarkan sebagai unsur api dijadikan panglima; maka kebakaran, penghangusan terjadi dimana-mana.

Secara kasat mata kita bisa melihat dan merasakan bahwa semakin kesini peradaban ini semakin memperlihatkan daya rusaknya yang luar biasa, bukan hanya pada alam dan mahluk yang hidup di dalamnya, tapi juga pada kehidupan manusia dan kebudayaannya.

Api adalah unsur yang secara hakiki rendah, maka ia butuh ditinggikan. Dalam kaitan ini, kita lihat betapa peradaban modern acap menganggap tinggi dan mulia hal-hal yang sejatinya rendah.

Obsesi dan pemujaan yang luar biasa pada segala yang bersifat materi dan jasadi adalah salah satu contohnya.

Sementara dalam laku manusia, itu tercermin antara lain dalam kesombongan dan sikap tinggi hati. Laku-laku semacam ini bisa dipastikan lahir dari akar kerendahan, sehingga butuh bukti untuk menunjukkan ketinggian posisinya.

Laku-laku semacam ini bisa dipastikan lahir dari akar kerendahan, sehingga butuh bukti untuk menunjukkan ketinggian posisinya
Di sisi lain, karena hidup dalam peradaban yang dipanglimai nafsu, cara pandang manusia dalam melihat kenyataan pun acap kali ikut terbalik-balik.

“Kadang kyai kampung yang hanya mengajar mengaji anak-anak dianggap rendah; sementara yang kaya, berkuasa, populer, dimuliakan karena dianggap sebagai lambang posisi yang tinggi. Tentu dalam kasus semacam ini kita harus bertanya, yang melihat dan menentukan ukuran rendah dan mulia itu siapa? Jangan-jangan api di dalam dirilah yang menjadi pengukurnya. Kita melihat dengan orientasi yang sama dengan unsur utama pembentuk kenyataan yang kita lihat, yakni nafsu,” satirenya.

“Ini kan aneh. Manusia yang secara hakiki diciptakan sebagai sebaik-baik ciptaan, dalam ketinggian derajat, justru mengagung-agungkan segala sesuatu yang berasal dari kerendahan tempatnya diturunkan,” sindir Anis.

Menurut Anis, sebagai mahluk yang asalnya tinggi, maka manusia seharusnya tidak mengandalkan api, tapi meniru air. Karena air sumber asalnya selalu ada di ketinggian yakni di pegunungan. Dan air selalu turun ke tempat yang paling rendah yang bisa ditemukan.

Air memberi kita pelajaran bahwa sesuatu yang asalnya tinggi, justru akan selalu memosisikan diri di tempat rendah. Selalu berupaya merendah.

“Bahkan dalam salah satu ayat Al Qur’an, disebut bahwa Arsy atau ‘singgasana’ Allah pun diletakkan di atas air. Tentu saja ini lambang sekaligus pelajaran yang menarik bagi manusia; karena Allah sendiri yang tak ada yang lebih tinggi dan mulia dari Dia, justru menggambarkan Arsy-Nya berada di atas air; unsur alam yang selalu memosikan dirinya untuk mencari tempat paling rendah,” terangnya.

Tentu saja unsur api bukanlah sesuatu yang sia-sia dan tak berguna. Seharusnya api menjadi alat yang dikelola dan dikendalikan manusia. Salah satunya yang paling efektif adalah lewat berpuasa.

“Dalam salah satu hadits, disebutkan adanya tahap itsqun minan nar (merdeka dari api) saat kita berpuasa di bulan Ramadan. Meski hadits ini dianggap dhoif, namun karena hakikiat puasa adalah pengendalian nafsu, maka tahap merdeka dari api adalah tahap yang seharusnya dicapai oleh mereka yang berpuasa,” jelas Anis.

Dengan mengendalikan nafsu maka manusia tidak akan menyebabkan kerusakan di muka bumi, apalagi bagi dirinya sendiri.

“Namun kalau nafsu terus mendominasi, maka kita akan selalu gagal sebagai manusia. Kita hanya akan menebar api pada diri sendiri dan keluarga, dan pada gilirannya pada masyarakat yang lebih luas bila memaksakan diri menjadi pemimpin,” imbuhnya.

Pembahasan tema yang dipilih Suluk Maleman kali ini memang terasa pas dengan suasana Ramadan.

Banyak yang tertarik mengikutinya secara langsung mau pun lewat siaran langsung di kanal Suluk Maleman Offcial Channel Youtube.

Apalagi malam itu Sampak GusUran sekaligus meluncurkan lagu terbarunya berjudul Suluk DukaCinta.