Disdikbud Pati Mengaku Tidak Tahu Budaya Perayaan Meron Diakui sebagai WBTB 2017

Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Revita Puspita Hadi saat ditemui di kantornya belum lama ini. (Foto: Ist)

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Perayaan Meron merupakan salah satu budaya sebagaimana wujud rasa syukur yang diungkapkan oleh masyarakat Desa/Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati dalam rangka menyambut kelahiran nabi Muhammad SAW tiap tahunnya.

Perayaan yang dilakukan dengan bentuk arak-arakan selama dua hari ini telah diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2017 silam. Anehnya, pengakuan sebagai WBTB saat itu tidak diketahui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati.

Hal ini diungkapkan oleh Pamong Budaya Disdikbud Pati, Revita Puspita Hadi saat dikonfirmasi. Dia mengatakan pengusulan Meron sebagai WBTB dilakukan sendiri oleh masyarakat setempat tanpa sepengetahuan pihaknya.

“Meron sudah disahkan menjadi warisan budaya secara nasional pada 2017, karena yang melatarbelakangi adalah arak-arakan. Mereka mengusulkan sendiri langsung ke Dirjen Kebudayaan. Kita malah tidak tahu,” kata Revita saat dikonfirmasi, Senin (19/12/22).

Ketidaktahuan terhadap budaya yang telah lama dilakoni penduduk lokal ini seakan menggambarkan dinas kurangnya perhatian dan ketidakpedulian terhadap warisan budaya. Usai itu, Revita menerangkan bahwa pihaknya mulai menggali potensi warisan budaya yang ada di Pati.

Kemudian diusulkanlah Wayang Topeng dari Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso dan Batik Bakaran dari Juwana pada 2021.

“Kita pernah mengusulkan di tahun 2019 tetapi tidak lolos, terus kita usulkan lagi lolos tahun 2021. Saat penyerahan kita diminta untuk menampilkan di provinsi,” tuturnya.

Untuk saat ini ada 3 WBTB yang dimiliki oleh Kabupaten Pati. Selanjutnya, ketika disinggung agar dapat diakui oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) sebagai lembaga pendidikan dunia, dia ragu untuk mengiyakan. Menurutnya yang penting telah mendapatkan pengakuan dari negara.

“Bisa saja (ketiganya) untuk diakui UNESCO, kan ini sudah diakui nasional meskipun sulit untuk diakui secara internasional,” tutupnya. (hus)