Masyarakat Desak Polri Periksa Ustad Tengku Zulkarnain

0
7

Jakarta, 5News.co.id,- Masyarakat mendesak Polri dan Bawaslu agar segera memanggil dan memeriksa Wasekjen MUI Ustad Tengku Zulkarnain terkait kasus hoaks surat suara tercoblos. Beberapa elemen masyarakat, termasuk lembaga KPU dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah melaporkan kasus itu ke Bareskrim Polri, Kamis (3/1) lalu.

Sebuah cuitan yang ditulis Tengku Zulkarnain memicu kehebohan di media sosial. Terlebih lagi, cuitan itu kemudian dipastikan sebagai tidak benar alias hoaks. Tindakan Tengku Zulkarnain tersebut dinilai sebagai tindakan meresahkan masyarakat karena telah menyebarkan kabar yang belum diverifikasi, dan kemudian diketahui sebagai kabar bohong.

“7 kontainer surat suara pemilu yang didatangkan dari Cina sudah tercoblos untuk pasangan nomor 01 (Kompas TV). Nampaknya pemilu sudah dirancang untuk curang …?

Kalau NGEBET banget apa tidak sebaiknya buat surat permohonan agar Capres yang lain mengundurkan diri saja? Siapa tahu mau,” tulis Tengku pada akun Twitter pribadinya @ustadtengkuzul.

Beberapa saat kemudian, cuitan Wakasekjen MUI itu tak ditemukan lagi. Warganet menduga, twit tersebut telah dihapus.

1. Klarifikasi Kompas TV

Menanggapi cuitan Ustad Tengku Zulkarnain yang menyebutkan (Kompas TV) sebagai sumber informasi, Kompas TV menyatakan apa yang disampaikan tersebut tidak benar. Kompas TV tidak pernah menayangkan informasi itu.

Melalui akun Twitter-nya pada Kamis (3/1/2019), @KompasTV mengklarifkasi kabar yang beredar luas di media sosial terkait informasi tujuh kontainer surat suara dari China yang sudah tercoblos untuk pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Sebaliknya, Kompas TV justru memberitakan saat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan pengecekan secara langsung di Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara.

2. Elemen Masyarakat Desak Polri dan Bawaslu

“Hoaks itu jelas teror untuk mendelegitimasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pemerintah dalam pemilu 2019. Jadi, seharusnya Bawaslu dan Bareskrim Polri memeriksa Andi Arief dan pihak lain yang diduga terlibat,” kata Sekjen DPP Barisan Kader Gus Dur (BGD) Pasangharo Rajagukguk, Jumat (4/1), seperti dikutip dari SBSINews.com.

Menurut Pasangharo, dalam akun Twitternya, Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain telah menuliskan adanya kabar tersebut. Selain itu tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, Tengku sudah menilai bahwa 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos itu sebagai bentuk kecurangan yang dilakukan oleh Capres – Cawapres Joko Widodo atau Jokowi – Maruf Amin.

“Itu sudah jelas menyebutkan jumlah kontainer dan jumlah suara yang tercoblos. Kan jelas informasi yang bisa meresahkan masyarakat,” kata Wakil Ketua KKGB (Konsorsium Kader Gus Dur) itu.

Beberapa elemen masyarakat termasuk KPU dan Kemendagri telah melaporkan kasus itu ke Bareskrim Polri, pada Kamis (3/1/2019) lalu.

Bareskrim Polri akan menjerat dengan UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum, Pasal 517 Penyebaran Berita Hoaks Undang-Undang No 1 Tahun 1946 tentang KUHP, dan Pasal 14 junto Pasal 15, Pencemaran Nama Baik Melalui Media Elektronik Undang-Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 27 Ayat 3 junto Pasal 45 Ayat 3.

3. Jokowi Mania (Jo-Man) Laporkan Tengku Zulkarnain ke Bareskrim Polri

“Artinya ketahuan sekali itu berita hoax. Ini narasi mengerikan, ini berita terbohong di republik ini. Mereka mencoba mendeligitimasi pemilu yang akan berlangsung hari ini. Ini bahaya,” ujar Ketua Jo-Man Immanuel Ebenezer kepada wartawan setelah melapor di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (4/1).

Laporan sudah diterima Bareskrim dengan nomor LP/B/0019/I/2019/BARESKRIM. Zulkarnain dilaporkan atas Pasal 14 ayat (1) (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1945.

4. Tanggapan Wasekjen MUI Ustad Tengku Zulkarnain

Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain menyatakan siap memenuhi panggilan polisi jika laporan Jokowi Mania diproses.

“Nggak apa-apa, saya hadapi saja. Saya heran saja, kalau kita yang melapor, kok mereka-mereka nggak diproses. Ade Armando, Abu Janda, dilaporkan kok nggak diproses. Kok kita cepat banget,” ujar Zulkarnain kepada wartawan, Jumat (4/1).

“Saya kan cuma mencuit 2 menit, nanti kan polisi melihat jejak digitalnya. Kan mereka bisa melihat. Kenapa saya hapus? Karena ada murid saya yang bilang, ‘Jangan Ustad’. Setelah saya hapus, mereka screenshot dan disebarkan. Sekarang yang menyebarkan saya atau mereka? Kalau mereka nggak sebarkan, nggak ada yang tahu. Yang baca cuma 3 sampai 4 orang,” kata dia.

“Kok tiba-tiba seolah-olah saya menyebarkan ke seluruh dunia. Yang menyebarkan mereka. Makanya saya akan jelaskan ke polisi. Bagus ini. Saya menunggu panggilan polisi. Cuma mengganggu jadwal saya saja. Saya sibuk, kalau dipanggil saya terganggu,” tambahnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan