ABI Gresik: Acara Muslim Syiah Diganggu Kelompok Intoleran, Bukan Warga Sekitar

0
58
acara muslim syiah di gresik diganggu massa intoleran

Gresik, 5NEWS.CO.ID,- Ormas syiah Ahlul Bait Indonesia (ABI) menyebut pengganggu acara peringatan Ghadir Khum oleh muslim syiah adalah kelompok intoleran. ABI Gresik juga menegaskan bahwa warga yang datang dan mencoba mengganggu acara keagamaan tersebut bukan warga sekitar Desa Pulopancikan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) ABI Gresik, Ali Haidar Assegaf mengatakan, mulsim syi’ah di Gresik, Jawa Timur sudah ada sejak dahulu meskipun dalam jumlah kecil. Selama ini, muslim syiah melakukan kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad Saw, pembacaan doa Kumail disertai tahlil pada malam jum’at, peringatan Milad (hari kelahiran) Fatimah Az-Zahra as, Iedul Ghadier dan lain-lain.

“Banyak kesimpangsiuran berita, yang tidak seimbang dan provokatif, baik di Whatsapp Group (WAG) juga media massa seperti berita radar_gresik di laman Instagramnya dan beritajatim.com. Misalnya bahwa komunitas pulopancikan keberatan dengan acara itu, padahal yang demo dan teriak-teriak mayoritas bukan warga sekitar,” kata Ali dalam pernyataan pers nya yang diterima 5NEWS.CO.ID, Kamis (29/8/2019).

Dia mengungkapkan, saat massa pengganggu mendatangi lokasi, acara sebenarnya memang sudah selesai. Habib Ali menceritakan, masa pengganggu berkumpul di depan rumah tempat acara dilaksanakan pada sekitar pukul 15.00 WIB. Sementara kegiatan tersebut sudah berlangsung cukup lama sebelumnya.

Habib Ali juga menyayangkan gangguan dari masa intoleran atas acara yang digelar bagi kalangan internal tersebut. Ia menyebut, seorang oknum dari masa pengganggu tersebut malah menyebut ingin berjihad ke Suriah namun tak memiliki uang untuk berangkat ke sana.

“Ada oknum masa pengganggu yang bilang kepada kami ingin berjihad ke Suriah namun tak punya uang,” ujar dia.

Di lain pihak, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ABI Jawa Timur juga merilis klarifikasi terkait pemberitaan miring terkait gangguan acara Al-Ghadir di Gresik. Dalam pernyataan tertulisnya, ABI Jatim menyesalkan adanya aksi-aksi intoleran, sewenang-wenang dan tak bermoral yang mengganggu kebebasan dan hak menjalankan kegiatan keagamaan.

ABI Jatim juga mengapresiasi kesigapan aparat kepolisian dan pemerintah daerah Kab. Gresik dalam menangani para pengganggu hingga bentrokan fisik dapat dihindarkan. Selain itu, ABI Jatim berharap pihak kepolisian dan pemerintah daerah Kab Gresik lebih mewaspadai gerakan kelompok-kelompok intoleran agar tidak terjadi aksi-aksi brutal baik kepada komunitas muslim Syiah maupun komunitas lain di masyarakat.

Berikut versi lengkap pernyataan sikap DPW ABI Jawa Timur:

Pernyataan Sikap DPW Abi Jatim

1. Menyesalkan masih adanya aksi-aksi intoleran, sewenang-wenang dan tak bermoral yang mengganggu kebebasan dan hak menjalankan kegiatan keagamaan.

2. Mengapresiasi kesigapan kepolisian dalam menangani para perusuh sehingga tidak terjadi bentrokan fisik. Apresiasi yang sama juga kami sampaikan kepada pemerintah daerah Kab Gresik beserta jajarannya yang sangat melindungi hak-hak komunitas muslim Syiah dalam melakukan kegiatan keagamaan di Gresik.

3. Mengharap pihak kepolisian dan pemerintah daerah Kab Gresik agar mewaspadai pergerakan kelompok-kelompok intoleran agar tidak terjadi aksi-aksi brutal baik kepada komunitas muslim Syiah maupun komunitas lain di masyarakat.

4. Mengajak masyarakat Gresik secara khusus dan masyarakat Jawa Timur pada umumnya agar mengedepankan toleransi dan kerukunan dalam menjaga keutuhan dan persatuan sesama anak bangsa dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.

5. Aksi-aksi intoleransi tersebut bila dibiarkan, maka tentu akan mencederai dan merusak keutuhan serta persatuan anak bangsa yang memang majemuk dan beraneka ragam.

6. Aksi-aksi intoleransi juga secara langsung menyasar serta mengabaikan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi dan dasar negara yang menjamin hak semua anak bangsa dalam menjalankan keyakinan serta ritual keagamaan masing-masing.

7. Kami berharap pemerintah daerah Gresik mampu membangun semangat dialog intra umat islam atau antar umat beragama agar terbangun kesepahaman dan toleransi.

Sebelumnya, tersebar berita miring terkait acara Al-Ghadir yang diselenggarakan DPD ABI di Jalan KH Zubair Gang 1/17 Gresik. Dikutip dari beritajatim.com, Habib Muhammad Assegaf (33) menuturkan, warga merasa keberatan dengan adanya kegiatan sekelompok muslim yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam. Habib Muhammad Assegaf juga menuduh warga sekitar diberi uang agar ikut pengajian yang digelar muslim syiah tersebut.(hsn)

Tinggalkan Balasan