Pranoto Mongso: Cara Bangsa Indonesia Membaca Perubahan Iklim Sejak Ratusan Tahun Lalu

0
Pranoto Mongso: Cara Bangsa Indonesia Membaca Perubahan Iklim Sejak Ratusan Tahun Lalu
Anis Sholeh Ba’asyin saat berbicara di Suluk Maleman edisi ke-119, Sabtu (20/11/2021) malam, Pati, Jawa Tengah. Foto Istimewa

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Pembahasan isu perubahan iklim (climate change) menjadi topik diskusi Suluk Maleman edisi ke-119, Sabtu (20/11/2021) kemarin. Narasumber menyebut bangsa Indonesia telah mengenal pranoto mongso (perubahan iklim) sejak ratusan tahun yang lalu. Metode tradisional warisan budaya timur ini diyakini tak kalah efektif dengan cara modern.

Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan bangsa Indonesia tidak kalah dengan pengetahuan modern yang digagas oleh barat dan penting untuk digali sebagai jati diri bangsa ini.

Pranoto Mongso

Muhammad Ghofur, peneliti nutrisi dan iklim menyebut ada banyak pengetahuan dan tekhnologi tradisional yang terbukti efektif dan tak kalah dengan pengetahuan modern barat. Di Jawa, kata dia, petani bisa mengetahui perkiraan cuaca yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam seperti jamur yang mulai tumbuh sebagai penanda dimulaiyahujan.

“Seperti sistem pranoto mongso itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Itu menjadi pengetahuan bangsa,” ungkap Muhammad Ghofur di Suluk Maleman yang digelar secara daring, Sabtu (20/11) malam.

“Di Gunung Kidul juga seperti saat ada burung tertentu itu yang menjadi penanda musim penghujan. Ini tentu penting terutama bagi para petani yang belum tersentuh sistem irigasi,” tambahnya.

Ghofur memaparkan, orang NTT bisa menentukan kapan mereka harus memajukan atau mengundurkan waktu tanam agar dapat memperoleh hasil maksimal. Terutama saat dihadapkan pada musim kering atau minim hujan.

Ia menyayangkan pengetahuan timur seringkali dipandang sebelah mata. Menurutnya, metode timur ini juga jarang diangkat lewat jurnal ataupun menjadi topik diskusi di tingkat internasional. Sehingga lebih banyak yang mengakui pengetahuan barat ketimbang kearifan lokal budaya timur.

“Ini tentu bisa menjadi salah satu bentuk justifikasi pengetahuan. Pengetahuan timur dianggap rendah bila dibandingkan pengetahuan barat,” ujarnya.

Padahal meski ilmu titen serta pranoto mongso tidak banyak dibahas dalam jurnal,  namun pengetahuan tersebut dulunya sangat dekat dengan keseharian masyarakat. Hal itu terlihat banyak ditemukan tak hanya dalam kitab namun banyak berserak di sastra pujangga, kesenian, tradisi dan budaya hingga cerita tutur.

Tak Kalah Efektif

Anis Sholeh Ba’asyin menambahkan, anggapan bila tidak menggunakan pengetahuan Eropa dan Amerika menjadi sesuatu yang tertinggal haruslah diubah. Pasalnya, banyak pengetahuan tradisional yang terbukti tak kalah efektif.

“Seperti halnya obat herbal. Padahal sudah dipercaya bertahun-tahun dan begitu efektif. Namun karena munculnya obat farmasi perlahan herbal tersingkir. Padahal tak sedikit ilmu modern yang justru memunculkan persoalan baru seperti di sejumlah bidang yang tidak ramah lingkungan,” beber penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’syin, Sabtu (20/11).

Oleh karenanya, ia mengingatkan agar dalam berfikir harus melihat secara utuh. Jangan sampai memblok pengetahuan dengan pemikiran tertentu sebelum melihatnya dengan baik. Tak terkecuali perbandingan antara pengetahuan timur dan barat.

“Sebenarnya kita punya posisi yang setara, tapi tidak berani menegaskannya. Kalau kita merendahkan pengetahuan timur tak ada bedanya kita menghakimi seseorang tanpa melihat persoalannya,” tegasnya.

Bukan Klenik

Dalam kesempatan itu, Dr Abdul Jalil, selaku narasumber lainnya juga turut memberi pandangan. menjelaskan, dalam diri manusia ada rasio, indera, dan intuisi. Sementara di luar dirinya ada semesta. Kesemuanya itu, jata dia, harus ada keseimbangan.

“Namun sekarang tidak ada keseimbangan tersebut. Karena terseret pengetahuan yang hanya mengedepankan rasio dan indra tapi intuisi tidak jalan. Inilah yang jadi persoalan. Intuisi dimatikan,” ujar Dr Abdul Jalil.

Ia menambahkan, orang lebih percaya apa yang dilihat dan dipikirkan dan mengalahkan apa yang dirasakan dan suara hatinya. Jika itu digunakan untuk melihat realitas maka yang terjadi adalah ketimpangan.

“Seperti hal sederhana yang dipakai sebagai parameter untuk mengukur kepintaran sekarang nilai. Nilai didapatkan hanya dengan mengerjakan soal tertulis. Tidak ada hubungan fakta dan pengetahuan. Bahkan keimanan juga dinarasikan dalam bentuk soal tertulis. Iman sekarang ini hanya menjadi persoalan menghafal rukun iman, bukan bagaimana menjalankannya,” tegasnya.

Dia menambahkan, pernah ada kisah saat ada hama yang menyerang kemudian salah seorang kyai datang dan memberikan tulisan “Hama Dilarang Masuk”. Rupanya setelah kejadian itu memang tak ada hama yang masuk.

“Jika dilihat secara dangkal tentu yang terjadi adalah klenik. Namun mereka lupa jika hama tersebut juga sama-sama makhluk Tuhan sehingga bisa diajak berkomunikasi. Sang Kyai tersebut meminta agar padi miliknya tidak dihabiskan hama lantaran dibutuhkan untuk konsumsi para santri,” ungkap dia.

Oleh karena itulah Abdul Jalil mengajak agar kita bisa belajar menyeimbangkan antara hati, otak dan indranya. Sehingga dapat  memandang segala sesuatu sebagai keutuhan.

Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (21/11) malam juga turut dimeriahkan dengan koleksi Sampak GusUran. Ngaji budaya itu juga disaksikan oleh khalayak ramai dari berbagai kanal media sosial.(hsn)

Komentar