Harmoni Syiah dan Suni di Jepara

0
Ibu-ibu warga Rt 03 Rw 01 Desa Banjaran, kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, saat pertemuan rutinan, Sabtu (4/12/2021) sore. Foto MRA

Empat puluh perempuan bermazhab Syiah dan Suni meriung di Desa Banjaran, Bangsri, Jepara, Jawa Tengah. Lantunan surat Yasin saat tahlil terdengar syahdu dibawah guyuran hujan pada Sabtu, (4/12/2021) sore.

Di rumah Wati, warga bermazhab Suni, Anis Nurul, satu di antara peserta tahlil yang bermazhab Syiah membaur. Seusai tahlil, mereka mengocok arisan dan membicarakan kegiatan rutin Rukun Tetangga 03. Layanan posyandu, PKK dan acara 17 Agustus-an dan menjadi agenda rutin yang mereka siapkan bersama.

Anis Nurul, 48 tahun, merasakan kampung Bangsri sebagai tempat yang menampung ragam mazhab dalam Islam, seperti Syiah dan Suni. Suami Anis misalnya dari kalangan Suni.

“Saling menghormati dan guyub saat ada kegiatan kampung,” ujar Anis.

“Di sini saya ngerasain ya. Sebab saya juga dari keluarga yang bukan satu mazhab,” ungkapnya.

Perempuan Syiah
Harmoni Syiah dan Suni terlihat saat Khodijah, perempuan Syiah, memimpin tahlil dan berceramah dalam pengajian. Perempuan usia 40 tahun itu mengutip beberapa ayat Al Quran dan menyajikan cerita keteladanan Nabi Muhammad yang menghargai perbedaan dan keberagaman.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat 103 Surat Ali Imron, yang artinya berpeganglah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai,” tutur Khodijah.

“Di ayat lain, ayat 10 Surat Al-Hujurat juga disebutkan bahwa sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara,” sambungnya.

Khodijah lalu menceritakan kisah Nabi Muhammad yang tidak pernah membeda-bedakan perlakuan terhadap umatnya. Banyak cerita bagaimana Rasulullah memperlakukan warga non-muslim di Madinah dengan penuh kelembutan. Hal ini seharusnya menjadi teladan bagi umatnya.

Khodijah, warga Syiah Desa Banjaran, Bangsri. Foto istimewa

Saat terjadi kematian, warga Suni maupun Syiah di desanya spontan terjun bersama-sama dalam proses pemakaman hingga acara tahlilan. Kebersamaan ini adalah wujud ajaran Islam seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

“Terlihat di kegiatan keseharian, seperti kegiatan RT, PKK atau kegiatan lain seperti tahlilan ketika ada kematian,” ujar Khadijah, Kamis (21/10).

“Sama seperti perempuan di daerah lain. Banyak yang turut membantu perekonomian keluarga dengan dagang di pasar atau jualan online,” katanya.

Keluarga Multimazhab
Abdul Basid (48), warga Syiah Desa Banjaran, memiliki keluarga yang majemuk. Meskipun dirinya bermazhab Syiah, ia tak merasa keberatan memiliki menantu beraliran Suni. Baginya, hal tersebut merupakan pilihan masing-masing.

“Saya biasa aja, menantu saya juga biasa. Ada pengajian ya ikut pengajian,” kata Basid, sapaan akrab pria itu, Kamis (18/11/2021) sore.

“Kita ambil sisi positifnya aja, ambil kesamaannya aja,” imbuhnya.

Basid mengaku memiliki ayah mertua bermazhab Ahlusunnah wal Jamaah. Meskipun demikian, perbedaan aliran tidak dipermasalahkan di dalam keluarga. Ada sekitar sepuluh keluarga majemuk seperti keluarga Abdul Basid di desa itu.

“Ada hajat orang punya mantu atau tasmiyahan (doa bersama usai memberi nama bayi), kita selalu sama-sama di sini,” ungkap Abdul Basid.

Maulid Nabi Muhammad di Masjid Syiah AL Husaini, Desa Banjaran, Bangsri
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Minggu (31/10/2021) di Masjid Al Husaini, Desa Banjaran, Bangsri. Foto istimewa

Ketua RT Syiah
Ma’ruf, Ketua RT 03 RW 01 Desa Banjaran menerangkan bahwa aliran yang dianut warga di daerahnya sangatlah beragam. Meskipun demikian, hubungan satu dengan lainnya terjalin harmonis. Ma’ruf juga menyebut sebuah perkumpulan sebagai wadah bersama, yakni Majelis Muawanah.

“Saya Syiah, Ketua RW-nya Suni, Pak Lurah Suni,” kata Ma’ruf, Sabtu (4/12) sore.

Menurut Ma’ruf, Majelis Muawanah didirikan oleh tokoh-tokoh desa untuk menjaga kerukunan antar warga. Dalam kegiatannya, perkumpulan para sesepuh desa itu berfokus pada acara kematian. Majelis ini menangani semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan warga saat terjadi kematian.

“Baik Muhammadiyah, NU ataupun Syiah, semuanya diurusi Jami’ah Muawanah saat ada kematian,” ungkap Ma’ruf.

Oleh sebab itu, Ma’ruf beranggapan bahwa para tokoh masyarakat dan agama berperan penting dalam kerukunan warga. Menurut dia, harmonis atau tidaknya suatu masyarakat ditentukan oleh sesepuh yang dijadikan panutan.

Kata Banser
Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Kecamatan Bangsri, Jepara, Saifur Rohim menilai bahwa interaksi Suni-Syiah berjalan cukup baik. Selain tidak ada hal yang memicu gesekan, Saifur juga menyebut warga Syiah di Bangsri memiliki jiwa sosial yang tinggi.

“Kita lihat memang tidak ada hal yang menonjol. Artinya, untuk menjadikan gesekan yang (mungkin) terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dibandingkan dengan organisasi atau aliran-aliran baru yang baru muncul,” ungkap Saifur saat ditemui di rumahnya di Desa Wedelan, Bangsri, Kamis (18/11) petang.

“Karena apa ya? Mungkin karena orang-orang Syiah itu jiwa sosialnya tinggi,” kata dia.

Saat ditanya tentang antisipasi gejolak yang terjadi di masyarakat, Saifur menegaskan bahwa Banser memiliki rantai komando dan koordinasi. Dalam hal penanganan, ia mengatakan perlu instruksi dari satuan Banser di jenjang komando yang lebih tinggi.

“Banser itu kan satuan. Jadi apapun yang dilakukan di bawah itu mengikuti instruksi dari pusat,” tuturnya.

Saifur menandaskan, toleransi antar umat beragama perlu dijaga. Ia mencontohkan, dalam acara peringatan keagamaan lintas agama, badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) GP Ansor itu aktif turut serta dalam pengamanan.

“Yang jelas, negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memiliki agama yang sudah diakui oleh negara. Ini yang harus dijunjung tinggi demi persatuan NKRI,” pungkasnya.

Tokoh Syiah di MUI
KH Miqdad Turkan mengemban amanat sebagai anggota Komisi Dakwah, Pendidikan dan Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jepara periode 2019-2024. Tokoh Syiah asal Jepara ini mengatakan, perbedaan tidak harus disikapi dengan pertengkaran.

Ustaz Miqdad, panggilan akrab pria itu, mengakui bahwa salah satu penyebab kerukunan lintas mazhab adalah ikatan keluarga. Namun demikian, ia beranggapan ikatan keluarga tidak menjamin terciptanya kerukunan.

“Penyebab utamanya adalah interaksi dengan saling memberi manfaat satu dengan yang lain,” kata Ustaz Miqdad Turkan, Kamis (18/11) di Pondok Pesantren Putri Bintul Huda, Bangsri.

Menurutnya, manusia cenderung terikat oleh perbuatan baik sesamanya. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia, tanpa memandang aliran ataupun agama. Selain faktor keluarga dan kontribusi sosial, lanjut Ustaz Miqdad, faktor ketiga terciptanya kerukunan di Candi adalah kesadaran adanya perbedaan.

“A-Insan abdul ihsan, manusia itu adalah hambanya kebaikan. Artinya, ketika manusia menerima atensi dan kontribusi dari manusia lain, dia akan menghargai kebaikan itu tanpa melihat keyakinan atau agama si pemberi,” tuturnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Darut Taqrib Jepara ini menyatakan bahwa perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat diubah. Ia pun meminta agar para tokoh agama dan masyarakat dapat menghargai dan menerima perbedaan. Dengan demikian, masyarakat memiliki panutan bagi terciptanya kerukunan di daerah masing-masing.

Ustaz Miqdad juga menyebut peran penting dua lembaga bagi kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Yang pertama adalah Majelis Ulama Indonesai (MUI), sedangkan yang kedua adalah Kementerian Agama (Kemenag).

Jika kedua lembaga tersebut diisi oleh orang-orang toleran, kata dia, maka kerukunan akan tercipta. Sebaliknya, jika kedua lembaga tersebut diisi oleh orang yang sektarian, bisa dipastikan perpecahan antar umat beragama di Indonesia akan terus terjadi.

Keberagaman Itu Keniscayaan
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jepara sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), KH Mashudi, menegaskan bahwa Tuhan tidak menciptakan manuisa sebagai umat satu agama saja. Oleh sebab itu, ia berpendapat bahwa keragaman dalam umat beragama harus dikedepankan sebagai suatu keniscayaan.

“Selalu mengedepankan keberagamaan dan keberagaman. Allah Swt sudah memberikan suatu warning kepada kita. Bahwasanya Allah bisa saja menciptakan manusia sebagai satu umat agama tertentu saja sehingga tidak terjadi perbedaan. Tapi Allah menciptakan kita beragam. Itu nash Al-Quran yang harus dipahami. Bahwa kita tidak sendiri, tapi kita beragam,” kata KH Mashudi, Kamis (4/11/2021) di Pondok Pesantren Ummul Quro, Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.

“Kita senyatanya, di MUI ataupun di FKUB, mengakui bahwasanya keyakinan itu adalah hak setiap orang dan tidak bisa dipaksakan. Kita tidak mungkin hidup dengan satu (agama atau keyakinan) saja. Dan itu sangat naif,” imbuhnya.

KH Mashudi juga mengungkapkan, pengurus MUI Jepara terdiri dari berbagai kelompok agama Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Syiah, LDII dan MTA. Hal itu, kata dia, wujud kebersamaan, kerukunan dan keakraban di Jepara.

Gapura Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, Jepara. Foto MRA

Bupati Jepara: Keyakinan Itu Soal Kebebasan Memilih
Bupati Jepara Dian Kristiandi menyatakan keyakinan merupakan kebebasan dalam memilih. Dikatakannya, Kabupaten Jepara adalah ‘Kabupaten Kerukunan’ yang selalu mengutamakan harmoni dan kondusifitas. Dian juga meminta agar masyarakat tidak melulu berkutat pada perbedaan, namun justru mengedepankan persaudaraan dan gotong-royong.

“Kita adalah bangsa Indonesia, umat beragama, dan orang Jepara. Kita yang beranak pinak, makan minum dan bekerja di Jepara sudah semestinya menjaga harmoni umat beragama di Jepara,” kata Bupati Jepara Dian Kristiandi, Rabu (29/12/2021) melalui keterangan tertulis.

“Jangan selalu berkutat pada perbedaan yang kita kedepankan, tetapi kita kedepankan semangat gotong royong dan bersatu padu. Kata orang Jawa seduluran saklawase (bersaudaranya selamanya),” imbuhnya.

Berbeda Tapi Rukun, Kok Bisa?
Maraknya konflik bermotif agama tak mempengaruhi harmoni yang terjalin lama di Jepara. Bahwa kerukunan lebih penting dijaga dibandingkan perbedaan tampaknya telah dipahami dengan baik. Para tokoh di Kota Ukir juga berulang kali menekankan bahwa keyakinan adalah pilihan bebas yang dilindungi oleh undang-undang.

Bupati menegaskan hubungan Syiah dan Suni di Kabupaten Jepara selama ini terjalin sangat akrab dan harmonis. Kedua kelompok itu bahkan sering melakukan kegiatan bersama.

“Seperti Maulid Nabi maupun seminar. Terkadang juga melakukan kegiatan ziarah bersama. Karena senyatanya di Jepara, antara mereka dipertemukan dari nasab para sesepuh yang sama,” ungkap Bupati Jepara Dian Kristiandi, Rabu (29/12).

Ia menjelaskan, apapun latar belakang agama, budaya maupun organisasi, memiliki kewajiban untuk saling menjaga masyarakat Jepara. Bupati Jepara juga menegaskan, satu-satunya jalan untuk menjalin kebersamaan antar kelompok dan umat beragama adalah saling bekerja sama. Menurut dia, tidak mungkin masing-masing kelompok mampu berdiri sendiri tanpa dukungan kelompok lain.(hsn)

Liputan ini merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan Norwegian Embassy untuk Indonesia.

Komentar