‘Bharatayudha Wurung’, Sebuah Doa dari Pati untuk Keselamatan Negeri

0

Pati, 5News.co.id,- Kondisi bangsa yang tersekat kubu-kubu menjelang pilpres 2019 ini membuat beberapa kalangan khawatir, terutama para budayawan yang cenderung mempunyai kepekaan tinggi terkait masalah sosial. Hal itu yang mendasari budayawan asal Pati, Anis Sholeh Ba’asyin untuk menyelenggarakan pagelaran wayang kulit di acara Suluk Maleman dengan menghadirkan dalang Ki Sujiwo Tejo, Sabtu (19/01) malam di Rumah Adab Indonesia Mulia Pati.

Acara rutin bulanan Suluk Maleman yang berulang tahun ke-7 tersebut memilih Lakon ‘Bharatayudha Wurung’ atau perang Bharatayudha gagal, diniatkan sebagai ruwatan demi terhindarnya perpecahan antar putra bangsa di tahun politik ini. Di awal acara diadakan potong tumpeng. Anis Sholeh Ba’asyin mengajak para hadirin berdoa mengharap petunjuk dan pertolongan dari Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Sebagai pengantar sebelum pewayangan, Anis Sholeh Ba’asyin mengingatkan bahwa dualisme selalu ada. Sikap yang harus diambil, terutama oleh para agamawan adalah menjadi penengah agar bisa melihat kedua kubu secara obyektif, bukan masuk ke dalam perkubuan menjadi bagian dari pihak-pihak yang berselisih. “Kita harus naik ke level yang lebih tinggi untuk menjaga keseimbangan sehingga kedua kubu bisa bersatu”, tandasnya.

Narasumber yang lain yaitu Drs Ilyas M.Ag mengajak para hadirin untuk membangkitkan kesadaran kebersamaan. “Kebanyakan kita sekarang hanya punya kesadaran golongan, sehingga yang dicari cuma kemenangan. Ketika ternyata nanti kalah, kita akan menyusun kekuatan lagi untuk mengalahkan pihak sebelah. Begitu terus tanpa ada habisnya”.

Anis Sholeh Ba’asyin prihatin melihat kedua kubu tidak ada yang siap menerima kekalahan. “Ini yang dikhawatirkan bisa memicu perpecahan”, tandas tuan rumah Suluk Maleman tersebut.

Lewat pagelaran wayang kulit, Ki Sujiwo Tejo menceritakan kisah upaya Semar untuk menggagalkan perang antara Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan kerajaan Hastina yang sudah dituliskan oleh para Dewa. Pada akhir kisah, budayawan tersohor itu menyampaikan bahwa perang antar tokoh wayang itu tergantung dalangnya. Sedangkan dalang tergantung kemauan panitia penyelenggara. Panitia penyelenggara pun tergantung minat para penonton.

Meskipun sempat diguyur hujan, ribuan pengunjung setia menonton hingga akhir. Selain pewayangan dan diskusi, Acara Suluk Maleman tersebut juga diisi dengan penampilan musik oleh Kidung Syafaat dari Salatiga, pembacaan puisi oleh Ammar Abdillah, juga ludruk Kisut & Bro dari Kudus. (abd)

Komentar