Mengenal Dua Abdul, Penjual Gandos Yang Masih Bertahan di Kota Ukir

0

Jepara, 5NEWS.CO.ID, – Penjual gandos di kota Jepara mulai susah ditemui. Dua tahun lalu masih banyak penjual yang mangkal  di beberapa ruas jalan di kota Ukir ini.

Menurut penelusuran 5news.co.id sekarang ini setidaknya masih ada dua penjual yang bisa ditemui saat pagi sampai siang. Pertama di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ) dan yang kedua di jalan Mangunsarkoro atau samping SMP Negeri 5 dan 6 Jepara. Kedua penjual gandos itu namanya Abdul dan keduanya merupakan guru dan murid.

Penjual gandos di Jl. Mangunsarkoro berusia 35 tahun dan berasal dari Brebes yang sudah 12 tahun tinggal di Jepara. Namun baru 4 tahun berjualan gandos. Gandos disebut juga bandros atau kue pancong dibeberapa daerah.

Sedangkan yang di SCJ namanya adalah mbah Abdul, biasa dipanggil Mbah Dul. Berusia sekitar 60 tahun asli dari Bangsri Jepara. Mbah Dul mengaku sudah puluhan tahun menjual panganan tradisional ini di kota kelahirannya.

“Sebelumnya saya berjualan kue putu keliling naik sepeda dari sore sampai malam. Mbah Dul, yang kebetulan satu kontrakan dengan saya merasa kasihan karena saya pulang malam sampai kadang kehujanan di tritis orang. Lalu saya diajari membuat gandos dan akhirnya ikut berjualan sampai sekarang,” kata Abdul saat ditemui Sabtu kemarin (30/11/2019).


Abdul tertarik dengan ajakan Mbah Dul karena berjualan gandos cara kerjanya lebih ringan daripada jualan kue putu. Jualan putu kalau pulang selalu malam dan keliling jauh, terasa capek, akunya.

“Saya berangkat dari kontrakan di Ujung Batu Jam 5 pagi, mangkal sampai jam 10. Nanti pindah meneruskan tempat mangkal Mbah Dul sampai jam 12, itu pun  jika masih ada sisa adonan,” kata bapak satu anak itu.


Abdul masih menggunakan loyang cetakan lama. Yaitu gandos yang hasilnya kecil dan agak tipis. Dahulu pernah memakai loyang besar tapi pelanggan protes karena Kurang matang.

Bahan dan pembuatan gandos sebenarnya sederhana. Parutan kelapa dicampur adonan tepung beras dan sedikit tepung gandum. Sebagai  pengawet dan perasa cuma ditambahi garam. Kemudian dituang kecetakan atau loyang panas hingga matang.

Satu ember adonan bisa untuk 35 loyang. Satu loyang berisi 24 cetakan gandos dengan harga Rp10.000. Dengan modal satu ember sekitar Rp100.000.

Abdul mengaku, langganan gandosnya mulai dari orang biasa, anak sekolah hingga pegawai.

“Kalau di SCJ cepat laku. Mungkin karena yang lewat banyak pegawai dan saat jam iatirahat. Di samping itu SCJ lebih ramai, siapapun lewat di sana,” katanya.

Abdul yakin bahwa gandos akan tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Gandos itu makanan tradisional yang sehat, katanya optimis. (mas)

Tinggalkan Balasan