Syiah Bukan Islam, Semburan Ludah ANNAS di Muka Sendiri

Syiah Bukan Islam, Semburan Ludah ANNAS di Muka Sendiri

Semarang, 5NEWS.CO.ID,- Semburan ludah ormas intoleran bernama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) mendarat di muka sendiri. Pasalnya, propaganda dan opini negatif, seperti jargon ‘Syiah bukan Islam’ yang kerap dilontarkan ormas ini merupakan disinformasi yang jauh dari realita. Selain itu, ANNAS juga kerap mencatut nama besar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan menghubung-hubungkan sejumlah fatwanya dengan Syiah.

Laman resmi ANNAS merilis berita sebuah pertemuan pengurusnya saat beraudiensi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng dan Polda Jateng di Semarang, Selasa (18/8/2020).

“Dalam audiensi tersebut di hadapan pengurus MUI Jateng yang berkantor di Kawasan Masjid Baiturrahman Simpang Lima Semarang, Ketua ANNAS Jateng Ust. Tengku Azhar meminta kepada MUI Jateng  segera mengeluarkan fatwa kesesatan syiah sebagaimana yang telah difatwakan oleh MUI Jawa Timur,” bunyi berita laman resmi ANNAS yang terbit pada Rabu (19/8/2020).

Laman ANNAS itu menyebut, Ust.Tengku menjelaskan dalam audiensi bahwa  perayaan yang rutin diselenggarakan aliran syiah setiap 10 Syuro itu berisi cacian sahabat dan Istri Rosulullah SAW. Perayaan yang diselenggarakannya berisi ritual-ritual mencaci sahabat dan istri Rasulullah SAW., bahwa mencaci istri Rasulullah SAW sama artinya mencaci Rasulullah SAW, jelasnya

Baru-baru ini, ormas anti Syiah itu juga merilis surat terbuka yang ditujukan kepada Ketua Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi se-Indonesia. Dalam surat itu, ANNAS berharap para Ketua Forkopimda menghentikan kegiatan keagamaan yang disebut sebagai acara perayaan Syiah. Surat bertanggal 15 Agustus 2020 itu juga mencatut sejumlah fatwa, bahkan nama MUI Pusat, yang kemudian dikaitkan dengan Syiah.

Kenyataannya, acara 10 Syuro yang disebut ANNAS merupakan acara peringatan hari wafat yang biasa disebut haul, bukan acara perayaan. Sepanjang acara haul memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad Saw, yakni Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, tidak satupun penceramah Syiah menyebut tentang sahabat-sahabat Nabi, terlebih mencacinya.

Lebih jauh, stigma Syiah bukan Islam sebagaimana digaungkan ormas radikal ini merupakan pelecehan terhadap sejumlah karya agung ulama salaf Ahlus Sunnah. Upaya ANNAS tampaknya mengarah pada disharmoni antar dua madzhab besar Islam yang sudah terjalin lama.

Bukan rahasia lagi bahwa kitab hadis Sahih Bukhari dan Muslim menggunakan sejumlah periwayat Syiah. Hal yang sama juga dilakukan oleh ulama Syiah seperti Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i dan Ayatullah Murtadha Muthahhari yang terjemahannya banyak beredar di Indonesia banyak menggunakan hadis dari Ahlus Sunnah.

Pertanyannya, beranikah ormas intoleran ANNAS menyatakan Imam Bukhari dan Muslim menggunakan perawi ‘bukan Islam’ dan menegaskan hadis-hadis tersebut tidak otentik?

Dalam hal ini, ANNAS hanya memiliki dua opsi. Pertama, menjilat ludah sendiri dengan mengklarifikasi bahwa Syiah merupakan salah satu madzhab resmi dalam Islam selain Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kedua, menyatakan secara jelas bahwa ulama salaf sekaliber Imam Bukhari dan Muslim serta ulama Ahlus Sunnah lainnya melakukan kesalahan fatal dengan menggunakan perawi ‘bukan Islam’ lalu menerbitkan ‘fatwa’ bahwa hadis-hadis tersebut invalid.(hsn)