Suluk Maleman: Hikmah Puasa dalam Kehidupan

0
Anis Sholeh Ba'asyin - Suluk Maleman 124 Hikmah Puasa dalam Kehidupan
Anis Sholeh Ba’asyin, saat berdiskusi di Suluk Maleman, Sabtu (16/4) malam di Pati, Jawa Tengah. Foto istimewa

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Hikmah puasa menjadi topik diskusi Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-124, Sabtu (16/4/2022) di Pati, Jawa Tengah. Para cendekiawan menyebut puasa merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas manusia. Selain itu, puasa juga memberi dampak positif bagi kesehatan, meskipun hal itu bukan menjadi tujuan utama.

“Seperti juga sholat, kecuali kaitan utamanya dengan perawatan ruhani manusia; puasa ternyata secara jasmaniah juga langsung berkaitan dengan penjagaan kesehatan. Hanya saja dalam peribadahan ini, masalah perawatan jasmaniah hanya berposisi sebagai keuntungan ikutan, dan tidak pernah menjadi orientasi utama,” tutur penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin, Sabtu (16/4) malam.

“Ibadah puasa dinilai menjadi cara terbaik untuk memperbaiki diri, baik secara ruhani mau pun jasmani,” imbuhnya.

Dia katakan, dalam hadits ditegaskan bila orientasinya hanya penjagaan dan perawatan jasmaniah, orang berpuasa hanya akan memperoleh lapar dan dahaga dan kehilangan nilai puasa yang sebenarnya. Oleh sebab itu, perawatan dan penjagaan rohaniah menjadi orientasi utama hidup manusia.

“Dengan berpuasa, selapis demi selapis orang dihadapkan dengan dirinya sendiri. Dari situ orang diharap semakin mengenali dirinya dan kemudian memperbaikinya ke arah yang lebih baik,” kata Anis.

“Semua itu bisa tercapai jika kita tetap menjaga kewaspadaan. Bila ini tak tercapai, jangan-jangan kita tak mendapat apa-apa saat berpuasa,” lanjutnya.

Penggagas Suluk Maleman itu menambahkan, puasa dapat membantu memperoleh kualitas ketakwaan. Takwa sendiri bisa diartikan sebagai langkah kehati-hatian dan kewaspadaan.  Menurut dia, melalui puasa manusia diajarkan untuk mengenali diri, lingkungan, maupun semesta.

Puasa mendidik manusia untuk saling menghormati sehingga dapat menempatkan diri sehingga tidak merasa lebih baik dari sesama makhluk lainnya.

“Puasa secara prinsip juga mengajarkan hubungan sosial,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu Anis Sholeh Ba’asyin juga kembali mengingatkan agar umat untuk berpuasa dalam bermedia sosial. Pasalnya di medsos banyak beterbaran fitnah, ghibah, maupun perilaku yang tidak baik lainnya. Sehingga jalan terbaik adalah meninggalkannya.

Menurutnya, berpuasa sebenarnya tak hanya saat bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, juga menahan diri dari perilaku yang tidak baik dibulan-bulan berikutnya.

Pembicara lain, Ilyas Arifin M.Ag mengingatkan banyak ‘sandungan kecil’ yang bisa mengurangi esensi puasa itu sendiri sSelayaknya hama dalam tanaman padi.

“Hal paling mendasar kita berpuasa akan merasa lapar. Dengan rasa lapar itulah kita bisa merasakan orang tidak mampu bahkan yang kesulitan makan. Ini tentu akan memunculkan simpatik kita ke sekitar,” terangnya.

Hanya saja seolah-olah sebagian orang lupa akan hal tersebut. Mereka justru masih saja khawatir akan kelaparan hingga akhirnya mengkonsumsi berbagai macam obat dan suplemen. Sehingga lupa bagaimana merasakan sulitnya menahan lapar.

Senada dengan Ilyas, Prof Saratri Wilonoyudho juga mengingatkan bahwa puasa tidak sebatas persoalan ritual namun nilai pentingnya dalam ranah sosial. Puasa tidak sekadar menahan diri untuk tidak makan dan minum serta berhubungan badan, namun juga memelihara nafsu sehingga tidak mudah merusak bumi.

“Padahal seseorang berpuasa yang tahu hanya Allah dan dirinya sendiri. Sebenarnya ini adalah metode untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kalau dia sadar, dia akan senantiasa berhati-hati karena merasa diawasi Allah. Kalau sudah begitu tentu dia tidak akan berani korupsi ataupu mencuri. Sekalipun tak ada orang yang tahu, dia yakin jika Allah mengetahuinya. Seperti tetap tak makan dan minum sekalipun tak ada orang yang melihatnya,” tambahnya.

Prof. Saratri  juga menyoroti perihal sesuatu yang halal namun diharamkan saat berpuasa. Seperti berhubungan suami istri. Hal itu menunjukkan manusia pun dinilai tetap penting menahan diri meskipun dia halal melakukan sesuatu.

“Misalkan saja saya orang kaya dan bisa membeli mobil Rp 9 miliar. Namun atas pertimbangan etika akhirnya saya haramkan. Saya berpuasa untuk cukup membeli mobil sederhana saja. Apalagi jika tetangga saya masih banyak yang kekurangan. Begitu juga berpuasa untuk tidak merusak alam ini,” sentilnya.

Jalannya diskusi budaya itupun terlihat begitu meriah dan disaksian ribuan orang dari berbagai channel media sosial. Selain topik yang menarik, koleksi musik dari Sampak GusUran turut meramaikan Suluk Maleman edisi ke 124 yang digelar secara daring tersebut.(hsn)

Komentar