Peringati Ulang Tahun Kesebelas, Suluk Maleman: Kasih Sayang Lahir dari Pengenalan Diri

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Muhajir Arrosyid dan Aniq Muhammadun dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Nyadong Welas Asih’ yang digelar Sabtu (21/1) kemarin. (Foto: istimewa)

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Tanpa terasa, forum Ngaji NgAllah Suluk Maleman sudah memasuki tahun kesebelas, dan untuk memperingati ulang tahunnya tersebut mengangkat tema “Nyadong Welas Asih”. Sebuah pengharapan agar terus dilimpahi kasih sayang Allah.

“Menurut Allahyarham Mbah Lim Klaten, kata sewelas (sebelas) bagi orang Jawa juga sekaligus dimaknai sebagai welas asih, kasih sayang.  Dalam kaitan ini, di usia yang ke-11 ini kami terus diberi limpahan kasih sayang dari Allah, bukan hanya untuk kami tapi juga seluruh bangsa ini,” terang Anis Sholeh Ba’asyin.

Sebagai penanda, pada Sabtu (21/01/23) malam juga digelar pemotongan tumpeng. Uniknya, potongan tumpeng itu diberikan kepada masyarakat yang datang menyaksikan secara langsung. Potongan pertama diberikan ke pengunjung tertua sebagai bentuk penghormatan.

Dalam momen peringatan ke 11 itu, Anis Sholeh Ba’asyin pun mengajak untuk mengevaluasi diri. Terlebih dalam pengenalan diri sendiri. Dia menyebut, dalam diri manusia ada unsur materi atau benda, hayat atau hidup, nafs atau gerak, kemudian akal, qalb atau hati serta ruh.

“Dari satu sisi kita melihat ada setidaknya enam lapisan dalam diri manusia, yakni lapisan materi, lapisan hayat, lapisan nafs, lapisan akal, lapisan qalb atau hati dan lapisan ruh. Unsur materi yang dimiliki manusia sama dengan benda-benda di semesta, unsur hayat atau hidup adalah seperti yang dimiliki semua tumbuhan, sementara unsur nafs adalah sama seperti yang dimiliki oleh hewan. Lapisan akallah yang mulai membedakan manusia dengan makhluk lain; dalam diri manusia akal sudah berfungsi sempurna.” terangnya.

Unsur materi dan hayat adalah sesuatu yang dhohir sifatnya, sementara mulai unsur nafs hingga ruh berkategori yang bathin.

“Sebagai contoh, di dunia binatang misalnya, setiap pejantan biasanya akan menandai wilayahnya. Kalau ada pejantan baru mereka akan gelut (bertarung, Red). Ironisnya sebagian manusia rupanya juga ada yang begitu. Kalau ada orang baru, dan dianggap pesaing akan diserang, difitnah, dihabisi. Kalau kamu seperti itu mungkin kamu juga masih dalam fase kebinatangan,” tambahnya.

Walaupun, kejahatan manusia terkadang lebih keji dari binatang. Bila binatang akan langsung bertarung, manusia seringkali memilih dengan cara fitnah dan menjatuhkan secara tidak langsung.

“Kalau masih bertindak seperti itu artinya kamu belum beragama, meskipun kamu mengenakan aksesori keagamaan; karena fungsi agama adalah menuntun manusia untuk mengatasi daya tarik kebendaan, kehidupan dan kebinatangan dan mengantarnya ke kedudukan yang lebih tinggi. Artinya, setiap saat kita harus selalu mewaspadai diri sendiri, mewaspadai setiap kecenderungan diri, apakah masih didikte oleh kecenderungan kebendaan, kehidupan atau kebinatangan, atau atas bimbingan akal, hati dan ruh kita?” jelas Anis.

Anis juga mengingatkan bahwa apa yang disebut kaum jahiliyah pada dasarnya bukanlah kelompok orang yang bodoh. Sebaliknya mereka merupakan orang yang sangat cerdas. Hanya saja terbatas pada persoalan duniawi dan berorientasi jangka pendek.

“Kita baru bisa menampung dan menyebarkan kasih sayang bila mampu mengatasi daya tarik unsur-unsur rendah dalam diri sendiri, mengembangkan unsur-unsur mulia dan membuka diri terhadap bimbingan dari pencipta kita,” tegas Anis.

Sementara itu Gus Aniq, salah seorang narasumber lainnya, menambahkan bahwa pada dasarnya ada setidaknya istilah yang dipakai Al Qur’an untuk menyebut manusia. Mulai dari anam, basyar, wara, bariyah dan puncaknya yakni insan. Setiap istilah menunjukkan sisi spesifik manusia. Sebagai misal, anam adalah manusia dilihat dari sisi biologis.

“Oleh karenanya secara syariat Islam, nabi mengatur tatanan anam. Mulai cara makan, tidur. Nabi juga disebut khoirul anam,”tambahnya

Sedangkan basyar melihat manusia dalam berinteraksi kepada sesama, atau secara sosial. Sementara al wara dilihat dari segi psikologisnya. Sementara al bariyah terkait intelektualitas.

“Sedangkan puncaknya adalah al insan atau sisi spiritualitas. Prioritas manusia tumbuh adalah bagaimana spiritualitasnya tumbuh,” tambahnya.

Menariknya tema yang dibahas membuat ratusan orang yang mengikuti baik secara langsung ataupun daring mampu terlarut. Iringan musik dari Sampak GusUran ikut memeriahkan acara yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut.

Komentar