
Tel Aviv, 5NEWS.CO.ID,- Pemimpin oposisi Israel semakin dekat untuk menggulingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ketika secara resmi mengatakan kepada presiden negara itu bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan sekutu politiknya untuk membentuk pemerintahan baru.
“Saya merasa terhormat untuk memberi tahu Anda bahwa saya telah berhasil membentuk pemerintahan,” kata Yair Lapid kepada Presiden Reuven Rivlin, Kamis (3/6/2021).
Pemberitahuan itu diberikan sekitar 35 menit sebelum batas waktu yang ditetapkan pada Rabu tengah malam
Mitra utama Lapid adalah kelompok nasionalis Naftali Bennett, yang akan menjabat sebagai perdana menteri pertama di bawah rotasi antara kedua pria tersebut. Lapid (57) mantan pembawa acara TV dan menteri keuangan, akan mengambil alih setelah sekitar dua tahun.
Pemerintahan koalisi mereka akan terdiri dari partai-partai kecil dan menengah dari seluruh spektrum politik, termasuk untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel sebuah partai yang mewakili 21% minoritas Arab Israel – The United Arab List.
Koalisi ini juga akan mencakup partai kanan Yamina pimpinan Bennett, kiri-tengah Biru dan Putih dipimpin oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz, partai sayap kiri Meretz dan Buruh, partai nasionalis Yisrael Beitenu mantan menteri pertahanan Avigdor Lieberman dan New Hope, sebuah partai sayap kanan yang dipimpin oleh mantan menteri pendidikan Gideon Saar, yang memisahkan diri dari Partai Likud-nya Netanyahu.
Pemerintahan baru yang diharapkan akan dilantik dalam waktu sekitar 10-12 hari ke depan sangat rapuh karena hanya unggul tipis di parlemen. Kondisi ini menyisakan ruang bagi kubu Netanyahu untuk dan membatalkannya dengan menyerahkan anggota parlemen ke pihak mereka dan memberikan suara menentangnya.
“Pemerintah ini akan bekerja untuk semua warga Israel, mereka yang memilihnya dan mereka yang tidak. Pemerintah akan menghormati lawan-lawannya dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menyatukan dan menghubungkan semua bagian masyarakat Israel,” kata Lapid di Twitter.
Pemerintah baru Israel, jika dilantik, akan menghadapi tantangan diplomatik, keamanan dan ekonomi yang cukup besar: yaitu Iran, proses perdamaian yang hampir mati dengan Palestina, penyelidikan kejahatan perang oleh Pengadilan Kriminal Internasional dan pemulihan ekonomi setelah pandemi virus Corona baru.
Pemerintahan Israel pimpinan Netanyahu banyak ditinggal pendukungnya dan mendapat mosi tidak percaya dari Parlemen Israel, setelah kalah perang 11 hari dengan para pejuang Hamas dan meminta genjatan senjata tanpa syarat. (AHA)