Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Maulid Momentum Meneladani Rasulullah

Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dia Tak Tega Pada Kita…’ yang digelar Sabtu (15/10) kemarin.

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke 130 yang digelar Sabtu (15/10) kemarin mencoba sedikit menelisik sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan agar momentum peringatan maulid bisa menjadi momentum untuk meneladaninya.

Dalam kesempatan itu Anis Sholeh Ba’asyin mencoba menceritakan secara runtut perjalanan hidup Rasulullah. Mulai dari saat menjadi manusia biasa hingga akhirnya diangkat menjadi Nabi dan Rasul untuk menyebarkan Islam.

“Nabi Muhammad menjadi satu-satunya Rasul yang perjalanan hidupnya terdokumentasi dengan baik. Mulai dari dalam kandungan, masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa, sebagai manusia biasa hingga akhirnya menjadi diangkat menjadi Nabi dan Rasul, dan bagaimana kehidupannya setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Itu semua tercatat dan bisa dipelajari sebagai role model atau teladan untuk diteladani,” terang Anis Sholeh Ba’asyin memantik diskusi, (15/10/2022).

Keharusan adanya teladan untuk diteladani adalah fakta antropologis dan sosiologis perkembangan manusia, baik sosial maupun individual. Selanjutnya, Rasulullah sebagai sosok yang disebut berakhlak mulia oleh Al Qur’an adalah sebaik-baik teladan. Apalagi Rasulullah sendiri menyebut bahwa tujuan beliau diutus adalah untuk mengutamakan kemuliaan akhlak manusia.

Dengan demikian, meneladani beliau adalah metode paling efektif untuk membentuk akhlak yang mulia dan harus juga dicatat bahwa terbentuknya akhlak mulia adalah tujuan atau output utama dari keberagamaan itu sendiri.

Menurut Anis, ada beda tajam antara tindakan meniru dengan meneladani. Secara sederhana, meniru lebih condong ke tindakan lahir, sementara meneladani lebih bertitik-berat pada substansi atau sisi batinnya. Sehingga makna meneladani Rasulullah adalah menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi untuk diterapkan di zaman kita.

“Kalau kita mau menempatkan Rasulullah sebagai teladan kemuliaan akhlak, maka kita harus juga mempelajari bagaimana akhlak mulia Rasulullah itu terbentuk,” ujar Anis.

“Itu mulai sejak beliau dalam kandungan dimana beliau sudah bersentuhan dengan realitas penderitaan, dengan kehilangan ayah. Seorang Ibu yang bersedih, pasti berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Dan realitas derita ini terus berlanjut dengan kehilangan Ibu dan kemudian kakek yang melindunginya,” lanjut Anis.

Realitas derita ini memaksa beliau mengenali diri sendiri. Dan dengan mengenali diri sendiri beliau menemukan sifat shidiq (benar). Salah satu manifestasi sikap shidiq ini adalah empatinya yang tinggi pada derita sesama manusia, tak mengherankan bila di kemudian hari Al Qur’an menyifati beliau sebagai Rasul yang tak tegaan terhadap penderitaan manusia.

Yang harus dicatat disini, demikian lanjut Anis, sikap shidiq ini sudah terbentuk pada diri Rasulullah saat mulai beliau kanak-kanak hingga remaja. Sementara fase dewasa beliau yang mulai bersentuhan dengan dunia perdagangan, yang esensinya bersentuhan dengan interaksi sosial; menyorongkan beliau pada sifat amanah.

Amanah atau kepercayaan adalah kunci interaksi sosial. Tanpa sifat amanah, semua bentuk interaksi sosial pada akhirnya pasti akan porak poranda.

“Sifat shidiq dan amanah ini adalah hasil pergulatan batin beliau dengan realitas eksistensial manusia berupa derita, dan dengan realitas sosial yang penuh jebakan. Dari sisi ini kita bisa belajar bagaimana beliau tidak pernah menyerah pada tantangan, baik dari dalam mau pun luar dirinya. Tapi, mengolahnya sebagai tantangan untuk menemukan sifat paling tepat untuk menyikapinya,” paparnya.

“Hal seperti inilah itulah seharusnya diteladani oleh umat Islam sekarang. Sebaiknya juga bisa mulai diajarkan sejak kanak-kanak,” tambah Anis.

Setelah beliau diangkat menjadi Rasul, lebih banyak lagi keteladanan yang ditunjukkan pada kita. Beliau tak pernah putus asa dalam berdakwah, meskipun banyak tantangan dan ancaman yang beliau hadapi.

“Saat Mekkah sudah tertutup, beliau pergi ke Thaif yang jaraknya sekitar 140 kilometer dengan hanya berbekal kurma dan air hanya agar bisa berdakwah. Sekalipun sesampainya di Thaif beliau di hina dan di usir, bahkan anak-anak disuruh melempari beliau dengan batu,”terangnya.

Di saat demikian Nabi justru menunjukkan kualitas kemuliaan akhlaknya. Saat malaikat Jibril menawarkan diri untuk membinasakan penduduk Thaif, beliau menolaknya.

“Di saat sedemikian terdzolimi pun, Rasulullah tetap menunjukkan kasih sayangnya. Beliau tetap berharap anak cucu penduduk di Thaif dapat memeluk Islam nantinya. Ini menunjukkan betapa beliau tak pernah mengeluh dan putus asa. Dari sini kita diberi teladan, sebuntu apapun masalah yang kita hadapi, tetaplah mencoba cari cara lain. Karena akan ada banyak pintu yang terbuka,”tuturnya.

Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk diteladani adalah bagaimana Nabi membangun peradaban baru di Madinah. Disini kita melihat bagaimana Rasulullah tidak hanya mendidik sahabat-sahabatnya menjadi pribadi yang tangguh dan teruji keimanannya saja, tapi juga membangun lingkungan yang baik untuk perkembangan sosial dan individual penghuninya. Tak terkecuali menata perekonomian dan sistem sosial lewat musyawarah.

“Nabi selalu mengajak bermusyawarah penduduk Madinah, sebelum memutuskan sesuatu. Dan bila sudah diputuskan, maka Nabi sendiri yang akan memberi contoh melakukannya. Itulah yang membuat masyarakat Madinah menjadi beradab, lebih tertata, dan berubah total. Dari awalnya berbasis kesukuan menjadi berbasis keimanan dan kemanusiaan,”tambahnya.

Meski sempat turun gerimis, namun jalannya Suluk Maleman itu sendiri berlangsung meriah dengan diiringi oleh Sampak GusUran. Ratusan peserta tampak menikmatinya baik secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia maupun lewat kanal media sosial. (hus)

Komentar