Nasib Petani saat Pandemi: Tanam Padi Pupuk Mahal, Kini Kebanjiran

Nasib Petani saat Pandemi: Tanam Padi Pupuk Mahal, Kini Kebanjiran
Banjir menggenangi sawah di Desa Srikaton, Kecamatan Kayen, Pati. Foto Dok. 5NEWS.CO.ID

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Belum usai keluh kesah petani di saat pandemi terkait pupuk yang mahal dan sulit diakses. Kini, para petani masih harus mengalami nasib pahit setelah sawah kebanjiran. Hujan yang turun selama beberapa hari menyebabkan sawah terendam tepat setelah usai masa tanam.

Sejumlah lokasi persawahan di wilayah selatan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kebanjiran. Petani mengeluh lantaran padi yang baru saja mereka tanam terendam air. Sialnya, sawah mereka itu baru saja dipupuk dengan harga pupuk nonsubsidi yang cukup mahal.

Warsono (40), petani dari Desa Trimulyo, Kayen, Pati, mengungkapkan tanggul yang terletak di sebelah selatan Desa Srikaton jebol hingga beberapa ruas jalan dan area persawahan tergenang air. Banjir yang melanda, kata dia, terjadi hampir di setiap musim penghujan.

“Tanggul itu seharusnya diperbaiki dengan alat berat. Selama ini, tanggul jebol hanya diperbaiki secara gotong royong oleh warga,” kata Warsono kepada 5NEWS.CO.ID, Kamis (10/12/2020) pagi.

Hal senada juga dikeluhkan oleh Jumadi 3(9), petani dari desa yang sama. Ia menyebut Kali Bandung di Dukuh Bandungan Srikaton harus diperdalam supaya air tidak meluap. Menurutnya, banjir menbuat petani terancam kerugian hingga ratusan juta rupiah.

“Seharusnya diperdalam lagi. Jalan-jalan dan puluhan hektar sawah di Desa Srikaton kebanjir setelah Kali Bandung meluap,” ujar Jumadi.

Sebelumnya, Sumadi (60) warga Rt 03 Rw 02 Desa Karangasem, Gabus, Pati mengeluhkan mahalnya harga pupuk yang harus dia beli. Tanpa kartu tani, pupuk urea hanya bisa dibeli dengan harga nonsubsidi sebesar Rp 285 ribu per 50 kg. Padahal, kata dia, harga subsidinya hanya sekitar Rp 115 ribu saja.

“Bisa beli pupuk tapi ya dibatasi. Tanpa kartu tani harganya dua ratus delapan puluh lima ribu. Sebelumnya saya biasa beli Rp 115 ribu per sak,” tutur Sumadi saat ditemui di rumahnya beberapa hari lalu.

“Saya sudah buat kartu tani dan sudah jadi. Tapi baru bisa digunakan bulan Februari 2021,” pungkas dia.(hsn)