Kelompok Perlawanan se-Dunia Bersumpah Bebaskan Yerusalem dari Israel

Kelompok Perlawanan se-Dunia Bersumpah Bebaskan Yerusalem dari Israel
Demonstran membakar bendera Israel dan Amerika Serikat dalam aksi Hari Al Quds Internasional, Jumat (29/4/2022) di Teheran, Iran. Foto Times of Israel

Yerusalem, yang juga dikenal dengan Kota Al Quds, adalah salah satu kota tertua di dunia. Kota ini dianggap suci oleh tiga agama besar yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Klaim Israel menjadikan kota suci itu sebagai ibu kota, memicu reaksi keras umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Khomeini mencetuskan Hari Al Quds Internasional yang jatuh pada Jumat terakhir setiap bulan Ramadhan. Kini, manusia di seluruh penjuru dunia turun ke jalan setiap hari Jumat terakhir bulan Ramadhan dan menggaungkan pembebasan Palestina dari penjajahan.

Mimbar Al Quds

Sejumlah tokoh muslim dari berbagai negara menggelar forum “Mimbar Al Quds secara daring pada Selasa (26/4/2022). Dalam forum itu berbagai kelompok perlawanan mengecam aksi kekerasan Israel di kota suci Al Quds baru-baru ini.

Pembicara pertama, Ziyad al-Nakhalah, pemimpin Jihad Islam Palestina di Jalur Gaza, menyatakan sumpahnya untuk terus melawan penjajahan rezim Zionis. Menurutnya, para pejuang kelompok Jihad Islam selalu bersiaga di di seluruh wilayah Palestina.

“Kami tidak akan pernah mundur dan berkompromi sampai kami mencapai kemenangan,” kata Ziyad saat berbicara di Mimbar Al Quds yang digelar daring, Selasa (26/4).

“Al-Quds adalah milik kita. Al-Quds tidak akan pernah tunduk dan menyerah kepada agresor, pembunuh, dan ampas sejarah,” tambahnya.

Ziyad juga mengapresiasi Hari Quds Internasional, hari di mana umat manusia di seluruh dunia mendukung pembebasan Palestina dari agresi Israel.

“Iran juga mendukung pembebasan Palestina dengan segenap kekuatan dan komitmennya,” lanjutnya.

Tekad Hamas

Ismail Haniyeh, pemimpin gerakan perlawanan rakyat Palestina bermarkas di Gaza menyebut bahwa satu-satunya pilihan bangsa Palestina saat ini adalah sebagai perlawanan. Haniyeh mengklaim sejumlah operasi militer yang dilancarkan Hamas di Tepi Barat sejak awal Ramadhan telah sukses dan mencapai keberhasilan.

Menurut Haniyeh, masalah pendudukan dan hak warga Palestina untuk kembali ke tanah air mereka tidak dapat diselesaikan di meja perundingan. Oleh sebab itu, kata dia, Israel melancarkan kampanye normalisasi hubungan dengan sejumlah negara regional.

“Untuk melegitimasi keberadaannya dan rancangannya untuk menghancurkan perjuangan Palestina,” kata Haniyeh di forum Mimbar Al Quds, Selasa (26/4).

Haniyeh juga menyebut Tel Aviv berupaya menggunakan konflik di Ukraina untuk mengalihkan perhatian dunia atas rencananya untuk al-Quds dan Masjid al-Aqsa.

“Namun, semua upaya rezim untuk memanfaatkan bangsa Palestina telah menghadapi kekalahan. Bangsa kita tidak membiarkan distorsi identitas Masjid al-Aqsha dan fakta sejarah yang berkaitan dengannya,” tegas Haniyeh.

Israel Menuju Tong Sampah Sejarah

Ulama Syiah terkemuka di Bahrain, Syeh Isa Qassim mengatakan selama era pendudukan Israel, Masjid Al Aqsa dan Al Quds menjadi obyek permusuhan paling berbahaya dan biadab. Ia menyebut perlakuan rezim Israel sebagai ancaman terbesar bagi kesucian masjid. Meskipun demikian, Syeh Isa Qassim menilai Israel adalah rezim yang hampir mati dan menjadi sampah sejarah.

“Yang nasibnya tidak lain adalah tong sampah sejarah,” kata Syeh Isa Qassim, Selasa (26/4).

Berbicara di forum Mimbar Al Quds, Syeh Qassim juga menyeru kepada muslimin di dunia agar mengecam dan menghentikan tren kompromi dengan Islarel. Seruan ini merespon upaya normalisasi Tel Aviv dengan sejumlah negara di kawasan melalui bantuan Amerika Serikat.

Sheikh Qassim juga mendesak agar Hari Quds Internasional disiarkan ke seluruh dunia.

Dukungan dari Irak

Hadi Al Ameri, kepala koalisi Al Fatah di Irak, mengatakan penjajahan terhadap rakyat Palestina adalah kekejaman yang harus dihentikan. Al Ameri menggambarkan kondisi Al Quds sebagai luka yang diderita umat Islam internasional.

“Kelompok perlawanan Irak siap untuk pembebasan Palestina,” kata Hadi Al Ameri, Selasa (26/4).

Ia menyebut bahwa persatuan negara-negara Arab dan pengaruh ulama tentang isu Al Quds akan menjadi sebab pembebasan Palestina. Ameri mendesak muslimin dunia untuk menghimpun semua kemampuan dan kekuatan dalam mendukung Palestina.

Suara Pejuang Yaman

Abdul-Malik Al Houthi, pemimpin pejuang Ansarullah di Yaman menyebut membela Al Quds adalah kewajiban dan tugas setiap muslim. Rakyat Yaman, kata dia, konsisten dalam bersikap dan berdiri teguh mendukung bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaannya dari penjajahan Zionis.

“Bangsa Palestina adalah bagian dari bangsa muslim. Oleh sebab itu tidak boleh mengabaikannya,” kata Abdul Malik, Selasa (26/4).

Hizbullah: Kita Berdiri di Ambang Kemenangan

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah membeberkan catatan kemenangan melawan Israel. Saat berbicara di forum Mimbar Al Quds, Nashrallah menyatakan poros perlawanan di seluruh dunia telah siap berkorban demi pembebasan Al Quds.

“Hari ini, kita berdiri di ambang kemenangan besar dan terakhir,” kata pemimpin Hizbullah di Lebanon, Selasa (26/4).

Nashrallah pun mengusulkan agar poros perlawanan disebut sebagai poros Al Quds. Menurutnya, penggunaan nama kota suci dapat menyatukan kelompok-kelompok perlawanan di seluruh dunia.

Ia juga memperingtkan penguasa global menggunakan strategi “membunuh waktu” terkait masalah Palestina. Menurut dia, strategi ini bertujuan agar isu Palestina dilupakan. Selain itu, muslimin juga akan berputus asa dan tak lagi memperjuangan kemerdekaan Palestina.

“Namun, yang terjadi sebenarnya bertentangan dengan keinginan mereka,” kata Nasrallah.(PRESS TV/hsn)