AJI: Perhatikan Kode Etik dalam Pemberitaan Ade Armando

Suasana aksi demo mahasiswa di pintu masuk Gedung DPR/MPR RI, Senin (11/4/2022). Tangkapan layar

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Aksi demo mahasiswa pada 11 April 2022 diwarnai dengan insiden pengeroyokan terhadap Ade Armando. Ketua Umum ormas Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) itu mengalami luka-luka dan pelecehan bahkan ia nyaris ditelanjangi oleh sekelompok orang. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengimbau jurnalis dan media memperhatikan kode etik terkait pemberitaan insiden tersebut.

Ketua Bidang Pendidikan, etik dan profesi AJI Indonesia Edy Can mengatakan video dan foto-foto penganiayaan Ade tersebar luas di berbagai media sosial. Di dalamnya, memuat video dan foto Ade yang bermuka lebam dan nyaris telanjang.

“Aksi pengeroyokan dan penganiayaan secara brutal ini terekam oleh kamera. Tak lama kemudian beredar video penganiayaan dan foto-foto Ade yang terlihat bermuka lebam, berdarah, dan hanya mengenakan celana pendek,” kata Edy melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (13/2/2022).

“Ade tampak diselamatkan seseorang dan masuk ke dalam sebuah mobil. Potongan video yang memperlihatkan kekerasan dan foto-foto ini beredar luas melalui grup-grup whatsapp dan media sosial,” lanjutnya.

Padahal, kata dia, jurnalis dan media seharusnya mematuhi pedoman pemberitaan dan kode etik jurnalisme yang melarang publikasi dengan narasi yang mengandung kekerasan atau sadis.

Oleh sebab itu, terkait pemberitaan penganiayaan Ade Armando, AJI Indonesia mengimbau agar para jurnalis dan media memperhatikan kode etik dan P3SPS. Seperti tercantum dalam Kode Etik Jurnalistik pasal 4, “Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.”

Menurut Edy, hal ini juga tercantum dalam Pedoman Pemberitaan Media Siber pada pasal 3 Isi Buatan Pengguna butir c yang berbunyi, “Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa isi buatan pengguna yang dipublikasikan: (1) tidak  memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul ; (2) Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) serta menganjurkan tindakan kekerasan.

“Dalam membuat laporan hendaknya tidak menampilkan, meneruskan atau menyebarkan foto atau video yang memperlihatkan kekerasan atau sadisme,” tegasnya.

Selain itu, AJI Indonesia juga mengimbau jurnalis dan media untuk tidak ikut menyebarkan data pribadi orang yang terlibat dalam peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan ini melalui pemberitaan atau melalui media sosial.(hsn)