1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila, BPIP: Mengentaskan Indonesia dari Amukan Wabah COVID-19

0
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
NKRI dan Pancasila. Gambar ilustrasi

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo menyebut gotong-royong berhasil mengentaskan bangsa Indonesia dari amukan wabah COVID-19. Romo Antonius menyatakan nilai gotong-royong tersebut merupakan salah satu perwujudan dari kesaktian Pancasila, khususnya sila kelima.  

“Itu kan realisasi sila ketiga dan sila kelima (Pancasila),” kata Romo Antonius Benny Susetyo melalui situs resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Jumat (1/10/2021).

Romo Antonius mengatakan, dalam memperingati hari kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober, para pejabat negara hendaknya fokus dalam mewujudkan cita-cita bangsa dengan tetap menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia pun menyatakan apresiasi atas kinerja pemerintah dan mengaitkannya dengan pemerataan pembangunan.

“Mari kita maknai hari kesaktian Pancasila ini jangan sebatas seremonial melainkan dengan aksi-aksi nyata menanamkan nilai-nilai Pancasila terutama di pejabat publiknya,” ajak Romo Antonius.

“Kalau memang ada masalah (kekurangan) ya semua bangsa ada masalah, tetapi kita mampu mengatasi COVID-19 ini,” imbuhnya.

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober, sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967, setelah Peristiwa Gerakan 30 September yang lebih dikenal sebagai G30S atau G30S/PKI.

Pada peristiwa tersebut, enam jenderal dan beberapa orang lainnya gugur di tangan sekelompok orang yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Gejolak tersebut akhirnya berhasil diredam oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), hingga kemudian dinamakan Hari Kesaktian Pancasila.

Peristiwa 30 September 1965 itu masih menjadi perdebatan hingga kini, mengenai siapa yang mendorong dan apa latar belakangnya. Namun demikian, pihak militer dan sejumlah tokoh menyebutnya sebagai upaya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang bertujuan untuk mengubah ideologi bangsa Indonesia menjadi ideologi Komunis. Lantaran upaya PKI tersebut berhasil digagalkan, maka Pancasila layak dianggap sakral dan sakti sebagai dasar negara.

Sembelumnya, Plt. Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama BPIP Prof. Dr. Adji Samekto M., menyebut bahwa selain menjadi sejarah dan masa lalu, Pancasila adalah masa depan bangsa Indonesia.

“Berbicara Pancasila bukan bicara masa lalu, tapi masa depan bangsa Indonesia,” pungkas Adji, dalam sebuah diskusi di Semarang beberap bulan lalu.

Menurut Adji, para pendiri bangsa tidak memaknai Pancasila secara utopis atau abstrak belaka. Para pendiri bangsa, telah menjabarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara kualitatif dan kuantitatif dan mewujudkannya dalam kerja nyata.(hsn)

Komentar