Bongkar Fakta, Informasi Seputar Konflik Suriah Sangat Bias dan Banyak Hoaks

0
Gus Najih bersama Ismail main dalam diskusi online bertema Memahami Konflik Suriah dari Perspektif Alumnus Suriah di kanal Youtube Ismail Amin, Kamis (15/4/2021) malam. Gambar tangkapan layar

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Gus Najih Ramadani, alumni Universitas Kuftaro Damaskus, Suriah, menyebut informasi seputar konflik di negara tersebut sangat bias dan banyak mengandung kebohongan (hoaks). Ia juga mengatakan bahwa informasi keluar terkait konflik di Suriah sebagai ‘Revolusi Photoshop’. Gus Najih menilai, Suriah termasuk negara pertama yang menjadi korban propaganda di media sosial. 

“Kalau kita melihat, konflik Suriah adalah konflik yang cukup complicated. Informasi yang keluar dari konflik Suriah itu kan sangat bias sekali.” ungkap Gus Najih dalam diskusi online bertema Memahami Konflik Suriah dari Perspektif Alumnus Suriah melalui kanal Youtube Ismail Amin, Kamis (15/4/2021) malam.

“Makanya, peristiwa yang terjadi di sana sering disebut sebagai Revolusi Photoshop. Karena banyaknya kebohongan dan kabar hoaks yang berkaitan dengan konflik Suriah,” imbuhnya.

Gus Najih yang juga selaku Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Al-Syami) itu memaparkan, Suriah termasuk negara pertama yang menjadi korban disrupsi informasi di media sosial. Dalam penjelasannya, ia mencontohkan informasi di medsos yang menyebut bahwa pergolakan di Suriah merupakan konflik Sunni-Syiah.

“Ini kan sebenarnya sangat jauh.Ini mungkin bagian dari propaganda yang mungkin berhasil di tempat lain,” ujar dia.

Tempat lain yang dimaksud oleh Gus Najih adalah Irak. Menurut dia, adu domba antara Sunni-Syiah di negara tersebut dianggap berhasil. Namun demikian, Gus Najih mengatakan propaganda tersebut tidak berhasil di Suriah. Ia mengungkapkan bahwa dalam sejarah negara Suriah, belum pernah terjadi konflik sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah.

“Di Irak dulu, Saddam Husein sempat mendiskriminasi kaum Syiah,” katanya.

Alumni Suriah itu juga mengatakan bahwa agenda dengan pola yang sama, kini sedang dijalankan di Indonesia. Agenda yang dimaksud adalah propaganda yang terus menerus dihembuskan melalui media sosial yang bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan terhadap pemerintah.

“Kalau saya lihat secara kronologis, agenda-agenda yang dilakukan, yang pertama adalah menghilangkan kepercayaan terhadap pemerintah,” tutur Gus Najih.

Informasi yang dihembuskan pihak-pihak tertentu dengan tujuan ini di antaranya adalah melabeli pemerintah dengan PKI, pemerintah anti Islam, kriminalisasi ulama dan sebagainya. Fenomena disinformasi ini, beber Gus Najih, juga diarahkan kepada Presiden Suriah Bashar Asad.

Oleh sebab itu, Gus Najih meminta agar masyarakat lebih jeli dalam menyaring informasi. Ia juga berpesan agar umat Islam mau berpikir jernih serta tidak mudah dihasut.(hsn)

Komentar