Penggusuran di Gang Buntu Pancoran Rusuh, Warga Bentrok dengan Preman dan Ormas

0
Aparat saat menembakkan gas air mata ke massa yang terlibat bentrok di Pancoran, Jakarta Selatan. (Foto: Wahyu A.P.)

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Warga Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan mengalami kekerasan dalam upaya penggusuran kembali yang dilakukan oleh PT Pertamina Training and Consulting (PTC) pada Rabu (17/03/21). Hal ini diungkap oleh perwakilan warga yang tergabung dalam Forum Pancoran Bersatu.

Sebelumnya diketahui bahwa warga di wilayah tersebut terlibat sengketa lahan dengan pihak Pertamina. Berdasarkan kesaksian warga, serangkaian upaya penggusuran paksa dilakukan beberapa kali dengan intimidasi dan kekerasan.

Puncaknya, terjadi kekerasan pada Rabu (17/03) malam. Perwakilan Forum Pancoran Bersatu, Leon Alvida Putra menyatakan akibat kekerasan itu sejumlah warga menderita luka-luka.

“Jumlah data korban kekerasan Pancoran 22 orang. Dengan rincian korban luka ringan 15 orang, korban luka berat 7 orang. Seorang warga dengan luka berat masih dirawat di RS Tebet,” katanya seperti dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (18/3) dini hari.

Ia juga mengatakan bahwa beberapa warga yang dirawat mengalami luka seperti kepala bocor dan kaki sobek, bahkan terdapat warga yang tak sadarkan diri akibat insiden ini.

Leon menuturkan, kericuhan bermula ketika organisasi masyarakat (ormas) dan preman mendatangi lokasi pemukiman warga dan memblokade akses masuk dan pintu belakang Gang Buntu II sekitar pukul 15.00 WIB.

Warga meminta preman dan gerombolan ormas itu pergi lantaran mereka terus melakukan intimidasi. Pihak preman dan ormas diminta segera mengembalikan sekolah PAUD di wilayah pemukiman sekitar yang dikuasai secara paksa.

Sekitar pukul 17.00 WIB, warga dan perwakilan forum melakukan negosiasi dengan pihak Pertamina, Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pancoran. Pertamina meminta warga mengirimkan perwakilan untuk melakukan mediasi. Namun warga menolak.

“Karena yang sudah-sudah mediasi hanya berujung intimidasi dan ancaman untuk menandatangani surat penerimaan kerohiman,” Leon menuturkan.

Buntut dari negosiasi itu, Pertamina akhirnya menyerahkan kembali bangunan sekolah PAUD ke warga. Namun aparat dan ormas tidak keluar dari wilayah pemukiman.

Pada sekitar pukul 18.30 WIB, kata Leon, situasi sudah mulai memanas. Kericuhan kemudian pecah pukul 22.00 WIB. Ia menyebut ormas berupaya memprovokasi warga dan melempari batu ke arah warga sehingga terjadi bentrokan.

Ia juga menyebut bahwa sempat ada tembakan gas air mata ke posko medis yang digunakan untuk merawat warga yang menderita luka akibat insiden tersebut. Akibat kondisi yang memanas, warga berupaya menghubungi ambulans dari rumah sakit terdekat, namun tidak ada yang mau menangani.

Pihaknya menceritakan, akses bantuan untuk posko medis susah dijangkau karena seluruh pintu masuk Gang Buntu II dijaga ketat oleh aparat.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan atau keterangan resmi apapun dari pihak-pihak yang bersangkutan. (mra)

Komentar