Teror Debt Collector Pinjaman Dana Online Terjadi Lagi!

0

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Teror bertubi-tubi dari Pendanaan Online ternama kembali terjadi, kali ini dialami seseorang yang bernama AB, yang tinggal di Kelurahan Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Selasa (12/1/2021).

Seorang yang bernama Erna ( mungkin nama samaran ) dengan no hp 0838989233xxx selalu menerornya, ini dilakukan oleh debt collector dari kantor Pendanaan Online yang bernama Dolphin Dana yang beralamat di Citra Twon Squere, Mugirejo, Kec. Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 75245. Dengan melalui panggilan telepon setiap hari

“Menghubungi keluarga, kerabat, teman, hingga atasan tempat kerja yang ada di dalam data kontak ponselnya,” ungkapnya.

Erna juga mengancam akan menyebarkan foto yang bersangkutan dan bahkan menelpon atasan tempat kerja, dan akan menyebarkan foto atasannya jika yang bersangkutan masih belum membayar.

Cara keji lain yang biasa dilakukan oleh debt collector adalah dengan membuat grup WhatsApp yang berisi keluarga, kerabat, teman, hingga atasan kerja nasabah.

Menyebar foto nasabah hingga foto-foto berbau pornografi bila ada di ponsel nasabah dalam WhatsApp grup yang dia bikin. Diancam harus menjual ginjal hingga pelecehan seksual untuk melunasi utang.

Intimidasi dengan mengirim pesan singkat (SMS) ke seluruh nomor kontak yang ada ponsel. Intimidasi dengan kata-kata caci maki tak pantas dan pelecehan.

Dan masih banyak lagi bentuk teror dan ancaman serta intimidasi lainnya yang merugikan nasabah.

Itulah berbagai cara debt collector dari pinjaman online ilegal dalam menagih utang dari para nasabahnya. Dengan harapan teror itu bisa membuat nasabah gentar dan segera melunasi hutangnya.

Cara-cara tidak manusiawi ini biasa dilakukan oleh perusahaan pendanaan abal-abal alias ilegal, tak ada jaminan segala bentuk operasional usahanya, termasuk cara menagih utang itu sesuai standar dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Karena keberadaannya tak diakui pihak otoritas, artinya semua kegiatan usaha perusahaan pinjaman online ilegal ini tidak diawasi. Tak heran bila sering terjadi perlakuan semena-mena pada nasabah yang pinjam uang tunai dari aplikasi tinggal klik dan unduh di smartphone ini.

Saat terlambat bayar tagihan atau bahkan belum mampu lunasi utang karena bunga tinggi dan denda, berbagai teror dan ancaman dilontarkan hingga hal-hal tak senonoh dihunjamkan ke nasabah.

Bila sudah terlanjur terjebak utang di pinjaman online abal-abal ini, tak perlu panik lagi, begini cara lapor ke polisi:

  1. Kumpulkan semua bukti teror, ancaman, intimidasi, atau pelecehan.
  2. Datang ke kantor polisi terdekat.
  3. Buat laporan sesampaikan di kantor polisi.
  4. Atau adukan ke situs resmi OJK di https://konsumen.ojk.go.id/FormPengaduan
  5. Atau melaporkan ke situs aduankonten.id, maupun melalui Twitter @aduankonten.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan, persekusi dan penyalahgunaan data pribadi pelanggan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Peraturan Menteri Kominfo No.20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik.

Sementara itu, hukuman bagi perusahaan fintech pinjaman online yang ilegal alias tidak yang tidak sesuai dengan ketentuan berlaku, berdasarkan POJK Bo.77/2016 tentang Pengawasan Fintech Terdaftar di OJK, berikut hukumannya:

  1. Mengumumkan fintech pinjaman online (peer to perr lending/P2P) ilegal ke publik
  2. Mengajukan blokir situs web dan aplikasi ke Kementerian Komunikasi dan Informatika
  3. Memutus akses keuangan dari fintech ilegal tersebut
  4. Meminta perbankan untuk menolak pembukaan rekening tanpa rekomendari OJK
  5. Meminta bank melakukan konfirmasi ke OJK untuk rekening existing yang diduga digunakan untuk kegiatan fintech ilegal
  6. Minta BI (Bank Indonesia) melarang fintech payment system memfasilitasi transaksi fintech ilegal
  7. Melaporkan fintech ilegal ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri untuk penegakan hukum. ( AHA)

Tinggalkan Balasan