Trauma Sejak 2018, Wanita Korban Persekusi Solo: Apa Kami Nggak Boleh Punya Hajat?

0
Ilustrasi kekerasan terhadap wanita. (Foto: Shutterstock)

Solo, 5NEWS.CO.ID,- Gerombolan massa intoleran beratribut Islam tak pandang bulu dalam melakukan aksi kekerasan. Seorang perempuan, sebut saja Ipah, juga menjadi sasaran tindak persekusi di Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020) lalu. Selain luka ringan, wanita itu juga mengalami trauma setelah aksi serupa yang terjadi pada tahun 2018 silam.

“Sampai hari ini jari tangan saya tidak bisa ditekuk. Disposisi, jadi engselnya dua lepas,” ungkap Ipah saat ditemui 5NEWS.CO.ID, Selasa (29/9/2020) sore.

Ipah mengalami luka-luka di wajah dan kepala akibat pecahan kaca mobil. Ia mengaku melihat gerombolan orang berkumpul membawa batu, kayu dan besi. Meski lampu jalan saat kejadian padam, Ipah melihat mereka melalui sorotan lampu mobil.

“Saya duduk di dalam mobil, di belakang driver,” ujarnya.

Ipah menuturkan, saat mobil meninggalkan lokasi acara Midodareni, tiba-tiba massa menyerang mobil yang dia tumpangi. Gerombolan itu berteriak-teriak sambil memukuli mobil dengan tangan dan batu. Melalui sorotan lampu mobil, Ipah mengaku melihat banyak sekali batu dan alat pukul lain berbentuk seperti pentungan bisbol tergeletak di sekitar kaki massa yang berkumpul.

“Bagian kanan dan kiri mobil dipukuli dengan batu berkali-kali. Jadi yang pecah itu kaca mobil bagian samping kanan dan kiri. Padahal mereka tahu di dalam mobil penumpangnya wanita,” tutur dia.

Perempuan itu mengaku pernah mengalami persekusi serupa pada tahun 2018 silam. Aksi tak manusiawi itu, kata dia, menyebabkan trauma psikis yang masih membekas. Ditambah lagi, Ipah harus menjadi korban aksi yang sama pada awal bulan Agustus lalu.

“Jauh lebih membekas yang tahun 2018,”  kata Ipah.

Wanita itu menceritakan saat aparat menyuruhnya keluar meninggalkan lokasi bersama hadirin lainnya. Massa intoleran yang bergerombol di sepanjang jalan juga berteriak-teriak melontarkan kata-kata yang tak pantas.

“Aparat berjaga-jaga di sepanjang jalan keluar. Saya dan wanita-wanita lain yang lewat diteriaki pelacur, perempuan murahan, ditiduri halal lah. Dan mereka berteriak bukan dari jarak jauh, cuma berjarak setengah meter,” lanjut wanita paruh baya itu.

“Padahal ada anak-anak kecil yang ikut keluar bersama kami. Yang menyakitkan bagi saya, sebagian dari orang-orang itu memegang handphone dan merekamnya,” kata Ipah.

Ia berharap pihak berwenang lebih memperhatikan keamanan warganya. Menurut dia, semua warga negara memiliki hak yang sama dalam berkeyakinan dan bebas beribadah sesuai agama dan keyakinannya.

“Apa kami ini nggak boleh punya hajat?” ucap wanita korban tindak kekerasan di Pasar Kliwon, Solo, tersebut.(hsn)

Tinggalkan Balasan