Aparat Gelar Rekonstruksi, Kuasa Hukum Habib Umar Assegaf: Bukti Negara Hadir

0
Aparat Gelar Rekonstruksi, Kuasa Hukum Habib Umar Assegaf: Bukti Negara Hadir
Kuasa Hukum Habib Umar Assegaf, Anwar M Aris di hadapan awak media usai pelaporan kasus kekerasan intoleransi di Mapolresta Surakarta, Senin (10/8/2020). Foto Dokumen 5NEWS.CO.ID

Solo, 5NEWS.CO.ID,- Aparat dari Polresta dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta menggelar rekonstruksi penyerangan acara doa pernikahan Midodareni di Pasar Kliwon, Solo. Hal itu diperlukan sebagai kelengkapan berkas perkara sebelum dilimpahkan ke pengadilan.

Kuasa Hukum Habib Umar Assegaf, Anwar M Aris menilai hal itu merupakan bukti bahwa negara hadir dalam menjamin keamanan dan keselamatan warganya. Anwar mengatakan proses hukum yang dilakukan aparat adalah wujud keseriusan negara menanggulangi intoleransi dan radikalisme.

“Alhamdulillah pagi tadi penyidik sudah menggelar rekonstruksi kejahatan yang dilakukan oleh delapan orang tersangka berdasarkan keterangan saksi-saksi yang sudah termaktubkan dalam BAP,” kata Anwar kepada 5NEWS.CO.ID, Kamis (17/9/2020) malam.

Meski demikian, Anwar menyayangkan ada lima pelaku yang masih buron. Menurutnya, diantara kelima DPO tersebut merupakan otak dari pelaku penyerangan. Ia menyebut diantara DPO itu ada orang yang memilki kemampuan menggalang kekuatan massa.

“Diantara yang buron itu adalah orang yang punya uang dan bisa menggalang kekuatan massa. Ini adalah ancaman serius bagi klien saya dan keluarga besarnya serta ancaman bagi warga Surakarta,” ungkap Anwar.

Menurutnya, reka ulang adegan kekerasan yang diperagakan para tersangka itu sudah memenuhi unsur terorisme dan bertujuan sangat jahat. Ia menggambarkan, aksi brutal para tersangka itu menyisakan derita panjang kepada para korban. Oleh karenanya, Anwar berharap aparat bisa menangkap seluruh pelaku.

“Klien saya, Habib Umar Assegaf, sebagai seorang ayah tidak dapat menikahkan putrinya akibat dibubarkan secara paksa dan anarkis,” ujarnya.

“Saya sebut derita panjang karena klien saya akan menanggung dampaknya seumur hidup. Klien saya mengalami Tremor. Untuk mengangkat gelas saja dia sudah gemetaran, apalagi untuk bekerja,” tutur Kuasa Hukum itu.

Ia mengungkapkan bahwa kejahatan yang dilakukan para pelaku juga sudah mengarah kepada pembunuhan meskipun tidak ada korban jiwa. Apa yang dialami kliennya berupa trauma fisik dan psikis telah menghilangkan kemampuan Habib Umar Assegaf untuk kembali bekerja.

Selaku kuasa hukum, Anwar berharap kepolisian tidak hanya menerapkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) saja. Menurutnya, para tersangka seharusnya juga dijerat dengan undang-undang terorisme.

Anwar juga berharap kejadian yang dialami kliennya dijadikan aparat sebagai momentum untuk memberantas terorisme. Ia memaparkan, sebelumnya kelompok yang sama juga telah melakukan sejumlah aksi brutal yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, termasuk anggota kepolisian.(hsn)

Tinggalkan Balasan