Kaing Khek Iev Mantan Pejabat Rezim Kejam Khmer Merah Meninggal Dunia

0
Kaing Khek Iev atau Duch mantan pejabat rezim Khmer Merah

Phnom Penh, 5NEWS.CO.ID,- Mantan kepala penjara dan pusat penyiksaan Khmer Merah, Kaing KheK Iev atau dikenal dengan ‘Brother Duch’ meninggal dunia di usia yang ke 77 tahun di rumah sakit Phnom Penh pada 2 September 2020.

Petugas penjara Chat Sineang mengatakan Duch (Kaing Khek Iev) telah menjalani hukuman seumur hidup, ia dirawat dirumah sakit setelah mengalami masalah pernafasan dua hari sebelumnya.

Dalam persidangan di Kamboja, Duch mengaku berperan dalam Rezim Khmer Merah yang brutal diakhir tahun 1970-an dan merupakan salah satu pembunuh massal paling produktif.

“Saya bertanggung jawab secara individu dan individu atas hilangnya 12.380 nyawa. Saya masih dan selamanya ingin dengan penuh hormat dan dengan rendah hati meminta maaf pada jiwa-jiwa yang telah meninggal,” ungkapnya.

Pengadilan Internasional mengatakan jumlah korbannya mungkin jauh lebih besar dibanding yang dia sebutkan.

Pada tingkat banding, pengadilan menolak permohonan pembebasannya, walaupun ia bertobat menjadi Kristen Evangelis namun pihak pengadilan tidak terpengaruh. Duch berargumen bahwa dirinya hanya roda penggerak mesin pembunuh dari Khmer Merah.

Duch adalah salah satu dari tiga mantan pemimpin yang diadili atas penghancuran rezim komunis radikal Khmer Merah dan mengakui kesalahannya. Sayap militer partai komunis ini telah menewaskan 2 juta orang Kamboja selama pemerintahannya di tahun 1975-1979.

Kaing Khek Iev juga mengakui algojo Khmer Merah biasanya memukuli tahanan dengan pipa baja dan peralatan pertanian untuk menghemat peluru. Kemudian menggorok leher mereka lalu mendorongnya masuk ke lubang terbuka.

Selanjut bagi anak-anak yang memasuki Tuol Sleng (penjara penyiksaan) kepala mereka akan dibenturkan dipohon dan menjatuhkannya dari lantai tiga. Selain itu Khmer Merah juga melakukan kegiatan mengerikan dibekas sekolah menengah dengan memasukan “eksperimen medis” pada tahanan.

Beberapa diantaranya menjalani operasi bedah yang dilakukan oleh siswa. Tidak peduli apakah subjeknya masih hidup atau mati pada saat itu. Selain itu lebih dari 1.000 narapidana tewas saat diambil darahnya untuk keperluan tranfusi darah bagi tentara Khmer Merah. (sari)

Tinggalkan Balasan