Adik Perempuan Kim Jong-un Tebar Pernyataan Ancaman ke Korsel

0
Kim Jong Un (kiri) dan adik perempuannya Kim Yo Jong (kanan) saat menghadiri pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada 27 April 2018 lalu. (POOL New via REUTERS)

Jakarta, 5NEWS.CO.ID, – Adik perempuan dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo Jong, mengeluarkan pernyataan bernada ancaman terhadap negara tetangganya yang akhir-akhir ini kembali panas, Korea Selatan.

“Saya merasa ini adalah waktu yang sangat tinggi (peluang) untuk memastikan pemisahan dengan otoritas Korea Selatan. Kami akan melakukan sebuah langkah berikutnya,” ujar Kim Yo-jong yang disiarkan kantor berita Korut, KCNA, seperti dilansir AFP.

Itu adalah pernyataan keras dari adik pemimpin Korut tersebut menyusul ketegangan terbaru dengan Korea Selatan. Sebelumnya, pada pekan lalu Pemerintah Korea Utara memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Korea Selatan.

Hal itu dilakukan setelah Pyongyang memprotes aktivis konservatif Korsel yang terus menyebarkan selebaran anti-Korea Utara di wilayah perbatasan. Korut meminta Korsel bertindak untuk menghentikan kegiatan para aktivis yang sebagian besar merupakan pembelot asal negara terisolasi itu.

“Dengan menggunakan kekuatan saya yang disahkan oleh Pemimpin Tertinggi, Partai kita dan negara bagian, saya memberikan instruksi kepada semua departemen yang bertanggung jawab atas urusan dengan musuh untuk secara tegas melakukan tindakan selanjutnya,” kata Kim Yo Jong,

“Hak yang benar untuk melakukan tindakan selanjutnya untuk menanggapi musuh akan dipercayakan kepada Komandan Staf Kami dari Tentara,” imbuhnya.

Korut mengatakan pemutusan jalur itu yang mulai berlaku mulai hari ini (13/06/20) mulai pukul 12.00 waktu setempat.

Sebelumnya pada Kamis pekan lalu, Kim Yo-jong, mengancam akan membatalkan perjanjian militer yang disepakati pada 2018 lalu karena persoalan yang sama.

Sementara itu para pejabat Korsel mengatakan mereka akan mendorong undang-undang yang melarang kegiatan penyebaran selebaran yang dilakukan oleh para pembelot. Namun rencana ini memicu perdebatan tentang potensi pelanggaran kebebasan berekspresi di negara itu.

Sementara itu setelah sempat tak terlihat, per Senin (08/06/20), Kim Jong-un kembali memimpin rapat Politbiro partai Komunis. (mra)

Tinggalkan Balasan