Balas Tudingan, Iran Sebut 16 Ribu Kematian di AS Terjadi Akibat Flu

0
Gambar Ilustrasi

Teheran, 5NEWS.CO.ID,-  Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam Amerika Serikat (AS) dan menyebut para pejabat negara itu menebar ketakutan terkait penyebaran virus corona. Sementara pejabat AS, kata Rouhani, tak sedikitpun menyebut kematian yang merenggut nyawa 16.000 warganya akibat influenza.

“Kita tidak seharusnya membiarkan Amerika menebarkan virus baru yang disebut virus corona dengan  ketakutan ekstrem,” kata Rouhani seperti dikutip AFP, Rabu (26/2/2020).

Rouhani menyatakan Amerika sendiri tengah berjuang melawan wabah virus ini. Ia mengatakan 16.000 jiwa melayang di AS akibat flu namun pejabat negara itu tak pernah menyebutnya.

“Amerika sendiri padahal tengah berjuang melawan corona. 16.000 orang meninggal karena influenza di sana tetapi mereka tidak bicara soal kematian ini,” tandasnya.

Presiden Iran buka suara setelah Sekretaris Negara AS Mike Pompeo menuduh Iran masih menyembunyikan rincian detail soal penyebaran corona di negara tersebut. Ia meminta Iran lebih terbuka soal corona. Pompeo memperkirakan korban yang terdampak corona lebih banyak daripada yang diumumkan. Apalagi Iran dan China, kata dia, punya hubungan dagang yang kuat.

Menurut angka yang dirilis Humas Kementerian Informasi Iran Kianoush Jahanpour, secara keseluruhan, penyebaran itu telah merenggut 19 nyawa di seluruh negeri dan menginfeksi 139 warga lainnya. Kasus corona ditemukan pertama kali di kota Qom yang menjadi tujuan bagi peziarah Muslim dari seluruh dunia.

Lebih jauh, Presiden Hassan Rouhani mengatakan paket anti virus korona yang dikembangkan oleh para ahli Iran sedang menjalani tes tahap akhir dan segera memasuki tahap produksi massal dalam waktu dekat.

“Kita akan membuat ratusan ribu dan bahkan jutaan kit ini, dan mendistribusikannya ke semua rumah sakit di negara,” katanya, mencatat bahwa paket tersebut akan memungkinkan petugas medis untuk dengan mudah mendiagnosis kasus baru.

Virus – bernama COVID-19 – pertama kali muncul di Cina akhir tahun lalu dan sekarang menyebar di Eropa dan di seluruh Timur Tengah, memicu kekhawatiran pandemi global. Wabah ini telah menewaskan lebih dari 2.600 orang dan menginfeksi lebih dari 77.000 lainnya di Cina. Tetapi situasi telah memburuk di tempat lain dengan hampir 2.700 kasus lain dan mengakibatkan lebih dari 40 kematian secara global.

Di lain pihak, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah karena 14 warga AS yang terinfeksi virus corona (COVID-19) dipulangkan ke Negeri Paman Sam pada pekan ini. Dua pejabat pemerintahan AS mengatakan keputusan tersebut mengejutkan Trump yang mengidap germaphobia (memiliki ketakutan berlebih terhadap kuman).

Kemarahan Trump muncul karena dirinya tak mendapat pengarahan terlebih dahulu mengenai warga AS yang terinfeksi virus corona. Trump mengungkapkan kegeramannya kepada Menteri Kesehatan dan Layanan Sosial Alex Azar dan beberapa petinggi lainnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS juga mempermasalahkan kepulangan warga AS tersebut dan menyebut warganya yang terinfeksi virus corona bisa menularkan virus kepada lebih banyak penduduk AS.

Pada 2014, selama krisis Ebola di Afrika, Trump, yang saat itu belum menjabat presiden, menuntut agar pemerintahan Obama membatalkan penerbangan dan melarang siapa pun yang terinfeksi virus memasuki negara tersebut, termasuk pekerja medis Amerika yang telah pergi ke Afrika untuk menolong. “JAGA MEREKA JANGAN SAMPAI KE SINI!” tulis Trump pada 31 Juli di Twitter setelah mengetahui bahwa seorang pekerja medis Amerika akan dievakuasi ke Atlanta dari Liberia.

“AS tidak dapat mengizinkan orang yang terinfeksi EBOLA kembali,” tulis Trump di Twitter pada hari berikutnya. “Orang-orang yang pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk membantu itu hebat, tetapi harus menanggung akibatnya!” ujar Trump di rentetan twitnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan