KontraS Sesalkan Masyarakat Tolak Pemakaman Warga Syiah Sampang

0
Tajul Muluk, salah satu tokoh pengungsi syiah Sampang (foto:arrahmah)

Surabaya, 5NEWS.CO.ID, – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya, Fatkhul Khair, menyesalkan sikap masyarakat Desa Karanggayam, Kabupaten Sampang, yang menolak pemakaman salah satu warga syiah Sampang, Umah binti Maruki.

Ibu dari tokoh syiah Sampang, Tajul Muluk ini meninggal pada usia 69 tahun di pengungsian Rusun Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo pada Rabu (12/02/20). Umah kemudian dikebumikan di sebuah desa di Kabupaten Bangkalan. Umah meninggal setelah menderita sakit yang cukup lama.

Fatkhul menjelaskan, sulitnya memakamkan Umah di tempat asalnya, Desa Karanggayam, Kabupaten Sampang menunjukkan pemerintah gagal mewujudkan persamaan hak warga negara.

“Negara belum berhasil dalam melindungi kelompok minoritas,” kata Fatkhul saat dimintai keterangan, pada Jumat, (14/02/20).

Ia mendesak pemerintah untuk segera membuat skema penyelesaian masalah atas konflim yang terjadi sejak 2012 itu. Karena, sejak minoritas syiah diungsikan ke Rusun Jemundo 8 tahun lalu, empat orang diantara pengungsi itu meninggal dan tidak bisa dimakamkan di kampung halamannya karena ada penolakan.

“Mereka meninggal dalam status sebagai pengungsi dan dimakamkan di tempat pemakaman umum milik Kabupaten Sidoarjo,” terang Koordinator KontraS Surabaya itu.

Salah seorang Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Beka Ulung Hapsara juga menilai penolakan pemakaman ibu Tajul Muluk itu bertentangan dengan prinsip penghormatan hak asasi manusia yang mengedepankan perlindungan harkat dan martabat manusia.

“Itu termasuk dalam norma dan standar HAM,” ujar beka saat dihubungi.

Tajul Muluk sendiri mengatakan bahwa semula ia hendak memakamkan ibunya di kampung halamannya di Karanggayam. Dengan momentum meninggalnya sang ibu, Tajul berharap dapat membangun rekonsiliasi dan kerukunan dengan warga Sampang.

Namun karena ada sejumlah kendala, baik berupa komunikasi maupun kondisi, Tajul akhirnya memutuskan untuk memakamkan ibunya di Bangkalan. Hal itu ia lakukan setelah terjadi kesepakatan antara dia dan saudara-saudaranya di Bangkalan.

“Alhamdulillah sampai di Bangkalan (almarhumah) langsung dimakamkan dan berjalan lancar. Warga desa tidak ada yang mempermasalahkan,” kata dia. (mra)

Tinggalkan Balasan