Lamban!!! Demonstran Kecam Penanganan Karhutla, Serukan Atasi Perubahan Iklim

0
Demonstran berkumpul di pusat kota Sydney, mengecam lambannya penanganan karhutla di negaranya

SYDNEY, 5NEWS.CO.ID,- Kebakaran hutan dan lahan telah melanda Australia sejak September 2019 lalu. Penanganan yang lambat, menuai kecaman para aktivis diberbagai negara didunia.

Di Sydney sendiri, massa menuntut untuk melakukan tindakan nyata yang ‘lebih dan responsif’. Mereka juga menyuarakan kebijakan atas perubahan iklim yang lebih parah akibat kebakaran tersebut. Situasi serupa rencananya akan digelar diseluruh Australia.

“Kami berharap pada pemerintah untuk mengelola cara kebakaran hutan yang berbeda. Dan Saya berharap ini adalah seruan untuk mereka untuk mengubah kebijakan iklim dan mengakui kebenaran bahwa kita berada di darurat iklim. Dan mereka harus segera menurunkan tingkat emisi ke nol, secepatnya,” kecam AJ Tennant, aktivis, Sabtu (11/1/20).

Situasi serupa juga terjadi di pusat ibukota Lima, Peru. Pengunjuk rasa berkumpul dan memprotes tindakan pemimpin dunia atas parahnya efek perubahan iklim. Sebagian mereka memakai kostum binatang asli Negeri Kanguru sebagai bentuk keprihatinan atas musibah yang mendera.

Di Brasil, aktivis berkumpul di depan Kedubes Australia di Rio Janeiro, memprotes lambannya mengatasi karhutla yang dilakukan Canberra. Hal sama ditujukan kepada para pemimpin dunia untuk mendeklarasikan darurat perubahan iklim.

Aktivis lingkungan, Pedro Cunha menyebut, “Kita hidup dalam konteks yang sudah tidak bisa menggunakan kata ‘perubahan iklim’, bukan hanya iklim yang berubah, tetapi darurat krisis iklim. Jadi, Kita disini menuntut, tidak hanya untuk Pemerintah Australia, tetapi meminta para pemimpin dunia mendeklarasikan keadaan darurat iklim. Sehingga ada cara untuk menghadapi peristiwa dan fenomena kebakaran ini dengan cara yang lebih profesional dan bermartabat.”

Ratusan aktivis iklim juga melakukan aksi di luar sebuah perusahaan di Jerman, atas keterlibatannya dalam proyek tambang batubara di Australia. Mereka menginginkan korporasi menghentikan aktifitas pembangkit listriknya yang telah menyumbang emisi terhadap pemanasan global. (h@n)

Tinggalkan Balasan