Dilema Kusir Kuda Di Kepulauan Prince Istanbul, Turki

0
kondisi kuda yang sekarat jadi tontonan wisatawan

Prince Islands, 5NEWS.CO.ID,- Menyusuri hutan pinus dengan naik kereta kuda telah menjadi daya tarik wisatawan. Tersaji nuansa romantis, menjadikan Kepulauan Prince sangat terkenal hingga manca negara.

Namun banyaknya kuda yang sakit dan kurang terawat, menjadikan bisnis itu dihentikan sementara waktu.

Komite Parlemen Turki pada Oktober lalu melaporkan, sekitar 400 ekor kuda di Kepulauan Prince, Istanbul, kurang perawatan hingga sekarat. Ditengarai, kuda-kuda bekerja terlalu berat dan ditelantarkan.

Otoritas Istanbul pun telah mengeluarkan larangan untuk tidak mempekerjakan kuda-kuda selama 3 bulan. Istal-istal yang tidak ber-izin dihancurkan dan digantikan dengan area karantina perawatan.

“Jangan sepenuhnya menyingkirkan sistem. Mari kita simpan sejumlah kereta kuda, hanya untuk turis dan nostalgia. Mereka harus digunakan dengan layak dan hati-hati. Mereka tidak boleh melakukan perjalanan panjang. Harus lebih karena alasan simbolis,” terang Erdem Gul, Walikota Kep. Prince, Senin (6/1/20).

Namun kebijakan karantina dari pemerintah, tidak serta merta membuat para aktivis penyayang satwa jadi ‘terkesan’. Mereka berdalih bahwa kuda-kuda masih saja diselundupkan ke pulau-pulau lain. Aktivis menyarankan agar diganti dengan kendaraan listrik dan melupakan soal ke-romantis-an. Bahkan melayangkan protes hingga menginisiasi petisi bertajuk “jangan naik kereta, kuda-kuda sedang sekarat”.

“Ada penyakit yang belum diobati. Kami melihat kuda yang mati karena kekurangan gizi, kurang perawatan dan kondisi hidup yang buruk,” papar Elif Erturk, aktivis penyayang satwa.

Diketahui 1.000 ekor kuda terdaftar di empat pulau utama. Namun 1000 lainnya disimpan disuatu tempat atau ditinggalkan di hutan, hingga kerap menjadi santapan anjing liar.

Kebijakan karantina pemerintah membuat marah 1.500 orang kusir, yang sebagian besar telah bekerja sejak remaja. Mereka dan para pemilik kuda berharap ada formulasi lain demi kesejahteraannya.

“Kami tidak ingin kuda dilarang. Tidak hanya untuk Kami, tetapi juga untuk semua hewan. Jika kereta kuda datang, kemana kuda-kuda akan pergi? Siapa yang akan menjaga kuda ini? Ada lebih dari 2.000 kuda disini, siapa yang akan merawat mereka? Mereka semua akan berakhir sebagai sosis,” ujar Hasan Cetek, seorang kusir kuda. (h@n)

Tinggalkan Balasan