Cerita Nenek Dayyara Bikin Hati Wabup Sumenep Jadi Iba

0

Sumenep, 5NEWS.CO.ID, – Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi  SH, merasa prihatin dengan cerita dan keadaan dari nenek Dayyara (82). Ia mengaku merasa miris dengan kehidupan si nenek yang serba kekurangan dan sebatang kara. Informasi ini didapatkan dari seorang teman.Tidak beberapa lama ia langsung meninjau lokasi untuk memastikan kebenaran dari informasi tersebut.

Nenek Dayyara (82) adalah warga desa Gapuro Timur, Sumenep, Madura, Jawa Timur, tinggal sendiri didalam sebuah rumah bambu yang berukuran kurang lebih 6 x 2 meter. Rumah ini merupakan bantuan dari warga sekitar.

Dalam kehidupan keseharian nenek Dayyara hanya berjualan sapu lidi, yang dihargai cuma Rp 1000 per ikat. Uang hasil jualan ia belikan beras yang dicampur dengan jagung. Sapu lidi yang dibuatnya tidak setiap hari, melainkan menunggu jatuhnya pelepah daun kelapa yang sudah kering. Pelepah tersebut daunnya dibuang yang tersisa hanya lidinya, kemudian dijadikan satu untuk diikat. Nenek Dayyarah hanya bisa menjual 1 sapu lidi saja. Karena tenaganya sudah tidak mampu lagi.

“Ontong bedhe se lakar langgenan melle posapo lente, deddhi ben lastare e ka gebhei langsung e kone’e ben orengnga (saya memang beruntung punya langganan sapu lidi yang masih mau membeli, jadi setiap selesai dibuat langsung diambil),” kata nenek Dayyara, Minggu (22/12).

Nenek Dayyara juga mengaku hasil jualan sapu lidi masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Tak cokop pak, tape kadhinapa pole (gak cukup pak, tapi mau gimana lagi),” ucapnya saat berbincang dengan Wakil Bupati Sumenep.

Mendengar curahan hati si nenek tersebut membuat hati Wabup Ahmad Fauzi merasa iba dan simpati, saat itu juga Wabup membelikan bahan- bahan sembako.

Menurut Achmad Fauzi kasus nenek Dayyara ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, melainkan tanggungjawab bersama sebagai manusia. Ia juga meminta maaf jika selama 4 tahun menjabat jadi Wakil Bupati Sumenep belum bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

Achmad Fauzi berjanji akan terus memantau lansia yang hidup  sebatang kara tersebut. Ia juga mengajak para warga sekitar untuk ikut memperhatikan dan melaporkan kepada pemerintah apabila ada orang-orang yang hidup sebatang kara agar mendapat perhatian dan bisa hidup lebih layak. (end)

Tinggalkan Balasan