Peringati Arbain Imam Husain, Ketua MUI Jepara Berpesan Jaga Toleransi dan Saling Menghargai

1
173

Jepara, 5NEWS.CO.ID, – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jepara KH. Dr. Mashudi mengatakan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan karena perbedaan adalah sunahtullah yang sudah tergores di lauhul mahfud.

Terlebih lagi kita di Indonesia, katanya, salah satu negara yang sangat beragam baik suku, ras, bahasa, agama, aliran kepercayaan dan lain sebagainya.

“Jadi tidak heran jika ada yang berbeda agama maupun mazhab. Selagi berada dalam jalan yang diridhai Allah Swt kita akan terus menjunjung tinggi dan saling mendukung. Seperti hari peringatan Arbain Imam Husain semacam ini,” katanya pada acara peringatan Arbain Imam Husain di Gedung Wanita Jepara, Sabtu (19/10/2019).

Menurut dosen UNISNU itu, salah satu cara menyatukan perbedaan agar tidak terjadi permasalahan dan juga tumbuh toleransi maka harus saling menghargai. Karena dengan saling menghargai akan mendapatkan rahmah dari Allah Swt.

“Sebagaimana Imam Syafii mengatakan, pendapatku bisa jadi benar namun ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah namun bisa jadi ada kemungkinan benar. Artinya sebagai manusia kita harus saling menghargai perbedaan dengan pendapat orang lain,” katanya di hadapan ribuan jamaah Ahlulbait dari berbagai kota di Jawa Tengah itu.

Lalu toleransi seperti apa yang harus dilalukan? Tanyanya.

“Yaitu toleransi akan terlihat jelas dalam kehidupan sehari hari. Diantaranya harus saling menyapa antara sesama muslim dan sesama warga Indonesia. Karena dengan menyapa kita saling kenal dan menumbuhkan rasa toleransi itu sendiri,” katanya dalam acara yang bertema Arbain Simbol Toleransi Kemanusiaan dan Kebangsaan itu.

Menurut tokoh Jepara itu, Pancasila adalah bingkai dari Indonesia dan NKRI merupakan harga mati bagi kita. Maka sikap toleransi sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Kemudian Kiai Mashudi melontarkan pertanyaan kepada hadirin, apakah kita rela negara Indonesia ini di rusak oleh orang-orang yang tidak memiliki jiwa toleransi? Hadirin dengan tegas menjawab tidak.

“Dengan toleransi kita akan memperoleh kebahagiaan. Menafsirkan kebahagian membutuhkan ijtihad. Ijtihad membutuhkan kecerdasan dan sesiapa yang telah melakukan langkah semacam ini ia akan merasakan kebahagiaan,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri ceramahnya, kiai Mashudi berpesan, jadilah seperti jam dinding walaupun tidak dihargai ia tetap bekerja dengan Istiqomah.

“Oleh karena itu Jadilah hidup kita sebagaimana jam dinding yang senantiasa istiqamah walaupun tidak di hargai,” katanya.

Sejelek-jeleknya generasi yang mengandalkan orang tuanya. Sebaik-baiknya generasi ia yang melihat kondisi masa lampau dan belajar darinya, pungkasnya. (mas)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan