Warga Papua Nugini Menolak Kehadiran Separatis Papua Merdeka

0
62

Papua, 5NEWS.CO.ID, -Kahadiran para separatis Papua Merdeka ditolak oleh tokoh masyarakat Papua Nugini (PNG), Ray Tanji, di perbatasan dengan Indonesia. Ray Tanji adalah tokoh masyarakat di Wutung, Vanimo, Propinsi West Sepik yang berbatasan langsung dengan distrik Skouw, Jayapura, Indonesia.

Ray Tanji meminta kepada aparat yang berwenang untuk memulangkan mereka ke Jayapura. Dia menyatakan, kehadiran elemen gerakan Papua Merdeka di PNG telah menimbulkan banyak masalah bagi warga perbatasan.

“Saya meminta kepada Pemerintah Papua Nugini untuk menyingkirkan orang-orang ini dari Vanimo, karena merekalah yang menimbulkan masalah di perbatasan,” terangnya.

Demi menjaga keamanan warga setempat, Tanji meminta kepada aparat PNG untuk menyelidiki kehadiran dan aktivitas elemen separatis Papua Merdeka. Akibat ulah separatis ini, banyak  warga masyarakat PNG di perbatasan menderita.

“Pemerintah PNG hanya perlu melakukan satu hal, pulangkan mereka ke wilayahnya sendiri yaitu di Jayapura,” kata Tanji.

Akibat adanya kontak senjata antara aparat militer RI dengan para separatis  yang terjadi tanggal 1 Oktober  2019 lalu mengakibatkan  pihak berwenang langsung menutup akses perbatasan Indonesia – PNG di Skouw – Wutung, Distrik Muara Tami, Jayapura.

Menurut Komandan Satuan Tugas ( Dansatgas ) Pengamanan Perbatasan ( Pamtas ) RI – PNG dari Yonif 713/ST Mayor Inf Dony Gredinand, bunyi tembakan yang terdengar beberapa kali pada pukul  06.00 WIT menyebabkan kekhawatiran di kalangan warga perbatasan.

Diberitakan pula adanya aparat keamanan RI yang terkena tembakan, sebagaimana disebutkan dalam laporan yang belum terkonfirmasi  bahwa adanya dua prajurit RI yang terluka. Dan berita itu dibantah oleh Mayor Dony.

“Tidak ada yang kena tembakan atau lainnya, warga diperbatasan aman,” bantah Dony.

“Sampai saat ini pihaknya belum pernah mendengar adanya aktivitas elemen Papua Merdeka di willayah itu,” ujarnya.

Dony menjelaskan untuk sementara warga PNG diminta untuk tidak mengunjungi perbatasan karena pertimbangan keamanan.  Sementara itu warga Wutung pada, Jumat (4/10) lalu sepakat untuk mengajukan petisi kepada pemerintah PNG untuk merelokasi para pengungsi asal Papua yang kini bermukim di Wutung dan wilayah lain di pesisir barat Vanimo.

Pemuka masyarakat setempat mengatakan, selama masih ada pengungsi di wilayah itu, masih rawan untuk mendapat serangan dari aparat.

Terutama  untuk sekolah-sekolah dan angkutan umum diminta untuk tidak mengambil penumpang PNG yang akan berangkat ke Pasar Batas yang terletak di wilayah RI. Karena kondisi situasi normal, sekitar 100 warga PNG masuk ke wilayah Jayapura dan mengalami peningkatan pesat pada hari pasar di Distrik Skouw dekat perbatasan.(DBS/end)

Tinggalkan Balasan