PTM, Mengatasi Learning Loss

0
PTM, Mengatasi Learning Loss

Penulis: Wahyudi Sujadmiko, S.Pd

Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sebaiknya fokus pada upaya mengatasi learning loss. Learning loss dapat diartikan sebagai hilangnya kemampuan atau keterampilan peserta didik. Dalam hal ini, berkaitan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi COVID-19 melanda yang berdampak pada hilangnya kompetensi siswa secara signifikan di hampir semua jenjang pendidikan.

Learning Loss

Menurut penelitian, pandemi COVID-19 telah menghambat perkembangan kemampuan akademis peserta didik. Seorang peneliti di Amerika Serikat memperkirakan, siswa akan memulai kegiatan PTM dengan kemampuan membaca rata-rata 66% dan 44% kemampuan berhitung atau matematika di tingkat pendidikan dasar (SD).

Penelitian yang dirilis di JAMA Pediatrics, jurnal pediatri yang didirikan sejak 1911 di Amerika Serikat, menyebut bahwa learning loss bukan hanya mempengaruhi kemampuan akademik peserta didik, tapi juga berpengaruh pada kesehatan mental dan kemampuan kognitif atau keterampilan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemenbudrustek) RI juga merilis evaluasi satu tahun berlangsungnya PJJ pada bulan April 2021 lalu. Dalam catatan yang dirilis Kemendikbudristek, disebutkan sejumlah dampak negatif PJJ seperti serapan materi belajar rendah, minimnya dukungan dan pengawasan orang tua, jaringan internet buruk, fasilitas teknologi seperti gadget tak dimiliki siswa hingga meningkatnya siswa putus sekolah.

Desakan WHO dan UNICEF

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Anak-anak (UNICEF) mendesak Indonesia agar segera menyelenggarakan PTM.

Indonesia didesak kembali mengadakan pembelajaran tatap muka (PTM) setelah selama 18 bulan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi. Diberitakan Kompas.com, Selasa (21/9/2021), desakan tersebut datang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (UNICEF).

Menurut WHO, penutupan sekolah tidak hanya berdampak pada pembelajaran siswa, tetapi juga pada kesehatan dan menghambat perkembangan anak. Dampak negatif itu dikhawatirkan akan menimbulkan efek jangka panjang bagi anak, apabila PJJ terus diperpanjang.

Sementara itu, perwakilan UNICEF Debora Comini menyampaikan, sekolah bagi anak-anak lebih dari sekadar ruang kelas. Sekolah memberikan pembelajaran, persahabatan, keamanan dan lingkungan yang sehat. Menurut dia, semakin lama anak-anak tidak bersekolah, maka mereka tak lagi mendapatkan hal tersebut.

PTM Mengatasi Learning Loss

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menyebut, PTM harus dilakukan untuk mengatasi learning loss akibat PPJJ selama pandemi. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemendikbudristek Franka Makarim baru-baru ini. Dia menyatakan, pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas merupakan cara terbaik untuk mengatasi learning loss.

Hasil temuan dari studi Kesenjangan Pembelajaran yang dilakukan oleh program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak, saat ini Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa telah terjadi kehilangan pembelajaran (learning loss).

Learning loss yang dimaksud adalah hilangnya kompetensi yang telah dipelajari sebelumnya, tidak tuntasnya pembelajaran di jenjang kelas, dan efek majemuk dari tidak menguasai pembelajaran di setiap jenjang kelas

Oleh sebab itu, Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikbudristek menerbikan risalah kebijakan bulan Agustus 2021 berjudul “Pemulihan Pembelajaran: Waktunya untuk Bertindak”. Risalah kebijakan itu menyebut 5 rekomendasi tindakan berdasarkan analisis data dan inisiatif lokal di Indonesia untuk mengatasi learning loss, sebagai berikut:

  1. Pelibatan siswa dan keluarga dalam pembelajaran, serta terus menjaga keterlibatan yang berkualitas dengan semua siswa.
  2. Mengatasi kebutuhan pembelajaran inti dengan upaya jangka pendek dan menengah demi memastikan semua siswa memiliki keterampilan membaca dan berhitung yang baik agar dapat terus belajar di sekolah dan di luar sekolah, melalui peningkatan proses pengajaran serta akses ke berbagai materi pembelajaran.
  3. Membangun kapabilitas pimpinan sekolah, guru, dan infrastruktur untuk mendukung proses pelibatan, pengajaran, dan pembelajaran.
  4. Mendukung berbagai pemangku kepentingan, misalnya universitas, LSM, komunitas, dan orang tua untuk memfasilitasi pembelajaran.
  5. Memberdayakan kepemimpinan dan solusi lokal dengan mendorong dan mendukung upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah daerah, otoritas pendidikan, dan organisasi masyarakat yang sesuai konteks dan tantangan di daerah yang tentunya beragam.

Adapun upaya pendukung lainnya meliputi:

  • Penyediaan dukungan yang berbeda-beda sesuai upaya perbaikan yang dibutuhkan.
  • Pembelajaran sistemik dan penyesuaian kebijakan dengan upaya jangka menengah dan jangka panjang untuk merespon situasi
  • pandemi dan membangun sistem pendidikan yang tangguh yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran bagi semua anak.

Catatan: Artikel ditulis oleh Wahyudi Sujadmiko, S.Pd., Kepala Sekolah SD Negeri Sumbersoko 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

Komentar