Mitos dan Pamali Malam 1 Suro Menurut Budaya Jawa

0
Ilustrasi Malam Suro. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Choreograph)

5NEWS.CO.ID,- Malam 1 Suro adalah malam pertama pada bulan suro pada kalender Jawa yang bertepatan pada 1 Muharram (Tahun Baru Hijriyah) dalam kalender Islam.

Penyebutan malam Suro diadaptasi dari bahasa Arab yakni, malam Asyura.

Menurut Kementrian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI malam 1 Suro adalah awal bulan pertama Tahun Baru Jawa di bulan Suro, penanggalan ini berdasarkan kalender Jawa.

Kalender Jawa sendiri berdasarkan penggabungan antara penanggalan hijriyah atau kalender Islam, kalender masehi, dan Hindu. Kalender Jawa diciptakan pada zaman kerajaan kuno tahun 1633 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Malam 1 Suro dimulai setelah Maghrib atau ba’da Maghrib, hal itu karena kalender Jawa lebih mengacu ke seperti pada pergantian hari Hijriyah bukan Masehi.

Malam tersebut sangat sakral pada budaya Jawa. Pada adat tradisi Jawa malam 1 Suro biasanya diperingati dengan diadakannya ritual tradisi iring-iringan rombongan masyarakat yang disebut Kirab, atau tradisi lainnya sesuai daerah masing-masing. Perayaan malam 1 Suro digelar di beberapa daerah di Jawa seperti Jogja, Solo,dan lainnya.

Malam di bulan Suro pada budaya Jawa memiliki mitos-mitos dan pamalinya sebagai berikut :

1.   Keluarnya arwah-arwah leluhur dari alam kubur untuk meminta do’a dari keluarga atau kerabat leluhur. Pamalinya adalah dilarang keluar rumah jika tidak melakukan hal yang penting, biasanya saat malam 1 Suro diisi dengan kegiatan berdo’a dan merenung kepada Yang Maha Kuasa.

2.   Tidak boleh menggelar acara pernikahan, khitanan, dan sejenisnya. Karena, mitosnya dipercaya sebagai malam keluarnya para makhluk gaib yang bergentayangan.

3.   Saat melakukan tradisi seperti Kirab harus berjalan kaki dari Rumah, untuk menghargai arwah-arwah leluhur.

4.   Berendam atau mandi (Kungkum) pada tengah malam hari 1 Suro. Konon katanya jika melakukan tersebut maka energi-energi negatif akan hilang.

5.   Mencuci alat pusaka (keris).

Kegiatan tradisi-tradisi ini bertujuan agar mendapatkan berkah serta rahmat dari Yang Maha Esa dan dijauhkan dari bala atau marabahaya.

Pada perihal ini orang-orang boleh percaya atau tidak, sesuai kepercayaan masing-masing dan saling menghormati. (hus)

Komentar