Game, Cara Menyenangkan Belajar Matematika

0
Prih Lestarini, S.Pd

Penulis: Prih Lestarini, S.Pd

Matematika adalah pelajaran momok bagi siswa. Stereotip ini menjadi tantangan bagi setiap pendidik, terutama guru Taman Kanak-kanak (TK).  Mengenalkan matematika bagi anak usia dini harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Maka, permainan atau game menjadi cara efektif untuk membuat anak menyukai matematika.

Mau tidak mau anak-anak menggunakan matematika dalam kegiatannya sehari-hari. Saat bermain, anak-anak juga menggunakan hitungan. Anak- anak juga memahami bahwa uang yang digunakan untuk jajan adalah bagian dari matematika. Penguasaan kemampuan berhitung mempengaruhi keterampilan anak di jenjang pendidikan berikutnya sehingga materi pelajaran ini menjadi penting bagi jenjang awal pendidikan anak.

Manfaat Game

Melalui game, belajar matematika menjadi menyenangkan bagi usia dini, anak diharapkan. Melalui permainan, anak-anak memiliki kemampuan memahami pelajaran berhitung dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Selain itu, ketakutan anak terhadap matematika yang kerap dianggap momok juga dapat dihindari.

Game juga membantu pemahaman matematika secara alami dan menstimulasi kemampuan kognitif anak untuk belajar memecahkan masalah, berpikir logis, kritis, dan kreatif. Sisi emosional anak juga dapat dibangun dengan permainan yang melibatkan kerja grup atau kelompok, di mana anak belajar untuk percaya diri, bersabar dan belajar menaati aturan permainan.  

Materi Pokok Permainan

Ada banyak sekali jenis game matematika yang dapat digunakan sebagai media belajar matematika. Namun demikian, ada beberapa pokok materi belajar yang harus dipahami anak usia Taman Kanak-kanak.

Berdasarkan edaran yang diterbitkan Direktorat PAUD Kemdikbud Tahun 2020, permainan matematika harus memuat materi sebagai berikut:

  1. Mencocokkan

Konsep matematika yang digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang memiliki kesamaan (misalnya kesamaan desain atau warna). Mencocokkan merupakan konsep korespondensi satu-satu. Korespondensi ialah kemampuan untuk mencari dan menghubungkan sebuah benda dengan pasangannya, satu benda hanya memiliki satu pasangan.

Kemampuan mencocokkan merupakan konsep matematika paling awal yang harus di kembangkan dan merupakan bentuk dasar perkembangan dari kemampuan berpikir logis. Kegiatan mencocokkan dimulai         dengan      mengidentifikasi persamaan dan perbedaan objek/benda.

  • Klasifikasi atau Mengelompokkan

Adalah materi untuk mengelompokkan benda berdasarkan klasifikasi atau ciri-ciri tertentu. Klasifikasi adalah proses penting yang wajib dilalui untuk menguasai konsep bilangan dalam matematika. Dalam permainan biasanya anak diminta untuk mengelompokkan benda-benda berdasarkan warna, bentuk ataupun ukuran.

  • Seriasi

Seriasi adalah kemampuan untuk mengatur atau memosisikan objek berdasarkan perbedaan dan variasi. Seriasi adalah kemampuan yang lebih tinggi dari membandingkan. Seriasi merupakan kemampuan menempatkan benda-benda dalam satu urutan misalnya, dari urutan yang kecil ke yang lebih besar atau sebaliknya.

  • Geometri

Geometri merupakan konsep matematika yang berkaitan dengan pertanyaan bentuk-bentuk dan hubungan spasial. Memahami bentuk adalah dasar untuk memahami geometri. Ketika anak-anak mulai mengidentifikasi bentuk, mereka mengembangkan pemahaman awal tentang geometri. Sebagian besar anak-anak prasekolah mulai mempelajari namanama bentuk dua dimensi dasar: lingkaran, persegi, segitiga, dan persegi panjang Selain mengenal bentuk, belajar memahami hubungan spasial membantu anak-anak berbicara tentang di mana letak benda-benda itu (pemahaman ruang/ posisi). Konsep-konsep yang dapat dikenalkan diantaranya konsep atas bawah, tinggi rendah, di depan di belakang, di dalam di luar, dan di atas di bawah.

  • Pola

Pola dapat ditemukan di mana saja, dari pola yang sangat sederhana yang berulang dengan dua atau tiga elemen, hingga pola berulang dengan banyak elemen. Anak-anak mengamati pola di sekolah, di rumah, di tempat bermain dan di alam. Mereka memperhatikan pola pakaian, lagu, alam, dan bahkan rutinitas sehari-hari mereka. Pola adalah urutan yang berulang. Kemampuan mengenali pola mendukung keterampilan matematika. Ini membantu anak-anak membuat prediksi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Pola yang paling umum adalah pola ABAB: merah, kuning, merah, kuning. Pola lainnya termasuk pola AABB : merah, merah, kuning, kuning ataupun pola ABCABC : piring, sendok, gelas, piring sendok gelas. Anak-anak dapat membuat pola menggunakan warna, bentuk, ukuran atau karakteristik lain yang diulang beberapa kali.

  • Bilangan

Bilangan (angka) dan berhitung adalah bagian penting dari pemahaman konsep matematika anak. Konsep matematika awal ini membangun fondasi untuk proses matematika yang lebih kompleks di masa depan. Beberapa konsep yang perlu dikenalkan dalam mengenal angka sebagai berikut:

  1. Konsep Lebih Kurang

Mengenalkan konsep lebih-kurang kepada anak merupakan kunci awal untuk memahami konsep

penjumlahan dan pengurangan. Gunakan bendabenda konkret agar anak lebih muda mengenal konsep lebih-kurang.

  • Menghitung

Pengenalan angka pada anak usia dini diawali dengan pemahaman konsep bilangan, transisi dan lambang bilangan. Pada tahap pemahaman konsep, anak dikenalkan konsep bilangan menggunakan benda konkret, contohnya dikenalkan konsep bilangan satu dengan memegang satu buah sendok. Selanjutnya, setelah anak memahami konsep bilangan anak akan berada pada tahap transisi dari benda konkret ke lambang bilangan.

  • Grafik

Pengetahuan tentang grafik merupakan konsep matematika yang dapat dikenalkan setelah anak mampu memilih dan mengelompokkan benda. Membuat grafik merupakan cara untuk menampilkan informasi/data yang diperoleh. Misalnya, anak membuat grafik sederhana tentang baju yang dimilikinya.

  • Pengukuran

Pada tahap awal mengenalkan pengukuran pada anak, guru perlu mengenalkan konsep lebih panjang, lebih pendek, lebih ringan, lebih berat, lebih cepat, dan lebih lambat. Tahap berikutnya, anak diajak menggunakan alat ukur tidak standar, seperti langkah kaki, jengkal, dan hasta. Pada tahap lebih tinggi lagi, anak diajak menggunakan alat ukur standar seperti: jam dinding, jam tangan, penggaris, termometer, dan meteran.

Catatan:

Artikel ditulis oleh Prih lestarini ,S.Pd., NIP: 196803072008012011, guru di TK Sultan Agung 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

Komentar