Bullying Pada Anak

0
Prih Lestarini, S.Pd

Penulis: Prih Lestarini, S.Pd

Bullying merupakan segala bentuk perundungan berupa penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja dan terus menerus oleh satu orang atau kelompok yang lebih kuat terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti. Menggoda teman, mengejek, mengucilkan atau bahkan memukul, menendang dan bentuk-bentuk kekerasan fisik lainnya adalah bentuk-bentuk bullying.

Perundungan bisa dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa, tak terkecuali anak Taman Kanak-kanak (TK). Perubahan sikap adalah hal yang pertama ditunjukkan oleh anak saat mengalami bullying. Seringnya, korban perundungan tiba-tiba gelisah dan sulit untuk tenang dan fokus.

Seorang anak korban bullying biasanya tidak bicara terus terang jika dia mengalami perundungan. Namun, orang tua dan guru harus peka jika anak-anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa.

Tipe Bullying

Para ahli menggolongkan perundungan menjadi beberapa tipe. Bentuk-bentuk bullying yang sering di tengah lingkungan pergaulan anak, di antaranya adalah:

  1. Bullying Fisik

Bullying fisik adalah tindakan intimidasi yang dilakukan sebagai usaha mengontrol korban dengan kekuatan yang dimiliki pelakunya seperti menendang, memukul, meninju, menampar, mendorong dan kekerasan fisik lainnya. Biasanya, orang tua dan guru mudah mengenali jenis perundungan fisik jenis ini.

  • Bullying Verbal

Bullying verbal merupakan jenis perundungan dengan menggunakan kata-kata, pernyataan, dan sebutan atau panggilan yang menghina. Hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa intimidasi verbal berdampak serius pada korban sebab luka emosional yang cukup dalam.

  • Agresi

Agresi adalah tipe bullying yang dilakukan untuk menyabotase status sosial korban seperti mengucilkan korban atau menyebar gosip dan fitnah. Tipe perundungan ini sering luput dari perhatian guru dan orang tua.

  • Cyberbullying

Cyberbullying adalah tindakan perundungan di dunia maya dengan cara melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan menargetkan korban melalui media online. Tipe perundungan ini yang paling jarang disadari oleh orangtua dan guru.

Dampak Bullying

Baik pelaku maupun korban perundungan, sama-sama memiliki dampak yang negatif. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) merilis dampak negatif bullying pada enam aspek penting pada perkembangan anak usia dini, yaitu aspek nilai agama dan moral, koginitf, sosial emosional, bahasa, fisik motorik, dan seni.

  1. Fisik Motorik

Korban bullying dapat mengalami cedera fisik yang dapat mengganggu perkembangan fisik motoriknya. Hal ini disebabkan oleh tindakan kekerasan yang dialami oleh korban. Contoh : luka memar karena bekas cubitan atau kekerasan fisik lainnya.

  • Sosial Emosional

Korban bullying berpotensi mengalami gangguan kecemasan dan depresi yang berpengaruh pada perkembangan sosial emosionalnya seperti murung, pendiam, emosi tidak terkontrol, dan sebagainya.

Pelaku bullying juga berpotensi mengalami gangguan perkembangan sosial emosional. Sikap dan tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan membentuk perilaku negatif seperti sikap arogan, pemarah, suka melanggar aturan, hingga dijauhi lingkungan akibat sanksi sosial.

  • Kognitif

Bullying dapat menghambat perkembangan kognitif anak. Perasaan takut yang ditimbulkan bullying bisa menyebabkan anak tidak berani mengungkapkan ide dan gagasan sehingga mengganggu perkembangan kognitifnya. Selain itu, Ketidakpercayaan diri ini di masa mendatang dapat menghambat anak dalam memaksimalkan potensi kognitifnya.

  • Bahasa

Bullying dalam bentuk verbal kerap menggunakan bahasa kasar dan merendahkan sesama. Hal ini dapat berakibat pada perkembangan bahasa anak dalam jangka panjang. Contoh : terbiasa berkata kasar dan mengejek sesama.

Mengatasi Bullying

Perundungan sudah dipelajari sejak usia dini dimana otak masih sangat plastis. Masa anak-anak adalah waktu otak manusia dibentuk oleh lingkungan. Ketika otak harus beradaptasi dengan perundungan, maka enam aspek perkembangan anak juga terbentuk secara negatif.

Akibatnya, anak korban perundungan akan memusatkan perhatiannya pada pertahanan menghadapi bullying. Sementara pelakunya, cenderung bersikap agresif dan mudah melakukan kekerasan.

Sejumlah kasus tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak mengindikasikan dampak negatif bullying terhadap anak. Maka, sudah selayaknya orang tua dan guru menciptakan lingkungan yang ramah dan bebas kekerasan bagi anak-anak.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi dampak perundungan, yaitu:

  1. Ajak anak bermain dan ajarkan bagaimana merespon berbagai emosi.
  2. Tunjukkan akibat para pelaku kekerasan dan perundungan kepada anak.
  3. Gambarkan bagaimana perasaan korban perundungan kepada anak.
  4. Berikan contoh nyata akibat menolong, kerjasama, kesopanan dan menghargai orang lain.
  5. Ajarkan teknik ‘katakan, hindari, dan laporkan’ terhadap kekerasan dan bullying.

Catatan: Artikel ditulis oleh Prih lestarini ,S.Pd., NIP: 196803072008012011, guru di TK Sultan Agung 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.

Komentar