Segudang Masalah PJJ

0
Kepala Sekolah SD Negeri Sumbersoko 02 Sukolilo, Pati
Kepala Sekolah SD Negeri Sumbersoko 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, Wahyudi Sujadmiko, S.Pd. Foto dok. 5NEWS.CO.ID

Penulis: Wahyudi Sujadmiko, S.Pd

Sejak pandemi COVID-19 melanda tanah air, proses pembelajaran bergeser ke sistem pembelajaran online atau dalam jaringan (daring). Disadari maupun tidak, cara belajar ini membuat perubahan yang sangat cepat (revolusi) di dunia pendidikan. Mau tidak mau, guru maupun siswa pun beradaptasi dengan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Menyerap materi belajar melalui sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa sekolah dasar (SD) adalah sebuah masalah. Penguasaan teknologi berupa gadget, aplikasi dan alat pendukung lain juga menjadi kendala teknis. Belum lagi masalah jaringan internet, atensi siswa dan dukungan orang tua .

Masalah yang sama juga menjadi kendala di sekolah tempat penulis mengajar, yakni di SD Negeri Sumbersoko 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Namun, kendala tersebut disikapi oleh para pengajar SDN Sumbersoko 02 Sukolilo secara kreatif agar siswa mampu mengikuti proses PJJ dengan baik.

Belakangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI merilis catatan berupa temuan selama satu tahun berlangsungnya PJJ akibat pandemi COVID-19. Temuan itu disarikan dari diskusi bertajuk “Bersiap Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas” yang menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di dunia mengajar dari wilayah Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Jawa Barat, secara daring dan luring, di Bogor, (17/4/2021).

Diskusi itu mengungkap sejumlah temuan dampak negatif PJJ, antara lain:

  1. Anak didik yang tidak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik dikarenakan belum terbiasa mengikuti pembelajaran daring menggunakan aplikasi Zoom.
  2. Minimnya pengawasan dan dukungan orang tua terhadap anak.
  3. Banyak siswa yang menggunakan waktu belajar untuk bermalas malasan dan enggan mengerjakan tugas dari guru, terutama pada jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA.
  4. Jaringan internet yang buruk, terutama di daerah terluar dan tertinggal.
  5. Siswa tidak memilki HP hingga harus menggunakan gadget milik orang lain.
  6. Hubungan batin antar siswa dan siswa-guru dingin karena tidak pernah bertatap muka.
  7. Anak Putus Sekolah (APS) meningkat.

Dalam diskusi, para narasumber menyebut bahwa kesuksesan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan orang tua terhadap anaknya. Banyaknya siswa yang menggunakan waktu belajar untuk bermalas-malasan dan enggan mengerjakan tugas dari guru lebih disebabkan oleh minimnya kontrol dari orang tua. Kondisi ini banyak terjadi pada jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA.

Masalah teknis lain yang menyebabkan anak kesulitan mengikuti PJJ adalah siswa tidak punya HP, sinyal untuk internet sulit ataupun tidak stabil atau lambat. Kendala ini menjadikan dana besar yang digelontorkan Kemedikbud untuk kuota internet belum mampu menyelesaikan permasalahan PJJ.

Salah satu pembicara diskusi mengungkapkan sebuah kasus APS yang terjadi pada siswa SMA di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada kasus tersebut anak memutuskan berhenti sekolah dikarenakan keterbatasan sarana telekomunikasi pendukung PJJ.

Alhasil, PJJ menjadi sebuah tantangan, baik bagi guru ataupun siswa. Guru yang kreatif cenderung memandang permasalahan PJJ ini sebagai sebuah tantangan. Kreatifitas guru mampu mengatasi segudang permasalahan PJJ. Siapa yang paling memahami problem pendidikan di masing-masing kalau bukan guru setempat.

Catatan: Penulis adalah Kepala Sekolah SD Negeri Sumbersoko 02 Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

Komentar