Teroris, Buah Kesombongan Ideologis

0
Teroris, Buah Kesombongan Ideologis

Ideologi Wahabi yang sering disebut dengan salafi adalah sebuah aliran (sekte) dalam Islam. Aliran ini bermula dari teolog Muslim di tahun 1115 H (1703 M) yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab dari Najd (sekarang Riyadh), Arab Saudi. Terorisme atas nama Islam sering dikaitkan dengan aliran Wahabi.

Penganut aliran ini dikenal dengan ajakan kepada ideologi Tauhid yang mereka sebut sebagai tauhid murni. Gerakan dakwah wahabi juga kerap menggemakan slogan kembali kepada Al Quran dan hadis. Meski klaim ini ditolak oleh tokoh-tokoh Islam, baik dari kalangan Ahlusunah maupun Syiah.

Gerakan Wahabi 

Situs Wikipedia melansir, pendukung aliran ini percaya bahwa gerakan mereka adalah gerakan reformasi Islam untuk kembali kepada ajaran Tauhid (monoteisme) murni. Penganut aliran wahabi mengklaim bahwa ajaran ini adalah ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Al Quran dan hadis serta bersih dari segala distorsi (ketidakmurnian) seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid’ah syirik dan khurafat, 

Dakwah utama aliran ini adalah Tauhid yaitu Keesaan Allah (monoteisme). Penganutnya juga sering menyebut dirinya sebagai pengikut salaf (orang terdahulu-red). Mungkin, ini sebab penganut wahabi juga disebut dengan salafi. 

Ciri khas penganut aliran ini adalah menentang apa yang mereka sebut sebagai Thaghut, kultus individu, ziarah kubur (karena dianggap menyembah kuburan) dan praktik-praktik lain yang sudah menjadi bagian dari budaya muslim, seperti haul, tahlil, maulid dan yang lainnya. 

Sejarah Politis Wahabi

Menurut sejarawan Saudi, Abdul Aziz Qasim, yang pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada penganut ajaran Ibnu Abdul Wahab adalah Kesultanan Utsmaniyah. Dengan bantuan  Inggris, Dinasti Saud menggunakan dan menyebar luaskan paham ultrakonservatif ini di Timur Tengah.

Dinasti Saudi berasal dari Saud Muhammad bin Muqrin dari Najd, sebuah daerah yang kini disebut Diriyah yang terletak di barat laut Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Kiprah Saud bin Muqrin kemudian dilanjutkan oleh Muhammad bin Saud, yang sekarang dikenal sebagai pendiri Dinasti Saudi. Tokoh ini hidup sezaman dengan Muhammad bin Abdul Wahab, pencetus aliran wahabi. 

Kedua tokoh ini, yakni Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab berkolaborasi dan bekerja sama dalam gerakan politik dan ideologi agama. Duet kedua tokoh Jazirah Arab ini kemudian berhasil menguasai banyak wilayah di semenanjung Arab.

Dalam tulisannya di Kumparan, Anggit Pragusto Sumarsono, menyebut bahwa estafet kepemimpinan Dinasti Saudi dilanjutkan oleh putra Muhammad bin Saud bernama Abdul Azis. Di era Abdul Aziz, Kota Mekah dan Madinah, yang sebelumnya di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani, berhasil dikuasai.

Setelah pergolakan yang cukup panjang, Dinasti Saudi memutuskan bekerjasama dengan Inggris untuk melawan Turki Utsmani. Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud yang dikenal sebagai Abdul Aziz II, mendapat dukungan Inggris untuk menyerang dan menguasai Riyadh. 

Saat Perang Dunia I berlangsung pada tahun 1914-1918, Turki Utsmani menarik mundur militernya dari negeri Arab. Melalui bantuan Inggris, Dinasti Saud pun dengan mudah merebut dan menguasai wilayah-wilayah di Jazirah Arab. Pada tahun 1932 M (1351 H) Abdul Aziz II mengumumkan berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang berkuasa hingga saat ini dengan wahabi sebagai ideologi resmi kerajaan.

Penentang Wahabi

Orang pertama yang menentang aliran Wahabi adalah ayah pencetusnya sendiri, Abdul Wahhab. Sikap ayahnya juga diikuti oleh saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahab yang bernama Salman. 

Dalam bukunya, Hamadi Redissi menggambarkan Wahabi sebagai sekte pemecah belah atau firqoh. Redissi juga menyebut penganut ideologi ini sebagai Khawarij. Penulis ini juga mengutip penilaian seorang mufti abad 18, Ahmed Barakat Tandatawin, yang menamakan Wahabisme sebagai suatu bentuk kebodohan atau jahil.

Tokoh-tokoh Islam dari zaman ke zaman juga mengecam sekte Wahabi. Tak jarang, Mufti Al Azhar, Kairo-Mesir, acap kali melabeli sekte Wahabi dengan ajaran setan.

Dalam sebuah muktamar internasional yang digelar pada tahun 2016, ulama muslim sedunia mendeklarasikan bahwa Wahabi merupakan sekte sesat. Muktamar yang dihadiri oleh Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia secara resmi mengumumkan bahwa ideologi Wahabi bukan bagian dari Ahlu Sunah wal Jamaah.

Para ulama dunia Islam menyatakan bahwa sekte Wahabi telah digunakan oleh kekuatan ‘tertentu’ untuk menyulut konflik. Tokoh-tokoh umat Islam itu juga menyebut bahwa kelompok Wahabi melayani ambisi musuh umat Islam.

Wahabi dan Ideologi Teroris

Sebuah buku berjudul Syarah Kitab Muqarrar Fit Tauhid (Kurikulum Tauhid) oleh Syaifurrahman Arkhabiliy dan dipublikasikan oleh Arkhabiliy Press. Buku tersebut memuat tahapan keimanan dengan membenci, mengingkari, mengkafirkan dan memusuhi. Buku ini mengadopsi doktrin-doktrin wahabisme yang dipopulerkan oleh kerajaan Arab Saudi.

Buku itu menceritakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan, tauhid itu mesti dilakukan dengan hati, lisan dan amal.  Jika salah satu dari tiga hal ini tidak terpenuhi maka orang itu bukanlah seorang muslim dan dianggap sebagai orang kafir.

Ulama berpaham wahabi, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa generasi salaf tidak membedakan iman dan amal. Jika ada orang yang melakukan amalan kekafiran dengan anggota badan maka langsung dikafirkan. 

Syaikh Sulaiman bin Abdullah, cucu dari Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan orang bisa menjadi kafir hanya dengan salah satu sebab dari tiga hal saja tanpa harus terkumpulnya semua tiga hal tersebut. Bisa jadi dia kafir di sebabkan karena hatinya saja atau karena disebabkan amalannya saja atau karena perkataannya saja, 

Sulaiman menyebut bahwa kewajiban pertama yang harus dipelajari dan diamalkan oleh seorang hamba adalah kufur kepada Thaghut sebelum iman kepada Allah. Kufur kepada Thaghut harus didahulukan supaya orang bisa menghiasi dirinya dengan tauhid. 

Kufur kepada Thaghut dilakukan dengan meyakini dan meninggalkan batilnya segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, baik itu kaitannya dengan syirik doa, syirik qubur maupun syirik dustur (undang-undang). 

“Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir (al-maidah : 44), dalam ayat ini Allah memvonis kafir terhadap orang yang merujuk kepada hukum buatan manusia.” kata penulis buku Syarah Kitab Muqarrar Fit Tauhid.

“Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Iman itu tidak sempurna kecuali dengan memusuhi tandingan-tandingan ini yang disertai dengan kebencian yang sangat kepadanya serta disertai kebencian kepada para pelakunya, dan dengan memusuhi serta memerangi mereka. (ar-ruh : 254). Dalam Islam alasan orang kafir diperangi karena sebab kemusyrikannya atau kekafirannya,” jelas penulis buku tersebut.

“Ini adalah thaghut-thaghut di dunia ini, jika engkau memperhatikannya dan memperhatikan keadaan manusia dalam menyikapi thaghut-thaghut itu tentu engkau melihat mayoritas manusia itu berpaling dari ibadah kepada Allah beribadah kepada thaghut, dan berpaling dari berhukum kepada Allah dan Rosul-Nya kepada hukum Thaghut dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan mutaba’ah kepada Rasul-Nya kepada Thaghut dan mengikuti Thaghut. (I lam Muwaqiqin 1/50).“ bunyi kutipan dalam buku Syarah Kitab Muqarrar Fit Tauhid (Kurikulum Tauhid).

“Permusuhan lebih penting dari kebencian. Sebab, didalam permusuhan itu pasti ada kebencian, tetapi kebencian belum tentu melahirkan permusuhan.” ujarnya.

Ideologi Sombong

Penganut sekte Wahabi cenderung menganggap muslim yang melakukan praktik-praktik budaya Islam seperti ziarah kubur, haul, tahlil, maulid dan lain sebagainya sebagai musyrik. Sebuah label yang muncul akibat kesombongan ideologis.

Atas nama kemurnian Tauhid, Al Quran dan sunah Nabi Muhammad Saw, penganut Wahabi cenderung melabeli orang lain yang tak sepaham, termasuk muslim, sebagai kafir. Kesombongan ideologis, pada gilirannya akan mendorong penganutnya berperilaku ektrim hingga membunuh manusia lain dianggap legal.

Dalam kajian psikologi, kesombongan sering dikaitkan dengan gangguan mental yang disebut dengan psikosis. Psikosis adalah sebuah gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh delusi atau halusinasi.

Penderita penyakit jiwa ini tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan (realita). Tanda-tanda psikosis yang umum adalah:

  1. Gelisah, 
  2. Merasa curiga
  3. Gangguan tidur
  4. Sulit berkonsentrasi, 
  5. Gangguan berinteraksi dengan orang lain
  6. Depresi atau turunnya suasana hati
  7. Berbicara yang melantur dan tidak sesuai dengan topik
  8. Merasakan dorongan untuk bunuh diri

Jika dikaitkan dengan penyakit kejiwaan, bisa jadi masalah utama para pelaku terorisme belakangan ini adalah Psikosis yang muncul akibat ideologi yang salah. Wallahu a’lam. 

Komentar