Belajar Dari Alexander Yang Agung

0
Gambar ilustrasi.

Alexander Yang Agung dikenal sebagai pemimpin militer yang paling kuat dan penakluk dunia kuno. Sebelum ia berusia 30 tahun, dia menaklukkan kerajaan yang membentang lebih dari 3.000 mil dari Yunani ke India. Dia lahir pada tahun 356 SM di Makedonia, yang sekarang dikenal sebagai Yunani utara.

Setelah Alexander Yang Agung menaklukkan banyak kerajaan, beliau kembali ke rumah. Dalam perjalanan, ia jatuh sakit. Begitu parah sakit yang dideritanya hingga sakit itu hampir membawanya kepada kematian. Di ambang kematiannya itu beliau menyadari betapa penaklukannya, tentara yang besar, pedang yang tajam dan semua kekayaannya itu sudah tidak lagi memiliki arti di depan matanya.

Yang diinginkannya sekarang hanyalah kembali ke rumah dan bertemu ibunya sekedar mengucapkan salam perpisahan. Tetapi, beliau harus menerima kenyataan bahwa kesehatannya tidak mungkin mengizinkannya untuk mencapai tanah airnya yang jauh.

Penakluk besar itu berbaring pucat, tidak berdaya menunggu kematian yang semakin mendekat. Beliau memanggil para Jendral kepercayaannya dan berkata, “Aku akan segera meninggalkan dunia ini, aku punya tiga keinginan. Penuhilah keinginanku ini.”

Dengan air mata mengalir di pipi mereka, para Jenderal itu setuju untuk mematuhi keinginan terakhir Alexander Yang Agung.

“Keinginan pertama saya adalah bahwa, dokter saya sendiri yang harus membawa peti mati saya.”

Setelah diam sejenak beliau melanjutkan, “Kedua, saya ingin bahwa ketika peti mati saya sedang dibawa ke kuburan, jalan menuju ke kuburan akan penuh dengan emas, perak dan batu berharga yang telah saya kumpulkan dalam perbendaharaan saya.”

Raja merasa kelelahan setelah mengatakan ini. Dia istirahat satu menit dan melanjutkan, “Keinginan saya yang ketiga dan ini keinginan terakhir adalah bahwa, ketika saya dibawa dalam peti mati, biarkan kedua tangan saya ini menggantung keluar dari peti mati.”

Orang-orang yang telah berkumpul di sana bertanya-tanya pada keinginan aneh Raja. Tapi tidak seorang pun berani mempertanyakan keinginan aneh itu. Tiba-tiba majulah seorang Jenderal kesayangan Raja. Dia maju dan mencium tangan Raja lalu berkata, “Wahai Raja, kami menjamin Anda bahwa keinginan Anda semua akan terpenuhi. Tetapi beritahu kami mengapa Anda membuat keinginan aneh seperti itu?”

Alexander Yang Agung menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Saya ingin dunia tahu dari tiga pelajaran yang baru saja saya pelajari.

Pertama, saya ingin dokter saya sendiri yang membawa peti mati saya. Saya ingin dari keinginan saya ini semua orang menyadari bahwa tidak ada dokter yang benar-benar dapat menyembuhkan tubuh apapun. Mereka tidak berdaya dan tidak dapat menyelamatkan seseorang dari cengkeraman kematian. Maka janganlah orang-orang menyia-nyiakan hidup mereka.

Kedua, emas, perak dan batu berharga yang memenuhi jalan ketika peti mati saya dibawa ke kuburan, adalah untuk memberitahu semua orang bahwa tidak ada sedikitpun harta dunia akan dibawa bersama kematian yang datang pada kita. Maka hidup hanya untuk mengejar kekayaan adalah penghamburan waktu dan penyia-nyiaan saja.

Dan tentang keinginan ketiga yakni biarkan tangannya saya menggantung keluar dari peti mati, adalah agar semua orang mengetahui bahwa aku datang dengan tangan kosong ke dunia ini dan pergi meninggalkan dunia ini dengan tangan kosong pula.”

Selesai mengatakan hal itu Raja memejamkan mata dan menghembuskan nafas yang terakhirnya.

Belajar dari kisah Alexander Yang Agung, maka tidak ada alasan bagi kita untuk membiarkan segala sifat negatif seperti amarah, iri, dengki maupun serakah ada pada diri kita. Semua itu adalah sifat yang akan membuat kehidupan kita menjadi sia-sia. (Dhiya El Malik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here