Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi Jika Tidak Dilakukan Diyakini Muncul Musibah

0

Tradisi berubah jadi kerbau di Banyuwangi

5NEWS.CO.ID,- Upacara adat Kebo-keboan merupakan tradisi berubah menjadi kerbau. Namun yang dimaksud bukan kerbau sungguhan melainkan manusia yang didandani layaknya kerbau. Lengkap dengan tanduk dan lonceng dilehernya serta beraksi seperti kerbau disawah.

Tradisi ini sudah ada sejak 300 tahun silam dan dilakukan oleh suku Osing Banyuwangi, Jawa Timur.

Tujuan upacara adat berubah jadi kerbau adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang melimpah serta seluruh warga desa diberi keselamatan, kesehatan dan dijauhkan dari segala marabahaya.

Acara ini ilakukan setiap setahun sekali, tepatnya bulan Muharram atau Suro pada penanggalan Jawa. Masyarakat menyakini jika tidak dilakukan akan muncul musibah di desa mereka.

Alkisah legenda ini berasal dari Mbah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan tujuan agar bisa menyembuhkan wabah penyakit di Desa Alasmalang yang menyerang masyarakat setempat.  

Diceritakan penyakit ini tidak bisa disembuhkan dengan kekuatan manusia, bila terkena wabah ini pada malam hari, pagi harinya akan meninggal dunia. Selain itu wangsit lainnya agar para petani diminta untuk menjelma menjadi  kerbau.

Makna dari tradisi ini berkaitan dengan ajaran Hindu dan Budha. Alasannya, didalam Kitab Purono tokoh Dewi Durga digambarkan mempunyai tangan delapan. Tangan kanan berjumlah empat dengan posisi memegang cakra berapi, sara serta seekor kerbau. Melambangkan kebajikan atau kebaikan sebagai arti penguasa tanaman dan kesuburan.

Tangan kiri juga berjumlah empat , masing-masing memegang sangkha, dua pasa dan rambut asura. Melambangkan angkara murka, pembinasa asura dan menguasai berbagai penyakit menular.

Mengapa harus memilih kerbau sebagai medianya? Karena binatang ini merupakan simbol kebaikan rakyat khususnya dalam bidang pertanian. Desa yang masih menjalani tradisi ini ada 2, yakni Desa Aliyan dan Alasmalang namun penyajiannya berbeda.

Ritual di desa Aliyan masih dilakukan secara aturan adat, dimana pemainnya akan kesurupan roh leluhur yang perangainya mirip kerbau. Sedangkan di Alasmalang merupakan imitasi yang dilakukan dengan tujuan pariwisata. (sari)

Tinggalkan Balasan