Asyura, Epos Keluarga Nabi Muhammad Saw pada 10 Muharam

1
Ilustrasi Tragedi Karbala pada Hari Asyura 10 Muharam 61 H/ 10 Oktober 680 M.

Penulis: Umar Husain

Tanggal 10 Muharam merupakan hari keramat bagi banyak kalangan. Dengan beragam cara, tanggal ini sakral-kan dan diperingati sebagai tradisi oleh berbagai bangsa di muka bumi. Banyak cerita yang mengaitkan asal usul tradisi dengan kejadian pada hari yang lebih dikenal dengan hari Asyura.

Lembar sejarah menceritakan epos dari tanah Karbala, Irak pada hari Jum’at tanggal 10 Muharam 61 H atau pada tanggal 10 Oktober 680 M. Sebuah drama heroisme cucu Nabi Muhammad Saw melawan Yazid, khalifah bejat di masanya.

Sumber literal menilai sosok Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan tak layak memegang tampuk pimpinan. Singgasana Yazid merupakan warisan ayahnya Muawiyah, yang merebut tampuk pimpinan dari Hasan bin Ali bin Thalib RA, abang Sayidina Husain.

Muawiyah mengkhianati perjanjian yang dia sepakati bersama Sayidina Hasan RA untuk membentuk Dewan Syura yang akan menentukan khalifah penggantinya.

Heroisme Keluarga Nabi Muhammad Saw

Jiwa heroik menggelegak dalam diri Sayidina Husain RA. Ia menolak mentah-mentah kepemimpinan khalifah bejat seperti Yazid, seorang penggemar minuman keras dan tarian erotis. Selain itu, ia juga gemar mengenakan pakaian sutra, kain yang kaum pria dilarang memakainya dalam hukum Islam.

“Mustahil orang sepertiku membaiat orang seperti dia (Yazid),” tegas Sayidina Husain RA.

Ia pun bertolak bersama keluarga dan para sahabatnya menuju Mekkah. Kafilah Husain RA sempat melaksanakan ibadah haji di Mekkah. Namun, tepat sehari sebelum wukuf di Arafah, Sayidina Husain RA tidak melanjutkan hajinya dan memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Kufah. Sesampainya di sebuah padang tandus bernama Nainawa, kafilah keluarga Nabi Muhammad Saw itu dihadang ribuan pasukan Yazid.

Menurut Imam Suyuthi, Yazid mengirim surat kepada Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuh Sayidina Husain RA. Ubaidillah pun mengirimkan empat ribu pasukan di bawah komando Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash.

Pertempuran tak berimbang pun terjadi. Sekitar 70 orang di pihak Sayidina Husain harus berhadapan dengan ribuan pasukan bersenjata lengkap. Meski demikian, cucu baginda Nabi Saw itu tak surut dari niatnya. Ia tetap mengumandangkan penegakkan agama kakeknya.

“Jika agama kakekku tak bisa tegak kecuali dengan kematianku. Wahai pedang-pedang ambillah nyawaku,” ucapnya.

Sebelum pembantaian keluarga Nabi Muhammad Saw dimulai, Sayidina Husain RA sempat berkhotbah di hadapan pasukan musuhnya. Ia mengingatkan gerombolan pasukan itu akan haknya sebagai keluarga Rasulullah Saw. Namun pasukan yang mengaku umat kakeknya itu sudah buta dan tuli hingga tak menggubris seluruh kata-katanya. Husain pun menyadari bahwa pasukan terkutuk itu tetap bersikeras menghabisinya. Ia pun menutup khotbahnya dengan berkata:

“Tidak, aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak akan tunduk pada kehinaan dan tidak akan lari seperti budak.”.

Putra Ali itu melihat agama kakeknya diseret ke jurang kehinaan oleh Yazid bin Muawiyah. Nilai luhur Islam sedang diinjak-injak oleh keluarga pohon terkutuk dan mengembalikannya ke era pra Islam. Yazid dan ayahnya, telah mencemari agama dengan perilaku jahiliyah.

Keluarga Nabi Saw pun bertekad menjaga kehormatan agama meski harus berkorban nyawa.

Pembantaian Keluarga Nabi Muhammad Saw

Pembantaian keluarga Nabi Muhammad Saw pun terjadi. Pertempuran itu dimulai setelah pasukan Yazid memblokade sungai Eufrat, satu-satunya akses air bagi manusia di padang tandus Karbala sejak beberapa hari sebelumnya.

Hal ini mengingatkan muslimin akan strategi licik ayah Yazid, yakni Muawiyah, saat memberontak di perang Shiffin. Muawiyah juga melakukan hal yang sama dengan tujuan melemahkan pasukan lawan.

Satu per satu keluarga Nabi Muhammad Saw maju ke medan laga dalam kehausan yang mencekik. Saudara tiri Sayidina Husain bernama Abu Fadhl Abbas kehilangan nyawanya saat mencoba menerobos blokade musuh di bibir sungai Eufrat.

Putra-putra Nabi Saw itu gugur satu demi satu dibantai dalam laga yang tak dapat disebut sebagai pertempuran. Manusia terakhir dari Ahlu Kisa’, Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, akhirnya gugur setelah tubuhnya dihujani anak panah dan tombak.

Tak puas melihat jasad-jasad keluarga Nabi Saw tergeletak di bawah terik padang sahara. Pasukan barbar itu kemudian memisahkan kepala para syuhada Karbala dari tubuh mereka. 73 kepala diarak dari padang Karbala, untuk dipersembahkan kepada Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad.

Sisa keluarga Nabi Muhammad Saw yang terdiri dari wanita dan anak-anak mengiringi kepala-kepala yang ditancapkan diujung tombak dalam keadaan dirantai layaknya budak.

Prestasi Bejat Yazid bin Muawiyah di Madinah

Menurut literatur, Yazid bin Muawiyah adalah Yazid tumbuh dalam lingkungan kemewahan berkat ayahnya yang menjabat sebagai gubernur Syam (Suriah) sejak masa kekhalifahan Utsman bin Affan, khalifah ketiga.

Selain membantai dan mempermalukan keluarga Nabi Muhammad Saw, Yazid juga tercatat memerintahkan pembunuhan penduduk Madinah secara besar-besaran dalam peristiwa Harrah. Ratusan penduduk Madinah termasuk wanita dan anak-anak tewas dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 63 H/683 M itu. Rumah-rumah sahabat nabi dihancurkan, 80 orang sahabat Nabi Muhammad Saw dan 700 orang para penghafal Al-Quran tewas terbunuh, puluhan wanita hamil akibat diperkosa pasukan Muslim bin Uqbah atas perintah Yazid.

Khalifah Yazid mengirimkan 10 ribu pasukan di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah al-Murri. Terjadilah peristiwa al-Harrah. Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa menceritakan:

وما أدراك ما وقعة الحرة؟ ذكرها الحسن مرة فقال: والله ما كاد ينجو منهم أحد، قتل فيها خلق من الصحابة -رضي الله عنهم- ومن غيرهم، ونهبت المدينة، وافتض فيها ألف عذراء، فإنا لله وإنا إليه راجعون

“Apakah yang disebut peristiwa Harrah itu? Hasan al-Bashri menyebutkan: Demi Allah, hampir saja tidak ada satu pun yang selamat dari peristiwa itu. Sejumlah sahabat Rasulullah–Radhiyallaah ‘anhum–dibunuh, kota Madinah dihancurkan, seribu perawan dirusak kegadisannya, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.”

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un…

Pati, 10 Muharam 1442 H

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan