Siapakah Pemilik Rumah Saat Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Dibacakan?

1
Rumah di Jalan Pegangsaan Timu 56 Jakarta Pusat yang menjadi saksi kemerdekaan Indonesia

5NEWS.CO.ID,- Pada tanggal 17 Agustus 1945 tepatnya hari Jumat, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta.

Pembacaan tersebut dilakukan di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta Pusat, tepatnya di rumah milik Faradj bin Said bin Awadh Martak. Siapakah dia?

Faradj bin Said bin Awadh Martak atau dikenal dengan sebutan Faradj Martak adalah seorang saudagar Arab-Indonesia. Ia pemilik perusahaan MARBA dan Hotel Garuda yang ada di Yogyakarta.

Faradj banyak meninggalkan jejak bersejarah bagi bangsa Indonesia, seperti Masjid Al-Azhar yng terkenal di Kawasan Kemayoran Baru, Jakarta Selatan.

Selain itu jiwa nasionalisme yang besar mempersilahkan Bung Karno untuk tinggal di rumahnya sekaligus menghibahkan tempat tersebut demi kepentingan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari sinilah Bendera Pusaka Kebangsaan Indonesia dijahit untuk pertama kali oleh Ibu Fatmawati dan dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ia juga penolong bagi Bung Karno yang kala itu terserang sakit malaria, lalu memberikannya sejumput madu Arab yang diyakini banyak mengandung khasiat. Berkat madu tersebut Bung Karno akhirnya pulih dan segera bersiap-siap untuk membaca teks proklamasi.

Hingga Indonesia merdeka Bung Karno tidak pernah melupakan jasa-jasanya. Meskipun tidak setenar pahlawan-pahlawan nasional lainnya, namun jasa Faradj untuk negeri ini tidaklah sedikit. (sari)

1 KOMENTAR

  1. Cerita ini merupakan bagian dari upaya yang sistematis, terstruktur, daan masif dalam pembelokan sejarah demi syahwat politik kaum islamist. Dulu ada klaim bahwa Majapahit kerajaan islam, kemudian candi borobudur merupakan peninggalan nabi sulaiman. Dan yang baru heboh adalah film tentang jejak khilafah. Dan cerita ttg rumah proklamasipun diklaim sebagai milik orang arab.

    BTW, catatan sejarah masih komplit kalau rumah proklamasi tersebut sebelumnya milik Prof. Baron van Asbeck.

Tinggalkan Balasan