Multitasking, Repotnya Jadi Kyai

0
Multitasking, Repotnya Jadi Kyai

Penulis: Lintal Muna

Pondok pesantren memiliki peran penting bagi masyarakat baik di pedalaman maupun perkotaan. Salah satu fungsinya yaitu sebagai pemeliharaan tradisi Islam, reproduksi ulama, transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam. Selain itu. ponpes juga mempunyai fungsi sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, sosial, dan ekonomi.

Namun peran yang paling penting adalah pusat rehabilitas pembinaan akhlak sejak anak usia dini. Pendidikan anak tidak bisa lepas dari peran kyai baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Yang dimaksud disini kyai beneran, bukan kyai-kyai nan.

Seorang kyai bisa berperan sebagai guru mengaji yaitu dengan membimbing santri, mengajari menulis dan membaca dari yang awalnya belum bisa menjadi terampil,

Terkadang, seorang kyai juga menjalankan peran sebagai tabib. Ia melakukan terapi mengobati sakit yang diderita santrinya, bahkan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Yang dimaksdu mengobati disini adalah memperbaiki akhlak yang tercela dan mengubahnya menjadi akhlak yang terpuji. Seperti santri yang pada awalnya masih malas- malasan untuk belajar bisa berubah menjadi santri yang rajin,

Peran kyai sebagai pengasuh dan pembimbing. Maksudnya, pengasuh yang sesuai dengan hadis rasulullah: انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق yang artinya saya (Rasulullah Saw) diutus untuk menyempurnakan akhlak. Yaitu dengan cara menanamkan nilai moral serta etika bersosial baik dalam lingkungan pesantren atau masyarakat, serta memberikan hukuman kepada santri yang salah yang bertujuan untuk mendidik.

Selain itu, kyai juga berperan sebagai motivator. Ia selalu, memberi semangat santrinya dalam menuntut ilmu dan menggapai cita-cita serta mengejar impiannya. Kerap kali kyai memberikan pemahaman bahwa menuntut ilmu itu tanpa ada batasan umur seperti hadits nabi:  اطلبوا العلم من المهد الی اللحد artinya carilah ilmu dari buaian sampai liang lahad/ kubur.

Kyai juga berperan sebagai orang tua kedua yang memberikan kasih sayang tanpa batas dan pamrih, tanpa mengenal waktu mulai dari pagi sampai petang, tanpa mengenal lelah baik dari sisi kebutuhan jasmani dan rohani.

Tidak cukup sebatas menjalankan peran diatas saja, sepanjang hidup dalam pengabdiannya, kyai juga senantiasa berdoa memohon kepada Zat Yang Maha Kuasa agar apa yang telah dia dilakukan atau disampaikan kepada santrinya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan