Kaderisasi Generasi ‘Khoiro Ummah’ di Tengah Pandemi COVID-19

0
Santri saat kirab Hari Santri. Foto Dok. Pendim 0718/Pati

Panulis : Dr. Ahmad Qosim, S.K.M., M.T.

COVID 19, seakan-akan menjadi hantu bagi semua kalangan masyarakat terutama pemerintah, kegiatan ekonomi seakan lumpuh, kegiatan kaderisasi bangsa terancam ditengah pandemi ini. Kiasan dan ramalan juga turut meramaikan bursa pemberitaan yang tiada batas.

Kaderisasi generasi emas anak bangsa yang diharapkan mampu membawa garuda terbang tinggi menjadi negara maju seakan terhempas dan lebih menyedihkan karena terkontaminasi berita hoax yang membuat sebagain generasi ini dalam titik kritis pertumbuhan yang memerlukan pendampingan.

Oleh sebab itu diperlukan upaya dari lembaga pendidikan baik formal maupun non formal agar generasi ini tumbuh menjadi generasi ‘khoiro ummah’ dan memegang kedaulatan bangsa yang kuat dan maju.

Pondok pesanten di sepanjang sejarah negeri ini telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin formal maupun non-formal yang mampu menyatukan bangsa dan menjadi tauladan hingga ke level internasional. Akankah kaderisasi pesantren berhenti di tengah pandemi COVID-19???

Bangkit dan melaksanakan aktifitas normal pesantren merupakan kebutuhan yang harus segera dipersiapkan, dengan relaksasi PSBB dan New Normal merupakan momentum terbaik untuk melakukan aktifitas pesantren mengingat pendidikan pesantren memiliki pakem tersendiri dalam proses pembelajaran atau nyantri yaitu “muwajjahah” dengan sang guru.

Tantangan terbesar di kalangan pesantren adalah dari segi sarana dan prasarana karena secara tradisi santri akan lebih seru jika hidup dalam keprihatinan dan keterbatasan sebagai lambang ‘tirakat’ yang akan membekas dalam proses pembentukan mental kesederhanaan dan kesahajaan dalam hidup yang sesungguhnya di tengah masyarakat.

Tatanan new normal dengan protokol kesehatan merupakan tantangan tersendiri dalam pesantren yang diharuskan semua mampu melaksanakan protokol tersebut. Maka langkah-langkah yang diperlukan untuk membuka pusat kaderisasi generasi emas anak bangsa ‘pesantren’ adalah;

  1. Menyiapkan sarana cuci tangan pakai sabun dengan rasio 1 : 25 santri . mencuci tangan pakai sabun merupakan langkah intervensi yang sangat baik untuk mencegak COVID 19.
  2. Menyiapkan ruang POSKESTREN, pos kesehatan pondok pesantren merupakan upaya terpadu dari pesantren untuk adopsi perilaku hidup bersih dan sehatn yang diperlukan untuk kewaspadaan dini terhadap kesehatan santri, karantina jika terdapat santri yang kurang sehat dan juga pertolongan pertama kesehatan santri serta sebagai pengawas pergerakan santri dalam aktifitas kesehariannya.
  3. Menyipakan kamar mandi yang bersih dan sehat dengan rasio 1:25 santri dan terhindar dari genangan air dan kolam air yang digunakan bersama-sama oleh santri
  4. Menyiapkan  kamar tidur sesui protokol kesehatan dengan ruang gerak minimal jarak 1 meter per santri
  5. Membuat alur santri masuk dan keluar terpisah
  6. Menyipakan dapur yang tersetandar dari segi luasan dan juga sirkulasi udara yang sehat

Melihat segi persipan memang akan terasa berat bagi beberapa pondok pesantren, terutama hunian atau daya tampung karena selama ini para ulama’ sudah terbiasa dan jangan sampai menolak santri, dan juga wali santri yang seringkali memaksa agar anaknya dapat nyantri di pondok pesantren, maka langkah antisipasi di masa pandemi ini adalah membatasi jumlah santri yang menginap.

Permasalahan-permasalah tersebut sudah saatnya pemerintah membuka mata bahwa realitas kaderisasi anak bangsa ini besar sekali di pondok pesantren, maka perimbangan anggaran pendidikan harus saatnya direformasi total agar anggaran dapat memiliki manfaat yang lebih daripada saat ini.

COVID 19 merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua mulai dari perilaku hidup sehari-hari sampai sistem anggaran pemerintahan. Arah pembangunan yang berkelanjutan memberikan makna bahwa pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi prioritas utama dalam menyiapkan kemajuan bangsa.

Stimulus buat dunia industri patut diapresiasi tetapi akan lebih baik jika stimulus tersebut diarahkan ke pondok pesantren yang merupakan aset kaderisasi bangsa dengan biaya mandiri yang secara ekonomi akan menggerakan ekonomi mikro di sekitar pesantren, sedangkan industri selama ini sudah menjadi anak emas pembangunan dengan fasilitas perbankan dan juga stimulus yang diberikan pemerintah.

Maju terus pesantrenku sebagai kawah candradimuka calon pemimpin bangsa menuju bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Catatan:

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Pati.

Tinggalkan Balasan