Persamaan Peran dan Fungsi Wartawan dengan Perawi Hadis

0
Persamaan Peran dan Fungsi Wartawan dengan Perawi Hadis

Penulis: Lintal Muna

Wartawan atau jurnalis adalah orang yang melakukan kegiatan jurnalistik secara teratur baik itu berita atau laporan, dan dimuat di media masa. Laporan ini dipublikasikan di media masa seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi dan media lain berbasis online.

Obyektifitas wartawan menjadi sebuah nilai (value) yang menentukan saat menulis laporan berdasarkan fakta dan nara sumbernya. Oleh sebab itu, sebuah berita/laporan di media massa dinilai obyektif jika si pembuat laporan tidak mencampurkan pandangan dari sudut tertentu (opini) dan semata-mata melayani kepentingan publik.

Di sisi lain, perawi adalah orang yang meriwayatkan sebuah hadis. Seorang periwayat hadis adalah orang yang menyampaikan suatu informasi sebagaimana adanya. Perawi dianggap terpercaya (tsidat) jika ia berkarakter jujur dan obyektif. Menurut literasi, penilaian itu dilihat dari karya tulis sang perawi.

Kedua profesi ini, baik wartawan maupun perawi sama-sama memiliki nilai standar yang membedakan mereka dengan profesi lain. Keduanya sama-sama dinilai dengan standar yang sama karena fungsinya, yaitu sebagai penyampai informasi kepada publik.

Ulama berbeda pendapat  dalam hal asal usul kata حدیث

– ada yang berpendapat bahwa: kata حدیث berasal dari kata المحادثه yang artinya percakapan.

– ada yang berpendapat bahwa: kata حدیث berasal dari kata الحدوث yang artinya berlaku atau terjadi.

– ada yang berpendapat bahwa: kata حدیث berasal dari kata الحداثه yang artinya sesuatu yang baru.

– ada yang berpendapat bahwa: kata حدیث yang artinya الحدث yang artinya pekerjaan atau perbuatan.

Secara terminologi atau arti secara lughot (bahasa), حدیث dapat diartikan dengan perkataan, perbuatan, tingkah laku serta ketetapan Nabi Muhammad SAW, الحدیث هو اقواله وافعاله واحواله وتقریراته صعلم.

Jika perawi menceritakan perkataan, perbuatan, tingkah laku serta ketetapan Nabi Muhammad Saw, wartawan juga menyampaikan informasi dari narasumber sekaitan dengan berita yang dilaporkannya. Terdapat kesamaan peran dan fungsi antara wartawan dan perawi hadis.

Selama wartawan berpedoman dengan kode etik jurnalistik, karyanya akan dianggap valid dan terpercaya. Sedangkan perawi hadis yang jujur, adil, memiliki kecerdasan intelektual, mampu menjaga kehormatan dirinya (wira’i) dan objektif, juga akan dinilai sebagai perawi yang terpercaya.

Tinggalkan Balasan