Kupat, Lepet dan Sunan Kalijaga

0
Kupat, Lepet dan Sunan Kalijaga

Penulis: Jindanah

Di beberapa daerah khususnya di jawa tengah terdapat tradisi merayakan kembali hari Raya yang kerap di sebut sebagai kupatan atau syawalan.

Kupatan atau syawalan dilakukan seminggu setelah lebaran Idul Fitri. Perayaan ini seringkali diwarnai dengan silaturahmi ke tetangga atau kerabat terdekat, tak ketinggalan kegiatan ini dibarengi dengan jamuan makan bersama.

Seperti di kota pati misalnya, salah satu makanan yang wajib saat perayaan tradisi kupatan adalah ketupat dan lepet. Lepet memiliki rasa gurih karena terbuat dari ketan dan kelapa bertekstur lengket dan liat. Keduanya, dalam proses pembuatnya menggunakan janur.

Konon, Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat jawa tentang filosofi ketupat. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali bakda, yaitu bakda lebaran dan bakda kupatan.

Dalam filosofi jawa, ketupat bermakna ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Tradisi sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati dan saling memaafkan.

Laku papat bermakna 4 tindakan

1. Lebaran ( menandakan berakhirnya lebaran )

2. Luberan ( meluber/ melimpah yg bermakna zakat fitrah )

3. Leburan ( saling memafkan satu sama lain )

4. Laburan ( dari kata labur dengan kapur yang bermakna supaya manusia menjaga kesucian lahir dan bathin )

Sedangkan janur diambil dari bahasa Arab “Ja’a Nur” (telah datang cahaya).

Bentuk fisik ketupat yang segi empat ibarat hati manusia. Selama orang mengakui kesalahannya maka hatinya putih bersih seperti ketupat yang di belah. Hati tanpa rasa iri dengki, karena hatinya sudah terbungkus oleh cahaya (ja’a nur).

Lepet, silep kang rapet, kita kubur dan tutup yang rapat. Setelah mengakui kesalahan dengan meminta maaf, tidak terulang kembali kesalahan itu maka persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dan lepet.

Kita semakin mengetahui betapa besar peran para Wali Sanga memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat waktu itu yang tidak faham bahasa Arab. Inilah cara dakwah yang mengajak, tanpa harap menginjak pemahaman masyarakat.

Tinggalkan Balasan