Menyikapi Media Sosial dengan Ramah

0

Penulis: Catur Kristiyani

Seiring dengan zaman yang serba modern ini, banyak dijumpai nyinyiran, hinaan, cacian, serta makian beredar di mana-mana khususnya di media sosial. Padahal konsekuensi dari perbuatan itu akan didapati konflik panjang antara pelaku dan korban. Bahkan ghibah yang sudah jelas-jelas dilarang agama, malah sudah menjadi tradisi pameran di media sosial.

Mbokya kalau mau menasihati itu langsung di depan orangnya jangan bidik dari belakang. Zaman sudah maju tapi masih ada yang tidak bisa menggali inovasi positif seiring dengan kemajuan zaman. Padahal kalau dipikir-pikir, orang dulu hidupnya lumayan susah karena untuk makan saja harus mencampuri nasi dengan ketela. Tapi mereka hidup nyaman karena tidak disuguhi konflik-konflik yang lumayan panjang. Konflik orang dulu dengan sekarang jauh berbeda.

Kita bisa membuka kembali histori zaman dulu dengan sekarang. Kalau dulu manusia saling memanusiakan manusia walaupun banyak penjajah dari luar. Tapi anehnya zaman sekarang banyak pihak dari dalam menyerang kawan sendiri bagaikan gudel mangan kebo, lebih-lebih di media sosial.

Bangsa kita sudah tidak asing lagi dengan adanya ghibah yang beredar di media sosial. Mulai meng-ghibah-kan tokoh politik, tokoh ekonomi, bahkan tokoh agama sekalipun. Fenomena seperti itu membuat para pendukung korban semakin membenci pelaku dan klimaks pun tak bisa dihindari. Hingga akhirnya muncul perpecahan sesama saudara. Hal tersebut terjadi akibat kurang cerdasnya seseorang dalam menggunakan media sosial.

Bahaya ghibah secara langsung sudah termaktub dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 12 Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Ghibah didefinisikan sebagai menggunjing orang lain. Diibaratkan sebagai manusia yang memakan daging bangkai saudaranya yang sudah mati. Lalu, apakah mereka yang hobby ghibah di media sosial tak ingat akan ayat di atas? Sehingga tak segan-segan seseorang mampu membuat problem yang menimbulkan kemerosotan akhlaq-akhlaq yang baik.

Jika sudah terjadi fenomena semacam itu, bagaimana hal yang sepatutnya kita lakukan sebagai seorang muslim? Pertama, mempertimbangkan baik dan buruknya saat hendak berbicara. Karena hati seseorang akan terasa sakit bila tertimpa suatu kata yang sangat melukai hati. Kedua, percaya diri agar tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Karena di zaman sekarang banyak konflik yang terjadi sebab terpengaruh oleh perkataan orang lain yang kebenarannya masih sangat dipertanyakan. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam hendaknya mampu membentengi diri dari hal-hal semacam itu.

Ketiga, menjauhi sifat hasad. Perlu diketahui bahwa hasad tidak boleh dilakukan kecuali dua hal. Apa itu? Yakni, orang yang dianugerahi ilmu dan harta oleh Allah, lalu digunakannya untuk membela kebenaran, dan orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah lalu dengan ilmu itu ia gunakan untuk memutuskan suatu perkara, dan ia mengajarkannya kepada orang lain.

Di zaman modern seperti sekarang hendaknya tiap-tiap jiwa mampu membentengi diri dengan tidak menuliskan hal negatif di dalam media sosial. Facebook yang sudah dikenal di berbagai negara, sekarang banyak terisi oleh berita hoax, berita ambigu, dan berita yang belum pasti kebenarannya.

WhatsApp yang terkenal sebagai media untuk mengirim pesan singkat dan untuk mengeratkan ukhuwah lewat grup, sekarang ada yang masih mampu men-share informasi yang berisi cacian, makian, adu domba, perpecahan, serta intervensi dengan pihak lain. Padahal semua yang dikerjakan manusia di dunia, kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kalian semua adalah pemimpin, dan akan mempertanggungjawabkan yang dipimpinnya….” (Mutafaqun ‘Alaih).

Jika seorang muslim sudah mengetahui bahwa semua hal akan dipertanggungjawabkan, maka setidaknya harus berusaha untuk menggunakan media secara bijak, berpikir jernih, dan ramah. Jika bangsa kita telah mengimplementasikan kebijakan yang bagus, maka Insya Allah akan tercipta negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur.

Mari, kita rapatkan barisan, jalin ukhuwah dengan sehat dan jangan sampai berpecah belah. Kita hidup di Indonesia dengan berbagai ragam suku, budaya, serta bahasa. Tapi harus saling tasamuh antara satu dan lainnya. Jadikan perbedaan sebagai ajang untuk berkompetisi dalam kebaikan bukan untuk melawan pihak lain.

Catatan:

Penulis merupakan seorang mahasiswa STAI Pati yang aktif di beberapa organisasi ekstra dan intra kampus. Selain koordinator riset dan diskusi LPM Terma, penulis juga seorang aktivis Nasyiatul Aisyiyah, sebuah Ormas Muhammadiyah.

Komentar