Mengenal Fenomena “Corona Shock”

0
Pejalan kaki menggunakan masker saat melintas di Jalan Pemuda, Padang, Sumbar, Rabu (26/2). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

5NEWS.CO.ID, – Pengalaman saya memakai masker 24 jam selama 40 hari pada saat naik haji terasa sangat tidak nyaman. Betapa tidak? Karena selain ribet, napas juga menjadi terbelenggu. Sepertinya oksigen yang terhirup menjadi berkurang. Padahal pada saat itu hanya virus flu biasa yang dihindari, karena bertemu dengan jamaah haji lain dari seluruh penjuru dunia. Penularan virus ‘flu Arab Saudi’ sangat cepat dan kuat, menyebabkan suara hilang, diikuti batuk ngikris. Bahkan hingga 1-2 minggu setiba di Indonesia, batuk pilek “kenangan” tersebut belum reda.

Saat ini, terjadi sebuah fenomena yang belum pernah ada sebelumnya, sebuah virus bisa memporakporandakan hubungan sosial, tatanan ekonomi, kesehatan masyarakat, hukum, politik, tata peribadatan (agama), transportasi, pariwisata, kuliner, konsumsi, perhotelan, tenaga kerja, dan berbagai bidang lainnya yang bersifat global.

Luar biasa memang. Karena dampaknya bisa menggoncang dunia. Kini, fenomena masyarakat dalam membentuk framing proteksi diri menjadi semakin mencolok. Fenomena rasa saling curiga antarmanusia yang berpapasan, bertemu, atau hidup bersama menjadi semakin nyata. Pola pemikiran deduksi dari anggapan umum yang masuk di dalam diri setiap individu menjadi sebuah konstruksi berpikir individu untuk menjaga diri agar terproteksi, tidak tertular oleh virus tersebut.

Logika verifikasi tidak lagi dapat berjalan dengan semestinya, karena hasil diagnosis dari masing-masing individu bersifat saling tertutup. Yang ada hanya logika intuisi atas praduga yang tidak pasti. Objektivasi atas tindakan individu yang satu menjadi praduga buruk bagi individu lainnya, sehingga proses resiprokal saling menuduh menjadi bersinklitis terus menerus tanpa henti.

Fenomena kebatinan masyarakat menjadi hampa, apalagi kalau penyebaran virus tersebut terus melebar. Kebatinan masyarakat yang tadinya dalam suasana yang kondusif dan akrab menjadi semakin individualistik. Komunikasi verbal banyak yang tertahan oleh masker sehingga berubah menjadi komunikasi non-verbal atau dengan menggunakan bahasa isyarat. Akhirnya, proses interaksi simbolik menjadi semakin populer karena sering digunakan oleh semua orang yang bermasker.

Fenomena kekeluargaan menjadi sangat renggang. Antaranggota keluarga menjadi tidak bisa bersatu secara sempurna. Alangkah naifnya, ketika suami-istri tidak lagi bisa tidur dalam satu ranjang yang sama, atau meskipun satu ranjang, masing-masing berubah menjadi sama-sama pendiam, karena malas berbicara. Dampak yang lebih ngeri lagi, antaranggota keluarga menjadi saling memproteksi diri, karena historis persinggungan dengan orang lain saat di luar rumah saling berbeda. Semua anggota keluarga berpotensi menularkan virus yang dibawa dari luar rumah kepada anggota keluarga lainnya.

Kunjungan ke tempat saudara, teman, kolega, dan relasi menjadi berkurang. Kegiatan menengok orang sakit baik saat di rumah di rumah sakit maupun di rumah pribadi menjadi kegiatan yang dilarang, yang sebelumnya menurut agama dianjurkan karena akan mendapatkan pahala bagi yang mengunjungi, dan menghibur si sakit karena didoakan oleh orang yang mengunjungi.

Fenomena peribadatan di negara terdampak menjadi sepi jamaah. Jumlah jamaah di tempat ibadah taraf dunia seperti di Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekah menjadi berkurang seiring dengan moratorium ibadah umroh dan perjalanan wisata rohani di dua kota suci tersebut. Tidak terbayangkan apabila dampak penyebaran virus tersebut terus berlangsung, bisa jadi masjid, gereja, klenteng, wihara, pura, dan tempat-tempat ibadah lainnya di seluruh negara menjadi semakin sepi jamaah. Pengajian umum pun akan menjadi semakin dibatasi.

Fenomena tempat pendidikan sudah banyak yang menerapkan online model. Sekolah-sekolah dan kampus sudah banyak yang diliburkan dan murid/mahasiswa harus belajar secara online dari rumah masing-masing. Ke depan bila virus tersebut belum dapat dikendalikan, tidak ada lagi sekolah memanggil orangtua untuk mengambil rapor atau rapat komite sekolah. Wisuda tidak boleh dilakukan oleh kampus. Fenomena acara ilmiah sudah banyak yang dijadwalkan ulang.

Kegiatan seperti diskusi, seminar, simposium, konferensi, dan pertemuan internasional lainnya sementara ditunda. Pengukuhan guru besar pun ketika virus tersebut menjadi semakin ganas, maka tidak boleh dihadiri oleh para kolega, sahabat, dan handai tolan.

Fenomena pertandingan olahraga pun saat ini sudah banyak yang digelar tanpa penonton. Olahraga dibatasi pada olahraga yang tidak bersentuhan langsung dengan sesama pemain. Perlombaan dengan ribuan penonton menjadi sepi. Pesta olahraga tingkat dunia pun pelaksanaannya diundur hingga penyebaran virus mereda. Banyak sudah kolam renang yang tidak boleh lagi digunakan untuk umum.

Fenomena tempat perbelanjaan lesu. Swalayan dan pasar tradisional menjadi semakin sepi, berganti menjadi perdagangan online (ecommerce) tanpa bertemu pengantar. Naik transportasi umum seperti kereta, bus, taksi online, ojek online tidak ada yang berani karena bisa kontak langsung dengan orang yang terkena virus mematikan tersebut. Jasa ekspedisi menjadi sepi karena daya beli masyarakat menurun. Semoga saja tidak ada peristiwa panic buyer baik terhadap masker maupun kebutuhan lainnya.

Fenomena kepariwisataan ketika penyebaran virus tersebut tidak bisa ditangani dengan baik akan menjadi lunglai. Pramugari dan pilot tidak ada yang terbang, petugas bandara tidak bekerja karena tidak ada pelancong. Pegawai hotel dirumahkan karena hotel tidak berpenghuni. Pekerja seni menganggur karena tidak ada turis yang menonton. Pegawai tempat wisata diliburkan. Pegawai restoran diliburkan. Seluruh supir transportasi berhenti bekerja. Pedagang barang cendera mata tidak bekerja.

Semua SDM di bidang pariwisata menganggur total. Ekspor barang kerajinan berhenti. Akibatnya pengangguran menjadi merajalela. Suatu hal yang sangat menyeramkan. Orang tidak lagi bisa “mencuci mata” berjalan-jalan mencari hiburan. Fenomena berjemur di pantai menjadi sepi. Tempat karaoke, dugem, dan disko menjadi sepi pengunjung. Gedung bioskop menjadi sepi karena tidak ada lagi yang mau menonton. Trotoar sepi dari pejalan kaki. Fenomena tempat hiburan menjadi lesu. Perhelatan akbar, konser, dan pertunjukan lainnya nyaris ditiadakan, seiring dengan larangan berkumpul bersama dalam satu tempat.

Acara wedding bisa jadi tanpa hadirin. Yang benar saja, pesta tanpa hadirin! Iya, tentu bisa saja terjadi, manakala penyebaran virus tersebut belum bisa dikendalikan. Suatu pesta menjadi sangat menyedihkan, ketika acara tersebut digelar tanpa ada hadirin yang datang memenuhi undangan. Tetamu yang diundang tidak ada lagi yang berani datang, dan memilih mentransfer uang “sumbangan”-nya ke nomer rekening mempelai.

Pernikahan di gereja hanya dihadiri 6-10 orang, dan semuanya memakai masker. Hemat memang, karena tidak perlu menyiapkan makanan dan minuman mewah. Apalagi menyiapkan gedung pertemuan. Semuanya tidak diperlukan lagi. Gedung pertemuan untuk penyelenggaraan pesta pun menjadi tidak ada yang mem-booking karena tidak ada yang berani menggelar hajatan besar. Acara ulang tahun hanya mendapat bunga, kue ultah, dan lagu dalam bentuk emoji melalui WhatsApp.

Fenomena acara keluarga menjadi sangat dibatasi. Arisan keluarga, reuni, pertemuan anggota grup WA, pertemuan trah akan dibatasi juga. Yang lebih mengerikan lagi, ketika kegiatan halal-bihalal, saling berkunjung di hari raya menjadi semakin sepi. Bahkan melayat orang yang meninggal pun tidak diizinkan dalam jumlah besar. Tidak ada lagi jamuan untuk para tetamu keluarga.

Fenomena kerja di sawah, di kebun, dan di hutan tidak boleh lagi ada gotong royong, bersama-sama dalam mengerjakan pekerjaan berat. Semua pekerjaan proyek harus dikerjakan dalam jumlah terbatas. Proyek padat karya harus berubah menjadi padat modal. Seandainya pun ada kerja padat karya semuanya harus memakai masker standar yang membuat gerak kerja menjadi terbatas tidak sebebas tanpa masker.

Rumah sakit menjadi ramai pasien. Rumah sakit yang selama ini tidak laku menjadi ramai pasien,karena banyaknya pasien yang tidak tertampung di rumah sakit yang favorit. Apotek dengan layanan antarobat sampai tujuan menjadi semakin ramai. Permintaan masker menjadi melonjak berpuluh-puluh kali termasuk harganya.

Fenomena yang diharapkan ke depan, ketika benar-benar ancaman corona telah nyata di lingkungan kita —semoga saja tidak terjadi— maka perlu dibuka layanan hotline 24 jam yang siap untuk membantu dan menangani semua keluhan masyarakat. Masyarakat yang mengecek kondisi kesehatan hendaknya digratiskan. Bahkan ketika mereka berobat karena terpapar virus tersebut hendaknya dapat dibayar keseluruhannya oleh negara.

Kebijakan publik yang diambil oleh negara hendaknya tidak hanya berhenti pada observasi terhadap warga negara Indonesia yang bersinggungan langsung dengan “fenomena mengerikan” tersebut yang sudah dilakukan di Natuna dan Sebubu Kecil, tetapi dapat dilanjutkan kepada semua warga negara yang ingin mengecek atau mengontrol kesehatan dirinya karena adanya indikasi atau gejala-gejala yang dicurigai terpapar virus tersebut.

Kebijakan publik itu harus ditempuh oleh negara manakala kondisi darurat membutuhkan penanganan secara cepat, sesuai dengan standar operasional prosedur kesehatan, sehingga dapat menghentikan menyebarnya virus tersebut. Dengan satu harapan, semoga saja virus mengerikan tersebut tidak menyebar di Indonesia. Semoga!!

Oleh: Dr. Basrowi (alumni S3 Sosiologi Unair)

Tinggalkan Balasan